BADIK DAN LAKI-LAKI BUGIS

BADIK DAN LAKI-LAKI BUGIS

Badi' (baca : badik) telah menjadi identitas bagi laki-laki Bugis. Hal tersebut, setidaknya tergambar dari falsafah yang mengatakan bahwa "bukanlah laki-laki (sejati) yang tidak memiliki badi'".

Badi' seringkali digambarkan sebagai simbol keberanian seorang laki-laki bugis. Falsafah "tellu cappa'" menggambarkan hal ini. Tellu cappa' (tiga ujung) menekankan bahwa untuk sukses, seorang laki-laki bugis harus bisa mengoptimalkan tiga ujung : 1) cappa lila (ujung lidah/kemampuan berkomunikasi), 2) Cappa' laso (ujung kemaluan/kecermatan memilih pasangan), dan 3) Cappa' Kawali (ujung badi'/memiliki keberanian.

Bagi saya, selain falsafah di atas, badi'/kawali adalah cara saya untuk memastikan keberlanjutan dan kesinambungan sejarah keluarga. Dengan badi', hubungan dengan leluhur seolah tersambung kembali dengan segala dinamika dan tantangan sesuai zamannya.

***

Suatu waktu -setelah menyelesaikan liburan sekolah- tibalah waktunya saya harus kembali ke Jawa. Seperti lazimnya ibu-ibu, di malam menjelang keberangkatan, ibu hampir tidak bisa melelapkan mata. Berbagai bekal dibuat dan dipersiapkannya untuk saya bawa. Bekal-bekal tersebut disimpan dan disusunnya di dalam tas yang biasa saya bawa. Selebihnya, khususnya makanan dan lauk pauk, dimasukkan ke dalam kardus lalu diikat rapih. Menjelang pagi, barang-barang itu telah tersusun dan tertata di ruang tengah.

Eetta alias ayah (Etta atau Petta adalah gelar yang biasa disematkan pada bangsawan Bugis yang telah menikah), sendiri tidak kelihatan batang hidungnya. Entah ke mana, saya juga tidak tahu. Terselip rasa kecewa di dalam hati. Kekecewaan itu ku bawa hingga menjelang fajar.

Setelah sholat subuh, saya mendengar suara pintu dibuka. Sebelumnya, dari luar rumah sempat terdengar suara kendi dibuka tutup, lalu sayup suara air ditumpahkan dari timba yang terbuat dari batok kelapa. Dalam tradisi budaya bugis tradisional, hampir setiap rumah dilengkapi kendi yang terbuat dari tanah liat. Kendi itu diletakkan di samping tangga dan diisi air. Air tersebut digunakan untuk mencuci kaki sebelum seseorang masuk atau naik ke rumah yang yang umumnya berbentuk panggung.

Etta tiba-tiba memanggil. "Emmang, sini ki' nak," seru ayah menyebut nama panggilanku. Saya langsung menuju ke sumber suara yang terletak di ruang tamu. Etta lalu meminta saya duduk di atas kursi kayu yang ada di hadapannya. Sambil basa basi menanyakan kapan saya akan berangkat, Etta perlahan mengeluarkan sesuatu dari balik jaket lusuhnya. Sebuah benda yang terbungkus dengan lilitan kain hitam, tampak ditarik keluar. Panjangnya sejengkal tangan orang dewasa. Lilitan kain tersebut kemudian diputar perlahan untuk menyingkap benda yang ada di baliknya.

Saya melihat sebuah badi' (kawali dalam bahasa Bugis) yang masih tersimpan dalam sarungnya yang juga antik. Etta mengangkat badi' yang masih berada dalam sarungnya tersebut lalu menciumnya. Setelah itu, perlahan badi' ditarik keluar dan dipisahkan dari sarungnya. Kembali ayah mendekatkan bilah (besi) badi' yang telah terhunus tersebut ke wajahnya, lalu menciumnya.

Etta mulai berbicara tentang asal muasal badi' tersebut. Menurutnya, badi' tersebut diperolehnya dari seorang keluarga dekat. Badi' tersebut merupakan salah satu badi' warisan dari sang kakek. Karena itu, Etta sangat hati-hati merawat badi' tersebut.

Dalam kesehariannya, Etta sendiri tidak pernah lepas dari senjata tajam. Selain pedang panjang yang selalu dipegangnya, di pinggangnya juga selalu terselip Badi' yang ukurannya berbeda-beda. Jika berjalan di sekitar desa, ukuran Badi' yang dibawanya lebih besar dan lebih panjang. Tonjolan Badi' tersebut biasanya dengan mudah dapat dilihat dari balik pakaiannya. Bila Etta ke kota, atau ke luar dari wilayah desa, ukuran Badi' yang dibawanya lebih kecil. Saking kecilnya, seringkali sulit terdeteksi kecuali diamati secara teliti.

Etta termasuk tokoh yang disegani di desa. Dia seolah mendapat keistimewaan untuk dapat membawa senjata tajam kemana pun dia pergi. Seringkali, jika ada masalah gangguan keamanan di desa, Ettalah diminta pendapat atau bahkan menyelesaikannya. Konon, beberapa orang rampok pernah tewas di ujung badi'nya. Tapi Etta selalu bisa lolos dari jeratan hukum berat. Kalaupun dihukum penjara, paling dijalaninya beberapa malam lalu dilepas lagi.

Saya tidak mengerti apa sejatinya kedudukannya dalam struktur pemerintahan di desa, tapi yang saya tau, Etta tidak memiliki pendidikan formal. Konon karena kenakalannya pada saat masih kecil, tidak ada sekolah yang mau menerima dan menampungnya.

***

Menurut Etta, beberapa kolektor senjata tajam pernah menawar untuk membeli badi' itu dengan harga yang cukup menggiurkan, namun tidak dilepas. Beberapa kali juga ditawar untuk dibarter dengan barang berharga oleh keluarga dekat, tapi Etta juga tidak bergeming. Menurut ayah, nilai sejarah dan nilai intrinsik dari badik tersebut tidak dapat ditukar dengan apapun.

Etta tiba-tiba menyerahkan badi' tersebut bersama sarungnya kepadaku. "Ini ambillah nak, badi' ini sekarang menjadi milikmu," sambil mengulurkan badi yang telah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya (wanuwa) kepadaku. "Jaga dan jangan sampai engkau terpisah darinya", tambahnya.

Dengan ekspresi kaget, saya mengulurkan tangan ke arahnya untuk menerima pemberian itu. Agak gemetar mendengar betapa berharganya benda pusaka itu bagi Etta. Saya melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan ayah sesaat sebelum maupun setelah badi tersebut saya keluarkan dari wanuwa-nya (sarungnya).

Badi'nya memang kecil dan ramping, tapi melihat pamornya, saya yakin jika badi' tersebut terbuat dari besi atau baja pilihan. Serat besinya terlihat seperti menonjol dan dapat dirasakan dengan jelas. Serat itu memanjang dari ujung pangkal, melewati bagian tengah badi' yang cenderung melebar, lalu meruncing di bagian ujung.

Di salah satu bagian yang dekat dari hulunya, terlihat cekungan yang hampir membentuk lubang. Saya tidak bisa memastikan usianya, namun jika melihat lubang, serat dan lekukan garis, diperkirakan badi' tersebut telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Aroma bau jeruk tercium jelas pada saat saya mencium bilah badi' itu.

Seperti umumnya badi', gandik atau pegangan pada hulu badi' tersebut lebih bengkok. Bentuk gandik yang membengkok tersebut bahkan hampir sempurna membentuk huruf "L". Inilah salah satu ciri khas badi' yang membedakannya dengan gandik pada keris Jawa -selain tidak adanya lekukan seperti yang dimiliki keris.

Badi' pemberian Etta ini merupakan badi' pertama yang saya miliki. Hanya saja, pada saat menerima badi' itu, saya telah memahami bahwa membawa senjata tajam adalah salah satu pelanggaran hukum yang berat. Karena itu, saya tidak dapat menunaikan pesan Etta agar membawa badi' itu kemanapun pergi. Badi' tersebut saya simpan di salah satu bagian rumah di kampung dengan sepengetahuan ibu. Belakangan, ibu menginformasikan kalau badi' itu diserahkannya kembali kepada Etta untuk disimpan.

Suatu ketika saya bermaksud membela seorang teman yang saya kira mau dipukuli oleh sejumlah orang yang saya tidak kenal. Spontan saya menegur aksi mereka. Akibat tindakan saya tersebut, saya dikira sok jago. Dalam waktu singkat, beberapa orang terlihat telah mengitariku. Sempat terlontar nada ancaman yang diarahkan kepadaku. Saya dapat merasakan adanya aroma minuman keras dari mulut orang yang sedang menggertakku itu.

Untungnya seorang senior lain yang mengenaliku menarik tanganku lalu menasehati agar saya tidak berulah. Menurutnya, mereka itu merupakan senior-senior di kampus. Menurutnya, lazimnya senior-senior tersebut hanya muncul di kampus pada momen-momen tertentu, pada saat Ospek, misalnya.

Setelah peristiwa tersebut, saya merasa tidak lagi aman ketika memasuki kampus. Suara-suara gertakan bernada ancaman selalu terngiang di telingaku. Akhirnya, saya putuskan untuk kembali ke kampung.

Saya langsung mencari Etta. Saya ceritakan peristiwa yang ku alami di kampus. Setelah itu, saya meminta agar badi' yang pernah diberikan kepadaku dikembalikan. Bukannya menasehatiku, Etta yang mendengar ceritaku malah menyemangatiku untuk tidak takut dan berani menghadapi siapapun jika tidak ada lagi pilihan lain. Etta bahkan mengajariku beberapa doa dan "mantra" untuk membangkitkan keberanianku.

Hampir satu bulan, badi' itu kusimpan dalam tas ransel yang selalu ku bawa ke kampus. Tas ransel yang biasa kupanggul di pundak bagian belakang, ku pindahkan ke bagian depan. Jika terasa ada gerakan yang mencurigakan, tanganku langsung menekan ransel untuk memastikan bahwa badi'ku berada pada tempatnya dan siap untuk digunakan bila perlu.

Setelah berlalu beberapa minggu dan saya yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa, badi' itu tidak pernah ku bawa lagi. Namun ia tetap ku simpan di suatu tempat yang aman di rumah kontrakan yang ku sewa bersama beberapa orang teman.

***

Setelah kepergian Etta untuk selamanya, ibu kembali memberikan saya sebuah badi "pusaka: yang juga berasal dari Etta. Bedanya, ukuran badi ini lebih besar dari badi" sebelumnya. Dari tampilan sekilas, badi' tersebut juga memiliki arti tersendiri bagi ayah. Keris itu baru dilepas, setelah ayah mendekati ajalnya.

Selanjutnya, salah seorang paman yang memang gemar mengoleksi barang kuno, khususnya badi' dan senjata tajam, juga memberikan badi' yang menurutnya juga merupakan warisan turun temurun keluarga kami. Paman berpesan agar saya menjaga warisan leluhur itu dengan baik.

***

Di kalangan suku Bugis, penghargaan terhadap benda pusaka badi', dilakukan karena adanya kepercayaan bahwa pada suatu badi" pusaka, tersimpan kekuatan magis di dalamnya. Biasanya, ada malam atau waktu tertentu mereka melakukan ritual demi untuk mempertahankan kekuatan magis tersebut. Tradisi ritual ini mirip dengan ritual "memandikan keris" yang biasa dilakuka oleh orang Jawa.

Bagi sebagian lainnya, khususnya kolektor, badi' tidak semata dilihat dari kekuatan magis yang dikandungnya, tapi juga pada usia kesejarahannya dan atau bahan dasar pembuatan. Karena itu, badi yang memiliki nilai estetika yang tinggi, memiliki harga yang tinggi pula di mata para mereka.

Saya bukan kolektor apalagi penganut fahama yang memperayai kekuatan magis dan mistis dari suatu benda. Saya hanya berusaha menyimpan dan merawat benda-benda pusaka tersebut sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada kedua orang yang saya hormati. Belakangan, saya juga menyadari bahwa dengan menjaga warisan pusaka itu, saya telah berperan dalam menjaga kesinambungan dan keberlanjutan sejarah keluarga. Saya seolah terhubung secara spirit dengan nenek moyang yang membuat dan merawat badi' tersebut hingga sampai pada era saya.

Lebih dari itu, selain badi', saya juga menerima wasiat lain yang tidak kalah pentingnya. Semasa hidupnya, Etta pernah mewasiatkan dua hal. Pertama : untuk selalu berani berdiri di atas kebenaran dan, Kedua : Menjunjung Tinggi Siri' (Malu).

Naluri seorang ibu rupanya ikut berbicara. Ibu menyempurnakan pesan Etta melalui tiga pesan :
Pertama : Untuk selalu memelihara kejujuran
Kedua : Untuk selalu bekerja keras
Ketiga : untuk selalu rendah hati

***

Sambil membersihkan benda-benda pusaka tersebut, senandung doa kukirimkan kepada kedua pewaris sebelumnya dan kepada semua yang telah mendahului agar mereka berkumpul bersama para arwah orang-orang sholeh di tempatNya yang abadi. الفاتحة.....

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar