Drama Nonton Bareng Film Aku dan Hari Esok

Drama Nonton Bareng Film Aku dan Hari Esok
Di sela-sela persiapan Reuni dan Musda Ikatan Alumni Unhas (IKA UH) Cabang Nunukan besok, tiba-tiba saya mengambil keputusan tidak terencana. Saya memutuskan menyeberang ke pulau Sebatik. Keputusan itu saya buat ketika matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Keputusan ini saya ambil bukan tanpa pertimbangan. Anakku yang sulung, Arkan, yang tinggal bersama neneknya di pulau Sebatik, tiba-tiba menelepon dan meminta diizinkan untuk ikut Nonton Bareng Film Aku Dan Hari Esok. Menurutnya, tokoh pemeran utama dalam film itu adalah teman akrabnya. Salah seorang guru di sekolahnya juga menjadi pemeran pembantu dalam film tersebut. Ditambahkannya lagi bahwa ibu Bupati Nunukan sebagai salah satu bintang tamu dalam film itu, juga akan turut hadir bersama masyarakat pulau Sebatik untuk menyaksikan pemutaran perdana film tersebut di Gedung MB Aiman Desa Seberang Kecamatan Sebatik Utara. Satu hal yang mengkhawatirkan saya, antara rumah dan tempat pemutaran film, berada di lokasi yang berjauhan. Sementara yang saya ketahui, di sepanjang jalan yang menghubungkan kedua tempat tersebut, tidak terdapat lampu penerangan jalan yang cukup. Saya khawatir akan keselamatan si sulung. Tapi mendengar suara memelas dan alasan yang disampaikan Arkan lewat telepon seluler, saya rasa, tidak mungkin dapay mencegah Arkan untuk tidak hadir dalam acara nonton bareng, yang menurutnya, menawarkan door prize tersebut. Saya langsung meminta pendapat isteri. Dalam hitungan menit, kami mengambil keputusan, saya harus segera berangkat ke pulau Sebatik untuk mendampingi Arkan. Perjalanan yang sedianya saya arahkan ke gedung pertemuan yang akan digunakan untuk Musda dan Reuni besok, saya belokkan menuju arah pelabuhan penyeberangan. Syukurnya, sebelum hari benar-benar gelap, saya telah berada di dermaga Binalawan. Sebelumnya, ketika saya masih berada di pelabuhan penyeberangan Sei Jepun, saya bertemu dengan beberapa anggota rombongan Bupati Nunukan. Bupati benar-benar akan menghadiri acara nonton bareng tersebut, seperti yang telah disampaikan Arkan. Saya menelusuri jalan yang mulai terselimuti kegelapan. Sembari mengendarai motor hitamku, mataku sesekali mencari masjid terdekat. Setiap mendekati satu masjid, telingaku menguping untuk mengetahui apakah suara azan telah dikumandangkan dan waktu sholat telah tiba. Jika belum, saya lanjutkan perjalanan hingga bertemu masjid atau musholla berikutnya. Ritme dan kecepatan perjalanan, dengan waktu yang ada, harus saya kompromikan. Saya sudah harus tiba di rumah sebelum sholat isha. Jika tidak, saya akan kedahuluan oleh Arkan. Saya pastikan, Arkan berangkat ke lokasi nonton bareng setelah sholat isha. Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah di salah satu masjid yang biasa kusinggahi, kembali saya tancap gas. Hari telah benar-benar gelap ketika jalan yang tidak terlalu lebar tersebut kutelusuri. Sayangnya cahaya lampu motorku sudah tidak bekerja optimal. Untungnya, saya cukup menguasai jalan. Cahaya redup lampu motor, saya padukan dengan insting. Kecepatan motor dengan keinginan untuk segera tiba di tempat tujuan, kuatur sedemikian rupa guna memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun, di satu belokan saya hampir berjalan lurus, namun secara keseluruhan, perjalananku berjalan hampir tanpa hambatan. *** Setiba di rumah, saya mendapati Arkan sudah tidak ada. Menurut ibu saya, sebelum maghrib, Arkan pamit ke rumah temannya. Saya kaget, segera kususul puteraku yang berumur 10 tahun itu ke rumah salah satu temannya. Saya tidak mendapatinya di sana. Tanda-tanda bahwa Arkan pernah di situ juga tidak ada. Tanpa berifikir panjang, motor tuaku langsung ku gas pol menuju arah gedung. Di sepanjang jalan yang gelap gulita, didukung pencahayaan lampu depan motor yang tidak terlalu bagus, setiap gerakan manusia kuamati. Saya mencari signal, gelagat atau suara yang mirip Arkan. Tiba-tiba "buk!", motorku mengalami guncangan dan saya hampir hilang keseimbangan. Motor yang mulai oleng berusaha kukendalikan dan alhamdulillah berhasi. Sadar akan keteledoranku, saya mengurangi kecepatan motor. Akhirnya, saya sampai di halaman gedung olahraga MB Aiman. Dari kejauhan, suasana gedung yang seharusnya ramai itu masih terkesan sepi. Hanya ada beberapa lampu yang menerangi teras bagian depan gedung yang tampak menyala. Saya merapat ke arah sumber cahaya itu. Di sana telah ada belasan anak. Sebagian ditemani oleh orang dewasa. Sebagian lagi datang bersama teman-teman sebaya. Sambil menunggu acara dimulai, sebagian dari mereka sibuk berfoto-berfoto di depan back drop yang memuat foto-foto para pemeran film. Saya kembali cemas. Saya tidak menemukan Arkan di sana. Pada hal, setiap sisi gedung yang ada cahaya telah kutelusuri. Belum puas, saya duduk sejenak di atas sadel motor untuk mengamati setiap orang yang lewat. Sambil mengamati setiap sudut dan orang-orang yang lalu lalang, bayangan hampir jatuh tadi ditambah kekhawatiranku terhadap keberadaan anak sulungku, membuat jantungku berdegup semakin kencang. Tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Arkan, saya putuskan kembali ke rumah. Di sepanjang jalan, berbagai pertanyaan mengelayut dibenakku. Meskipun demikian, saya mencoba lebih tenang agar tidak terulang peristiwa menabrak jalan berlubang tadi. Dalam hitungan menit, saya telah tiba kembali di rumah. Tiba-tiba Arkan berteriak dan berlari ke arahku. Saya kembali kaget. Ibuku juga tiba-tiba muncul dari balik pintu depan rumah. Sebelum sempat berkata-kata, ibuku langsung menjelaskan kalau Arkan baru saja kembali dari masjid bersama beberapa orang rekannya. Ibu sepertinya tidak ingin saya memarahi cucu kesayangannya itu. Arkan yang berdiri memegang stang motorku -tanpa ekspresi berdosa-, merengek minta segera diantar ke gedung. Mendengar penjelasan ibuku dan melihat wajah polosnya, perasaan marah yang tadi sempat memuncak, perlahan menurun. Wajah keduanya saya tatap dalam-dalam secara bergantian. Saya berusaha mengatur nada suara supaya ekspresi dan nada suaraku kembali stabil. Setelah berbicang-bincang sejenak, saya perintahkan Arkan dan dua orang temannya yang masih ada di samping rumah untuk menyimpan sepedanya. Saya putuskan akan membonceng mereka bertiga. Saya membayangkan betapa bahayanya jika mereka kesana mengendarai sepeda. Tiba di gedung, pengunjung telah ramai. Dari luar gedung, suara lagu Indonesia Raya terdengar jelas mengalun. Rupany, sebelum pemutaran film, didahului dengan acara seremonial dan sambutan. Saya tidak terlalu menangkap isi sambutan. Suara sound system yan mengenggema ditambah suara hiruk pikuk penonton, membuat acara seremonial kurang khidmat. Pada Bupati Nunukan dalam sambutannya telah berusaha komunikatif dengan penonton Lantas seperti apa jalannya cerita dalam film dimaksud? Berikut sekilas gambaran jalan cerita dari film yang tema tentang pendidikan anak TKI tersebut. *** Film ini berkisah tentang seorang guru honorer yang mengajar di salah satu SD di pulau Sebatik. Yudis, nama guru muda tersebut, selain harus bergelut dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, juga menemukan kenyataan lain yang menggugah perasaan dan akal sehatnya. Bermula dari kekagetannya pada kemampuan "siswa" misterius yang beberapa kali menjawab soal-soal rumit di papan pengumuman sekolah. Keinginantahuannya pada siswa misterius tersebut, akhirnya menghantarkannya pada seorang anak TKI bernama Seba. Seba adalah anak dari sepasang TKI yang bekerja di suatu perkebunan di wilayah Sebatik Malaysia. Dia terpaksa putus sekolah karena harus membantu ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Kedua orang tuanya bekerja di perkebunan kelapa sawit yang dipercayakan majikan kepada kedua orang tuanya untuk dikelola. Sang guru yang mengetahui kecerdasan Seba, mendatangi tempat tinggal Seba di wilayah Malaysia. Sang guru berusaha mengajak Seba kembali ke sekolah. Meski pada awalnya ragu untuk kembali kesekolah, tapi keuletan sang guru dalam memotivasinya, berhasil merubah pendirian Seba. Ternyata, tantangan baru saja mulai. Usaha sang guru tersebut juga mendapat penolakan dari ibu Seba. Dengan susah payah sang guru merayu sang ibu. Berkat kegigihan sang guru, akhirnya sang ibu luluh dan mengizinkan Seba kembali ke sekolah. Demi membantu Seba, sang guru yang menghidupi seorang isteri yang sedang hamil tua tersebut, mengajak Seba tinggal di rumahnya. Sang guru muda menyiapkan segala kebutuhan Seba. Persoalan ternyata belum selesai. Seba dan sang guru menghadapi tantangan lain. Teman-teman baru Seba di sekolah tidak begitu saja menerima kehadiran Seba. Kekurangan dan kepolosan Seba dalam berpakaian misalnya, digunakan teman-temannya untuk menjatuhkan moral dan semangat Seba. Seperti anak-anak TKI lain yang sering saya temui, Seba cukup menonjol di kelas. Teman-teman baru Seba semakin sakit hati terhadap Seba. Upaya Seba untuk mengakrabi mereka tidak mendapat respon yang baik. Kondisi ini menyebabkan Seba seperti terisolasi berada di antara teman-teman barunya. Namun sang guru selalu berusaha menyemangati Seba. Film ini memuat pesan moral yang dalam. Film ini mengajak anak-anak perbatasan untuk tetap sekolah. Agar atmosfir ini terjaga, dibutuhkan perhatian banyak pihak, baik guru maupun orang tua. Hal tersebut ditunjukkan oleh Yudis, sang guru muda yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Apa yang dilakukan Yudis dan ingin disampaikan oleh film ini, memang berangkat dari kenyataan yang mudah ditemukan di pulau berpenduduk lebih kurang 40 ribu jiwa tersebut. Sebagai contoh, Sekolah Tapal Batas (STB), didirikan karena berangkat dari keprihatinan Bidan Hj. Suraidah -Kepala Sekolah' akan banyaknya anak-anak TKI yang putus dan malah tidak memiliki akses untuk bersekolah. Jarak yang jauh, kurangnya dukungan orang tua dan lingkungan, kendala dokumen kependudukan dan beberapa kendala lainnya menjadi alasan anak-anak seusia Seba untuk tidak bersekolah. *** Setting film yang seluruhnya dilakukan di pulau Sebatik -sebuah pulau yang dimiliki bersama Indonesia dan Malaysia-, memungkinkan banyak lokasi eksotis di pulau kecil dan terluar ini yang dapat diekspos. Sebut saja : Patok 3 Desa Aji Kuning, wilayah sekitar patok 7 Desa Sei Limau, Tugu Garuda Perkasa di Desa Seberang, Jembatan Pos AL Desa Pancang, dan Pantai Kayu Angin Kec. Sebatik. Oleh sebab itu, bagi mereka yang ingin mengetahui destinasi menarik di pulau Sebatik, film ini layak direkomendasikan untuk ditonton. Hanya saja, keinginan sutradara untuk mengirim pesan dan menonjolkan keindahan pulau Sebatik terkesan dipaksakan. Bagi yang mengenal pulau Sebatik, terdapat beberapa lokasi pengambilan adegan yang terasa kurang masuk akal. Sebagai contoh, wilayah perbatasan yang menjadi tempat tinggal dan lokasi sekolah Seba, cukup berjauhan dengan lokasi pantai kayu angin, jembatan AL di Desa Pancang dan pembangkit listrik di Sei limau. Adegan -adegan yang mengambil latar beberapa destinasi wisata tersebut mengesankan bahwa tempat-tempat tersebut berada di sekitar tempat tinggal atau sekolah Seba. Dialog film, menurut saya, juga cukup datar sehingga kurang mampu menghadirkan antiklimaks. Dialog yang tidak kental logat melayunya juga kurang mampu membawa penontonnya ke suasana atmosfir pulau Sebatik yang sesungguhnya. Logat melayu yang digunakan berkomunikasi sehari-hari oleh masyarakat Sebatik dikenal lekat dengan logat melayu Sabah yang khas itu. Kesan tersebut kurang menonjol dalam dialog-dialog yang ada. Sebagai sebuah film pertama yang 90% pemainnya diperankan oleh penduduk Sebatik itu, film ini menarik untuk diprogandakan sehingga gaung potensi pulau Sebatik semakin meluas dan menasional. Meskipun Sebatik merupakan sebuah pulau kecil, namun pulau dengan luas 452, km2 itu memiliki berbagai cerita unik, menarik dan tempat-tempat yang eksotik.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar