BELAJAR PADA BUDAYA BERKENDARA PENDUDUK NEGARA TETANGGA.

BELAJAR PADA BUDAYA BERKENDARA PENDUDUK NEGARA TETANGGA.

Salah satu kendaraan melintas di jalan raya antara Tawau dan Kota Kinabalu

"Papi, kenapa kalau di sini (Malaysia), kalau kita mau menyeberang jalan, mobil yang mengalah berhenti, tapi kalau di Indonesia, kita yang harus selalu mengalah, nanti kendaraan habis baru menyeberang?" tanya Arkan tadi malam sesaat setelah kami menyeberang jalan di sekitar Night Market Kota Kinabalu.

Aku terdiam mencari jawaban yang tepat dan dapat dinalar oleh Arkan. Beberapa saat kemudian, aku menjawab. "Itu karena mereka menghormati dan menghargai hak pejalan kaki dan penyeberang jalan". Aku menambahkan lagi, dalam hal berjalan kaki di jalan raya, pejalan kaki juga harus mengormati hak pengendara, contohnya ; berjalan di tempat yang telah diperuntukkan bagi pejalan kaki seperti trotoar dan jika tidak tersedia jalur atau tempat khusus bagi pejalan kaki, menggunakan sisi paling kiri dari jalan raya. Jika mau menyeberang jalan, maka gunakan jalur penyeberangan yang telah ditentukan dan jika tidak ada jalur penyeberangan yang tersedia, pejalan kaki dapat menyeberang di tempat yang dipilihnya dengan memperhatikan keselamatan dan kelancaran lalu lintas.

Arkan terlihat mengangguk-angguk mendengarkan penjelasanku. Saya tidak melanjutkan penjelasanku meskipun saya tidak pasti apa arti anggukan Arkan sebenarnya. Sambil berjalan di keremangan malam di antara toko-toko yang telah ditutup, saya mencoba mempraktekkan teori yang baru saja saya jelaskan tadi. Arkan beberapa kali mengeluh karena kami harus mengikuti berputar untuk menapaki jalur penyeberangan yang telah ditentukan atau karena saya memperingatkannya agar berjalan lebih kepinggir. Saya tersenyum sambil mengingatkannya bahwa demikianlah praktek berjalan di jalan raya yang saya jelaskan sebelumnya. Arkan hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala.

Persoalan kedisiplinan berkendara di negara tetangga sering kali menjadi nostalgia "indah" warga negara Indonesia yang pernah keluar negeri, tidak terkecuali para TKI yang pernah bekerja di Malaysia. Rupanya hal serupa juga diperhatikan Arkan yang hanya sempat menginap beberapa malam di Malaysia.

******

Poin dari tulisan ini sebenarnya bukan pada penggalan cerita di atas, tapi saya tertarik melihatnya dari sudut pandang perbedaan budaya berkendara di negaraku Indonesia dan di negara lain. Di beberapa negara, tertib berlalu lintas yang baik lahir dari budaya hidup tertib di kalangan warganya.

Meski belum pernah ke Jepang dan negara-negara maju lainnya, namun konon tertib di jalan raya memang menjadi bagian dari budaya masyarakat di beberapa negara maju tersebut. Sebut saja negara Eropa dan Jepang. Di Jepang misalnya, budaya tertib berlalu lintas di jalan raya konon sangat dijunjung tinggi. Meskipun jalan sepi di tengah malam misalnya, para pengendara tetap mengikuti isyarat dan petunjuk lampu merah. Setidaknya cerita seperti ini pernah saya baca dalam suatu artikel dan bahkan pernah saya dengar langsung cerita yang hampir serupa dari seseorang yang mengaku pernah bermukim di negara matahari terbit itu. Saya sendiri, belum pernah berkunjung ke sana. Mudah-mudahan suatu waktu saya berkesempatan membuktikannya langsung. Pasti saya akan buat tulisan testimoni yang lebih detail.

Tipologi kedua, adalah ketaatan berlalu lintas yang muncul karena kekhawatiran akan mendapat sanksi hukum dari otoritas setempat. Sanksi hukum dapat berupa denda, pencabutan izin mengemudi atau dapat pula berupa sanksi kurungan atau penjara. Meskipun dalam hal tertib berlalu lintas, saya melihat di Malaysia jauh lebih baik, namun saya lebih cenderung menempatkan tertib berlalu lintas di Malaysia dalam tipologi kedua ini.
Beberapa kali menumpangi kendaraan yang dikemudikan oleh penduduk berkewarganegaraan Malaysia maupun TKI, baik yang berprofesi sebagai sopir maupun membawa kendaraan sendiri, hal yang paling mereka khawatirkan adalah disaman (disanksi hukum) oleh polis (polisi). Selain denda uang yang seringkali terbilang besar jumlahnya, sanksi hukum yang paling ditakutkan oleh para pengendara adalah pencabutan lesen memandu (izin mengemudi).

Dampak dari ketakutan ini, para pengendara yang saya lihat dan temui di Sabah dan Labuan (dua tempat yang beberapa kali saya kunjungi) pada khususnya, sangat berhati-hati di dalam mengemudikan kendaraan mereka, terutama jika mereka berada di bandar atau di pusat kota. Saya kadang-kadang menjadi bete’ sendiri jika lari taksi yang saya tumpangi berjalan sangat pelan atau bahksn sering berhenti-berhenti karena terlalu kompromi terhadap penyeberang jalan. Pada hal, jika mau jujur, memang demikianlah semestinya.

Suatu waktu saya berkhayal, andai saja para penduduk Nunukan yang membawa kendaraan konsisten tertib berlalu lintas seperti pada saat mereka berada di Malaysia, saya pastikan lalu lintas di Kab. Nunukan akan jauh lebih baik. Sebab menurut pengamatan saya, sebagian besar sopir-sopir angkutan umum dan angkutan barang yang ada di Kab. Nunukan pernah bekerja di Malaysia dan bahkan juga berprofesi sebagai sopir di sana sebelumnya di tanah rantau.

Sayangnya seringkali budaya berkendara para eks TKI yang kembali ke Indonesia, atau ke Nunukan, pada khususnya, tidak banyak berbekas pada saat mereka berkendara di tanah air. Mereka tidak menjadi warna yang indah bagi yang lainnya dan bahkan begitu cepat "terkontaminasi" dengan budaya berkendara warga setempat. Saya masih sering menyaksikan para sopir taksi di Kab. Nunukan yang notabene pernah bekerja di Malaysia, masih ugal-ugalan berkendara di jalan atau melaju melampaui batas kecepatan yang diizinkan, menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempat yang ditentukan, membawa kendaraan yang sudah tidak laik jalan, melanggar rambu lalu lintas dan lampu merah, mengabaikan dokumen kelengkapan berkendara, tidak menggunakan sabuk atau helm pengaman maupun melakukan praktek berkendara yang tidak sesuai ketentuan lainnya. Pada hal, tidak jarang para sopir tersebut memuji-memuji suasana tertib berlalu lintas di Malaysia.

Dalam beberapa kesempatan berbicara di hadapan warga, saya juga beberapa kali mengingatkan warga bahwa jika menginginkan suasana ketertiban dan keteraturan seperti yang mereka rasakan pada saat di Malaysia, maka harus dimulai dari masing-masing individu. Sebagai contoh, orang yang terbiasa mengendara tidak disiplin di jalan sekalipun, pada hakekatnya tidak suka melihat kesemrawutan dan ketidakdisiplinan pengendara di jalan raya. Mereka secara naluriah menyukai kerapian, kebersihan dan ketertiban.

Ini berarti bahwa kunci berjalannya suatu norma dan tatanan, baik itu norma dan tatanan hukum maupun tatanan sosial, selain kata kuncinya ada pada penegakan aturan tanpa pandang bulu, juga terletak pada kesadaran dan kemauan para masing-masing penduduk suatu daerah atau negara. Kesadaran individu ini diharapkan tumbuh menjadi kesadaran kolektif dan pada gilirannya menjadi budaya hidup penduduk suatu daerah atau negara.

Tawau, 5 Januari 2017

 

.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar