HARMAN ANAK TKI MOTIVATOR DI PERBATASAN

HARMAN ANAK TKI MOTIVATOR DI PERBATASAN

Harian Kompas, Sabtu, 14 September 2013

Oleh: ESTER LINCE NAPITUPULU (Wartawan Kompas)

***

Pendidikan diyakini Harman (37) dapat jadi bekal yang berharga untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Keyakinan Harman bukanlah isapan jempol. Dialah seorang anak TKI di Malaysia yang bisa memperbaiki nasib keluarga berkat pendidikan.

Dengan jerih payah sang ibu, Sitti (63), yang menjadi pekerja rumah tangga di Malaysia, Harman bisa menuntaskan pendidikan hingga meraih gelar sarjana hubungan internasional dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Harman kini bisa memegang jabatan Camat Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

”Saya anak TKI di Malaysia. Dengan dorongan orangtua yang kuat untuk menyekolahkan saya, alhamdulillah, saya bisa hidup lebih baik. Karena itu, saya juga ingin mendorong keluarga TKI untuk punya tekad yang sama untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka,” kata Harman.

Menjadi pemimpin di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di salah satu dari lima kecamatan di Pulau Sebatik membuat Harman paham persoalan hidup yang dialami TKI. Banyak warganya bekerja sebagai TKI di Malaysia. Belum lagi TKI dari daerah lain di Indonesia yang bekerja di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik.

Dalam sejumlah kesempatan, Harman tak lupa menyampaikan pesan kepada banyak pihak, terutama pemerintah, untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak TKI. Pesan itu juga yang dikemukakan Harman saat menjadi salah satu pembicara di hadapan 47 guru SMA/SMK/MA berprestasi dari seluruh Indonesia yang ikut kegiatan Kemah Wilayah Perbatasan (Kawasan) yang digagas Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Pulau Sebatik, Agustus lalu.

Harman yakin, dengan menyampaikan kondisi daerah perbatasan secara terus-menerus, terutama pendidikan anak-anak TKI, akan ada kepedulian dari banyak pihak, termasuk pemerintah, untuk mengatasi keterbatasan.

Terkejut

Saat baru memimpin di daerahnya, Harman dikejutkan dengan informasi adanya anak-anak TKI yang melintasi daerah perbatasan Indonesia-Malaysia untuk sekolah di Kampung Lourdes, Dusun Berjoko, Desa Sungai Limau, yang menjadi wilayah Harman. Dia pun mengajak kepala desa dan kepala sekolah untuk menyusuri perjalanan anak-anak itu dengan memasuki perkebunan sawit di Malaysia.

TKI yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia mempunyai posisi tawar rendah. Tidak semua perusahaan kelapa sawit Malaysia bersedia menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak pekerjanya.

Harman merasakan sendiri perjuangan anak-anak dan orangtua TKI yang melintasi area perkebunan kelapa sawit di daerah Bergosong di Pulau Sebatik, Malaysia, menuju Desa Sungai Limau di Pulau Sebatik, Indonesia. Betapa berat perjuangan anak-anak TKI menuju ke sekolah di Kampung Lourdes. Menghadapi kenyataan itu membuat Harman semakin menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak TKI.

Anak-anak TKI ini menyusuri perkebunan sawit pada pagi buta, berjalan kaki selama 1-2 jam melewati jalanan naik-turun, berlubang, dan becek menuju Kampung Lourdes untuk bersekolah. Padahal, SD di sini pun hanya punya tiga ruangan kelas dengan fasilitas pendidikan yang serba terbatas.

”Pengalaman saya sebagai anak TKI membuat saya memahami perjuangan mereka. Saya harus mendorong supaya anak-anak TKI tetap bisa sekolah. Sebab, dengan pendidikanlah mereka bisa punya kesempatan hidup lebih baik dan bermartabat,” ujarnya.

Memotivasi TKI

Kenyataan pahit yang dihadapi anak-anak TKI untuk bersekolah membuat Harman tidak sungkan membuka persoalan tersebut. Banyak anak TKI di perbatasan Malaysia yang masih buta huruf.

Harman pun dengan berani menyampaikan kondisi anak-anak TKI itu kepada pejabat pendidikan pusat yang berkunjung ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik. Dia pernah ditegur supaya tak usah terlalu mengurusi persoalan pendidikan anak-anak TKI karena bukan urusannya.

Harman yang pernah menjadi pendidik selama dua tahun seusai belajar di Pesantren Gontor—serta keterlibatannya mendidik anak-anak tidak mampu saat mahasiswa—tak bisa tutup mata terhadap masalah pendidikan itu. Meskipun tak banyak yang bisa dilakukan, ia sering memotivasi para orangtua TKI untuk tetap bersemangat mendukung anak-anak mereka bersekolah.

Bahkan, Harman juga terlibat aktif sebagai tutor penuntasan buta aksara ataupun tutor pendidikan keaksaraan sejak menjadi pegawai negeri sipil di Nunukan. Di awal menjadi camat pun, ia tetap mengajar orang dewasa untuk bebas dari buta aksara. Namun, kesibukan yang padat membuatnya terpaksa melepas kesenangannya menjadi tutor.

Harman tidak bosan mengisahkan jalan hidupnya sebagai seorang anak TKI di Tawau yang bisa memiliki masa depan lebih baik berkat pendidikan. Di kala itu, Harman memang masih bisa sekolah di SD di Tawau, Malaysia. Bahkan, dia mendapatkan perhatian dan dukungan para gurunya yang orang Malaysia untuk terus bersemangat belajar.

”Kalau anak-anak di daerah perbatasan, terutama anak-anak TKI, tetap bodoh, mereka akan jadi tenaga kerja yang murah,” ujar Harman.

Menurut dia, perjuangan ibunya bekerja sebagai TKI di Malaysia sungguh tak mudah. Karena itu, ia bertekad tidak akan mengecewakan harapan ibunya. Ketika di Pesantren Gontor, ia sempat hendak berhenti karena tak tega melihat kerja keras ibunya yang bekerja di Malaysia. Namun, ibunya bersikukuh Harman tetap harus bersekolah.

Sebagai camat yang masih muda, banyak ide Harman untuk memajukan daerah perbatasan yang dipimpinnya. Ia melihat ketergantungan ekonomi yang begitu kuat pada Malaysia. Ia mencoba mengajak masyarakat di daerahnya mengembangkan produk unggulan. Tanaman kakao yang dibutuhkan Malaysia bisa dikembangkan lagi. Apalagi jika didukung industri pengolahan cokelat yang baik.

Harman juga coba memakai jaringan yang dia punya untuk bisa mendapatkan tempat bagi puluhan warganya ikut pelatihan keterampilan di balai latihan kerja di Kabupaten Nunukan. Ia mendorong staf di kecamatan yang juga terdiri atas anak-anak muda untuk membuat program inspiratif yang bisa menginspirasi anak-anak muda Sebatik. Jangan sampai anak-anak muda
di daerah perbatasan ini lebih bangga pada Malaysia yang memang lebih maju daripada daerah perbatasan.

Harman
Lahir: Tawau, 24 Juli 1976

Istri: Drg Marliani (27)
Anak:

A. Muh Mumtaz Arkana (5)
A. Alika Alvia Annora (1,5)

Pendidikan:

SRK Pekan II, Wilayah Persekutuan Labuan, Malaysia
SDN Pitumpidang-E Bone, Sulawesi Selatan, 1987
MTs Ma’had Hadits Biru Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 1992
KMI Gontor Ponorogo, Jawa Timur, 1997
S-1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar, 2002

Pekerjaan: Camat Sebatik Tengah
Sumber :

Harian Kompas edisi 14 Nopember 2013
http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002062402
http://www.wilayahperbatasan.com/membangun-pusat-pendidikan-bagi-anak-tki-dan-anak-batas-di-perbatasan/
http://www.bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/9760-harman-anak-tki-jadi-camat-yang-peduli-pendidikan-anak-anak-tki.html

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar