DI TANGAN H. MUSDAR, LIMBAH PELAMPUNG RUMPUT LAUT JADI BERKAH

DI TANGAN H. MUSDAR, LIMBAH PELAMPUNG RUMPUT LAUT JADI BERKAH

Usai istirahat siang hari ini, mobil kuarahkan kembali ke kantor. Mobil avanza hitam tua yang kukendarai meluncur perlahan di sepanjang jalan Cut Nyak Dien. Sambil menyetir, fikiranku kembali melayang dan merenungi jalannya diskusi yang berlangsung tadi pagi.

Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah Propinsi Kalimantan Utara tadi pagi, memang menggelar acara Konsultasi Publik Rencana Zonasi KSN Tertentu Pulau Sebatik dan Karang Unarang. Acara yang dibuka oleh Sekda tersebut digelar di lantai IV Kantor Bupati Nunukan. Salah satu aspek yang menjadi materi diskusi adalah terkait dengan zonasi perikanan tangkap dan perikanan budi daya bagian selatan dan barat pesisir pulau Sebatik.
Hadir dalam kapasitas sebagai perwakilan Dinas Perhubungan, saya mengapresiasi rencana zonasi ini. Namun, sebagai orang baru di Dinas Perhubungan yang notebene belum mengetahui banyak terkait dengan istilah, norma dan aturan teknis bidang perhubungan, saya berusaha untuk tidak berbicara terlalu teknis. Karena itu, saya hanya mencoba menawarkan salah satu alternative solusi agar kebijakan pengembangan budi daya dan kebijakan sector lain dapat harmoni antar satu dengan yang lainnya. Kebetulan polemik terkait budi daya rumput laut yang belum tertata baik berkaitan erat dengan potensi gangguan keselamatan pelayaran yang juga menjadi isu strategis bidang perhubungan.

Saya teringat sewaktu saya masih menjadi Camat Nunukan. Saya berkenalan dengan seorang warga yang kreatif dan inovatif. Dari tangannya, lahir berbagai macam produk, mulai dari desalinasi air laut, produk cairan pembersih/cuci piring, cairan pencuci mobil, sabun mandi cair maupun batangan dan daur ulang tutup gallon. Saya berpendapat bahwa warga tersebut termasuk manusia langka di Kabupaten Nunukan, karena itu perlu didukung, difasilitasi, didampingi dan bahkan dibantu.

Sebagai perwakilan pemerintah daerah di kecamatan, kami telah mencoba membantu, mendampingi dan memfasilitasi pengembangan usaha, terutama yang terkait dengan legalisasi produk warga dimaksud. Hal tersebut kami lakukan guna memberi motivasi kepada warga tersebut dan warga lainnya bahwa hal positif seperti yang dilakukannya harus tetap terus dilanjutkan dan dikembangkan. Sayangnya, sampai saya alih tempat tugas, upaya tersebut belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.

Dari berbagai karya dan produk yang dihasilkannya, saya paling tertarik dengan kegiatan daur ulang yang dilakukannya. Menurutnya, dengan mesin daur ulang sederhana yang dimilikinya, dia tidak hanya dapat menghasilkan daur ulang tutup air gallon, tapi juga berbagai produk lainnya, salah satunya, pelampung rumput laut. Menurut saya, ide pelampung rumput laut ini merupakan alternative solusi yang banyak sekali manfaatnya, salah satunya dapat menjadi alat yang efektif untuk mengurangi potensi gangguan keselamatan pelayaran yang dapat ditimbulkan dari kegiatan budi daya rumput laut yang dikembangkan secara sporadic dan tidak terkontrol saat ini.

Bagaimana cara kerjanya? Akan saya jelaskan lebih detail setelah ini. Kebetulan, siang tadi, saya menyempatkan diri untuk mewawancarai langsung Bapak H. Musdar, sosok pengusaha kreatif dan inovatif yang saya sebutkan di atas, di rumahnya. Dari perbincangan tersebut, saya semakin yakin bahwa produk H. Musdar memiliki multiplier effect bagi banyak sector.

1. Keselamatan Pelayaran

Saya mulai dari dampak manfaat dari aspek keselamtan pelayaran. Kenapa saya mulai dari aspek ini? Tidak lain, guna memberi sedikit justifikasi dan legitimasi bagi saya untuk dapat berbicara dari sudut keterkaitan dengan instansi tempat saya saat ini bekerja, Dinas Perhubungan. Jika tidak terkait dengan bidang perhubungan, saya kuatir dianggap mencampuri urusan instansi lain.

Beberapa kali terdengar keluhan terkait terganggunya alur navigasi pelayaran akibat menyempitnya jalur pelayaran sebagai dampak dari semakin menjamurnya bentangan rumpul laut di perairan pulau Nunukan dan pulau Sebatik. Beberapa speed boat atau perahu mengalami belitan tali pada baling-baling mesin perahu yang diduga diakibatkan oleh tali rumput laut. (Baca juga : http://beritatrans.com/…/budi-daya-rumput-laut-ganggu-alur…/)

Menurut analisis saya, salah satu sebab yang memungkinkan terjadinya kasus seperti ini, karena belum ditetapkannya zonasi budi daya rumput laut. Para petani rumput laut dengan leluasa menggunakan wilayah perairan yang selama ini sering digunakan sebagai jalur pelayaran, khususnya bagi kapal atau perahu bermesin kecil. Selain itu, tidak adanya tanda yang jelas, tidak jarang, membuat perahu dan speed memasuki area budi daya tanpa disadari.

Menurut H. Musdar, dirinya mampu memproduksi pelampung rumput laut yang warnanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Besaran pelampung pun dapat disesuaikan dengan budget pemesan. H. Musdar menyiapkan dua prototype pelampung. Satu prototype pelampung disiapkan berkapasitas 1,5 liter, setara dengan botol air mineral besar yang banyak digunakan oleh pembudi daya rumput laut selama ini. Satunya lagi, berkapasitas 1 liter. Masing-masing memiliki kelebihan. Kelebihan prototype kedua (1 liter), harganya lebih murah dibanding dengan prototype yang pertama. Harga juga dapat ditentukan dari tingkat ketebalan produk. Ketebalan dapat disesuaikan dengan permintaan pemesan sesuai dengan harga yagn disepakati.

Terkait dengan warna, saya membayangkan seperti ini. Jika saja zonasi area budi daya ini ditetapkan, maka saya sarankan agar warna pelampung dipilih warna-warna cerah yang dapat dilihat dan dikenali dari jauh. Sebut saja warna merah muda, oren, kuning, hijau muda, pink dan warna menyolok lainnya. Dengan demikian, pelampung-pelampung tersebut juga dapat menjadi penanda yang jelas bagi area-area budi daya yang telah ditetapkan sehingga dapat dihindari untuk tidak dilewati atau dimasuki oleh perahu kapal dan atau speed boat yang menggunakan sekitar area itu sebagai jalur pelayaran. Dengan demikian, dapat diminimalisir kemungkinan peristiwa belitan tali pada baling-baling yang diakibatkan oleh tali seperti yang pernah terjadi.

2. Wisata Bahari

Pemasangan pelampung rumput laut, menurut saya, dapat pula menjadi atraksi wisata yang menarik. Di beberapa tempat, kita kenali ada yang namanya kampung warna-warni. Kampung tersebut banyak dikunjungi oleh wisatawan hanya untuk menyaksikan keunikannya atau sekedar berswa foto dan mengabadikan pemandangan yang tidak biasa tersebut. Saya membayangkan, area budi daya rumput laut dapat pula menjadi area wisata yang menarik dan unik untuk tujuan serupa. Mungkin dapat kita branding sebagai "perairan warna warni". (Baca juga : https://phinemo.com/kampung-warna-warni/)

Sedikit berbeda dengan kampung warna warni, saya justeru menyarankan agar setiap satu hamparan atau satu kelompok petani rumput laut diidentikkan dengan satu warna tertentu. Kelompok atau area A misalnya, dapat menggunakan warna biru. Kelompok atau area B menggunakan warna hijau dan kelompok atau area C dan seterusnya memilih warna lainnya. Dengan demikian, warna juga dapat menjadi penanda kelompok atau wilayah budi daya yang memudahkan identifikasi area garapan.

Membayangkan berlayar di sebuah area perairan yang di kiri kanannya berjajar pelampung rumput laut dengan warna cerah. Setiap beberapa meter, akan ditemukan warna cerah lainnya. Bagi yang gemar ngopi di tepi laut, akan menemukan sensasi berbeda jika dapat dilakukan dipinggir laut sambil menyaksikan aneka warna pelampung layaknya balon yang mengapung di atas air. Pemandangan seperit ini tentu dipastikan amazing dan tidak biasa.

3. Pengurang Limbah Botol Plastik

Selama ini, para petani rumput laut menggunakan botol-botol air mineral sebagai pelampung rumput laut. Setiap dua siklus (sekitar dua bulan), botol-boto tersebut umumnya tidak dapat digunakan lagi dan harus diganti dengan yang baru. Saking tingginya permintaan akan botol-botol pelampung rumput laut, sehingga muncul pengusaha yang khusus mendatangkan botol-botol air mineral kosong dari negara tetangga, Tawau Malaysia.

Di kemanakan botol-botol bekas tersebut? Pada umumnya dibuang dan menjadi limbah plastic yang mencemari pesisir pulau Nunukan. Menurut Kabid Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kab. Nunukan, limbah sampah plastik yang berasal dari pelampung rumput laut mencapai 32 ton/bulan. Artinya, rata-rata produksi sampah plastik akibat kegiatan rumput laut ini lebih dari 1 ton setiap harinya.

Limbah-limbah plastic ini menjadi masalah baru kebersihan dan kesehatan warga yang bermukim di pesisir. Belum ada teknologi di Kabupaten Nunukan yang mampu mengolah limbah botol plastic ini menjadi bahan plastic daur ulang. Cacahan plastic yang dihasilkan dari limbah yang ada selama ini harus dikirim ke pulau Jawa.

Berbagai upaya untuk mengurangi limbah ini belum membuahkan hasil yang memuaskan. Bank Sampah yang dibentuk DLH, belum cukup menarik banyak pihak untuk menggeluti usaha ini. Pada hal, limbah plastic itu dapat mendatangkan penghasilan tambahan bagi warga yang menggelutinya. Akibatnya, tambahan limbah yang terbuang tidak berimbang dengan limbah yang mampu diangkat dan diolah menjadi limbah ekonomis. Jadilah tumpukan limbah itu memenuhi kolong-kolong pemukiman di atas laut pada saat air surut.

Menurut H. Musdar , kelebihan lain dari produknya adalah memungkinkannya untuk didaur ulang. Salah satu pengurus Masjid Mujahidin Kab. Nunukan ini menjamin bahwa pelampung produksinya yang sudah tidak layak digunakan akan dibelinya kembali untuk didaur ulang. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa tidak akan ada limbah plastic bekas pelampung rumput laut yang akan dibuang ke laut. Semuanya dapat ditampung dan dijual kembali kepada pihaknya untuk didaur ulang dan selanjutnya digunakan kembali.

4. Limbah Plastik Dapat Diolah Menjadi Bahan Baku

Ketika saya menanyakan ketersediaan bahan baku pembuatan pelampung rumput laut. H. Musdar menjelaskan bahwa bahan baku produknya cukup banyak tersedia. Plastic yang dapat digunakan untuk memproduksi pelampung tersebut adalah semua jenis plastic yang berbahan HDPE (High Density Polyethlene). Bahan seperti ini digunakan untuk memproduksi produk-produk berbahan plastic seperti ember, baskom, timba, gelen air/minyak dan berbagai produk turunan lainnya. Dengan demikian, sampah-sampah sejenis dapat pula ditampung dan dibeli oleh H. Musdar untuk diolah dan diproduksi kembali menjadi pelampung rumput laut.

Saya membayangkan, jika produksi pelampung rumput laut ini berjalan, maka limbah plastic lainnya yang berbahan HDPE tidak ada lagi yang dibuang ke TPA, tapi akan disalurkan dan dijual ke produsen pelampung. Dengan demikian, volume sampah HDPE ke TPA akan berkurang secara signifikan.

5. Memiliki Nilai Ekonomis Yang Tinggi

H. Musdar memastikan bahwa harga pelampung rumput laut buatannya jauh lebih ekonomis dibanding botol air mineral yang umum digunakan oleh pembudi daya. Nilai ekonomisnya dapat dihitung dari daya tahan pelampung buatannya dibanding daya tahan botol air mineral yang umum digunakan oleh pembudidaya rumput laut.

Dengan asumsi bahwa daya tahan pelampung rumput laut buatannya mampu bertahan hingga satu tahun, maka dengan menggunakan pelampung buatannya itu, belanja pelampung rumput laut yang harus dikeluarkan oleh pembudiaya akan dapat ditekan hingga 50%.

6. Dukungan terhadap UKM

Selama ini, H, Musdar membangun usahanya dengan modal tekad, tenaga dan modal pembiayaan sendiri. Menggunakan produk pelampung rumput laut produk UKM yang dirintis H. Musdar misalnya, berarti memberdayakan dan mengapresiasi pelaku UKM local. Dukungan seperti ini sangat besar pengaruhnya bagi tumbuhnya atmosfir berusaha di suatu daerah seperti Kabupaten Nunukan yang jiwa kewirausahaan belum berkembang seperti di wilayah perkotaan.

Dari apa yang saya tangkap dari saya perbincangan dengan H. Musdar, dukungan pemerintah atau lembaga lainnya akan sangat berarti baginya untuk dapat bertahan dan terus mengembangkan kreatifitas serta inovasinya tanpa henti. Betapa tidak, memilih untuk bertahan di tengah minimnya dukungan dan ketidakpastian pasar, tentu bukanlah pilihan yang mudah. Hal tersebut dilakoninya karena yakin sepenuhnya bahwa akan tiba masanya, produknya dibutuhkan oleh pasar. Melalui usahanya tersebut, H. Musdar sepertinya juga berharap dapat memberikan pengabdiannya darma baktinya bagi bangsa dan negaranya.

Untuk dapat melakukan produksi pelampung rumput laut yang sedang digagasnya secara besar-besaran, H. Musdar mengaku perlu menambah mesin produksi yang terpisah dari mesin produksi tutup galon yang telah dijalankannya lebih dari dari dua tahun terakhir ini (baca juga : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212419894234314&id=1289844660).

Menurut hitung-hitungan H. Musdar, kebutuhan pelampung rumput laut di Kabupaten Nunukan diyakininya sangat besar. Meskipun H. Musdar tidak menyebut angka spesifik, namun menurut data yang saya peroleh dari satu sumber terpercaya, jumlah kebutuhan pelampung dari botol mineral di Kab. Nunukan mencapai hampir 20 juta unit pertahun -dengan asumsi setiap tiga bulan dilakukan penggantian.

Dengan menggunakan pelampung rumput laut produksinya -yang memiliki daya tahan lebih lama-, kebutuhan pelampung rumput laut dapat diturunkan hingga mencapai angla hampir 5 juta unit setiap tahunnya. Jumlah ini masih terbilang besar karena jika dikonversi ke rupiah. Perputaran uang dari bisnis ini beromzet miliaran rupiah petahunnya.

Saat ini, H. Musdar mengaku terbentur modal untuk pengadaan mesin. Pengusaha jasa pencucian mobil dan karpet itu sedang menjajaki kerjasama dengan lembaga keuangan dan perusahaan yang diharapkan dapat membantunya untuk mewujudkan keinginannya itu.

Dari usaha H. Musdar tersebut, setidaknya H. Musdar telah membantu pemerintah untuk membuka lapangan kerja baru. Sebagai contoh, untuk mesin produksi tutup galon yang ditekuninya kini, H. Musdar mempekerjakan minimal dua tenaga (satu tenaga bertugas membersihkan bahan baku sampah plastic dan satu tenaga lainnya bertugas mengoperasikan mesin produksi). Belum lagi, tenaga pemulung yang dapat manfaat dari keberadaan home industry H. Musdar ini.

Berbincang dengan H. Musdar, membuat waktu satu jam seperti hitungan menit saja. Kerendahan hatinya, semangat dan pemikirannya yang penuh kalkulasi membuat perbincangan terasar begitu singkat. Saya mendapat ilmu dan semangat baru dari seorang H. Musdar. Saya semakin tertantang untuk mempromosikan apa yang dilakukan oleh H. Musdar agar dapat menginspirasi bagi orang lain. Semoga akan bermunculan pelaku-pelaku UKM yang memiliki jiwa entrepreneurship seperti H. Musdar.

Last but not least, mencermati manfaat dari prospective program ini, tidak berlebihan rasanya jika pada implementasi perdananya, diakselerasi melalui pemberian subsidi atau bahkan bantuan peralatan berupa pelampung rumput laut dari pemerintah kepada setiap pembudi daya yang tergabung dalam kelompok. Menurut saya bantuan peralatan berupa pelampung memiliki manfaat dan efek ganda yang jauh lebih besar dan lebih luas ketimbang bantuan tali atau perahu.

By : Harman (pandangan pribadi)

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar