IRONI PARIMAN, PENEMU PATOK KRUCUT DI PULAU SEBATIK

IRONI PARIMAN, PENEMU PATOK KRUCUT DI PULAU SEBATIK

By : Harman

Beberapa hari belakangan ini, Pariman, seorang pria asal Bojonegoro berhasil menjadi headline berita surat kabar setempat beberapa hari berturut-turut karena dianggap sebagai "Penemu" Patok Krucut di pulau Sebatik (http://kaltara.prokal.co/read/news/2428-ini-dia-penampakan-patok-aneh-di-sebatik.html). Patok krucut diklaim oleh Pariman dan pengikutnya sebagai Patok perbatasan sesungguhnya. Sebatik memang menjadi salah satu dari 10 Outstanding Boundary Problems (OBP) antara Indonesia-Malaysia di pulau Kalimantan. Pasalnya, sebagian patok perbatasan negara yang membelah pulau Sebatik menjadi dua bagian  itu, disinyalir menjorok ke sisi selatan (Sebatik Indonesia) dan tidak persis berada pada titik koordinat 4'10" LU seperti tertera dalam perjanjian Belanda dan Inggris tahun 1891. Akibat penyimpangan ini, Indonesia mengklaim berpotensi dirugikan hingga di atas 100 hektar.

Penemuan Pariman mengundang decak kagum dari berbagai pihak. Bagi sebagian besar orang di luar Sebatik, patok krucut adalah fenomena baru di pulau Sebatik. Tidak hanya di media cetak, berita terkait temuan Pariman segera beredar luas dan menjadi viral dan pembicaraan di media online, khususnya di medsos. Penemuan Pariman sepertinya dilihat sebagai babak baru penyelesaian OBP di pulau Sebatik. Oleh sebab itu, dengan yakin dan bangganya, Pariman beserta pengikutnya menancapkan bendera merah putih di setiap patok krucut yang “ditemukannya” sambil diberi tulisan NKRI berwarna merah. Dia juga dikabarkan menjanjikan para pengikut dan warga yang bersimpati dengan perjuangannya hektaran lahan dari ribuan hektar lahan yang nantinya bisa diambil “kembali” dari Malaysia. Tak ayal lagi, tidak sedikit warga perbatasan yang konon tergoda dengan dengan iming-iming Pariman tersebut. Tidak adanya klarifikasi resmi dari otoritas terkait (pemerintah) seolah membenarkan pernyataan Pariman.

Sebenarnya ini, bukan kali pertama Pariman menarik perhatian warga Sebatik. Sebelumnya, Pariman juga sempat menyentak perhatian Pemerintah setempat. Pariman rupanya bersurat kepada Presiden Joko Widodo yang tembusannya disampaikan ke berbagai instansi dan kementerian. Pariman mengadukan pemerintah Kecamatan Sebatik Utara bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) yang dianggapnya telah melanggar hak asasinya sebagai warga Indonesia dengan membubarkan kegiatan pengajian dan aktifitas perguruan bela diri yang dijalankannya di perbatasan Indonesia-Malaysia di pulau Sebatik.

Pemerintah Kecamatan Sebatik Utara bersama petugas keamanan setempat memang sempat meminta aktifitas “pengajian” yang dilakukan Pariman di wilayah itu agar dihentikan sampai mendapat legalisasi dari instansi terkait. Pada waktu itu, Indonesia sedang digemparkan dengan isu aliran sesat Gafatar. Guna mengantisipasi munculnya gerakan radikalisme dan ajaran menyimpang, Pemerintah pada waktu itu meminta kepada setiap satuan pemerintahan dari pusat hingga daerah agar dapat meningkatkan kewaspadaannya dan mengantisipasi tumbuh dan berkembangnya aliran sesat di daerahnya masing-masing.

Penduduk setempat melihat ada kejanggalan dari kegiatan Pariman dan pengikutnya. Selain dilaksanakan di wilayah Sebatik Malaysia itu, kegiatan "pengajian" dan aktifitas pengobatan Pariman juga dilakukan di tempat yang lelatif terisolir dari pemukiman penduduk. Menurut warga sekitar, kegiatan Pariman biasanya diselenggarakan pada malam hari. Pemerintah setempat yang mendapat laporan tersebut segera melakukan upaya preventif. Pariman diminta untuk dapat mendaftarkan kegiatannya tersebut ke Kesbangpol. Selama mengurus legalisasinya, Pariman tidak dibenarkan melakukan aktifitas dan kegiatan apapun di tempat tersebut. Pariman menyanggupi permintaan tersebut dan segera membubarkan kegiatannya pada saat itu.

Rupanya, aktifitas Pariman yang tidak lazim tersebut bukanlah pertama kali dilakukannya di Sebatik. Sebelumnya, Kepala Desa Maspul Kecamatan Sebatik Tengah dan masyarakat setempat meminta Pariman untuk meninggalkan desa mereka. Pariman tadinya berada di desa tersebut dengan dalih sebagai penggali sumur. Tidak lama berselang, Pariman kemudian mengaku melakukan aktifitas penggalian dan pencarian harta karun di wilayah tersebut. Menurutnya, harta karun Presiden Sukarno dan Jenderal Sudirman diperkirakan tertanam di wilayah perbatasan Desa Maspul. Karena kemampuannya mengobati, Pariman awalnya cukup diterima baik di desa tersebut. Namun seiring waktu, ibadah ritual yang dilakukan Pariman yang agak berbeda dengan ibadah ritual pada umumnya mengundang kecurigaan warga. Kecurigaan warga kemudian bertambah memuncak ketika seorang wanita yang mengaku sebagai isteri keduanya melapor dan membuat pengakuan melalui Pemerintah Desa. Wanita tersebut mengaku datang dari Jawa, khusus untuk menemui Pariman yang diketahuinya berdomisili di desa Maspul. Wanita tersebut bahkan memohon kepada Kepala Desa Maspul agar dapat membatunya untuk membujuk Pariman agar dapat segera pulang ke Bojonegoro guna menyelesaikan berbagai masalah yang ditinggalkan Pariman di kampung halamannya. Akumulasi dari berbagai kejanggalan dan munculnya beberapa potensi permasalahan yang dapat diakibatkan Pariman, mendorong Kepala Desa Maspul mendatangi Pariman memintanya untuk menghentikan berbagai aktifitas yang dilakukannya dan sekaligus dapat meninggalkan desa yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.

Efek Surat Pariman

Kemendagri dan BNPP yang turut mendapatkan tembusan surat Pariman, segera melakukan konfirmasi keabsahan laporan Pariman tersebut ke Pemerintah Daerah. Bahkan beberapa orang yang mengaku diutus oleh “Pusat” berdatangan ke pulau Sebatik untuk memastikan kebenaran laporan sang "korban". Sayangnya, temuan mereka ternyata tidak se-dramatisir suratnya. Setelah para utusan itu pulang, tidak terdengar lagi kabar dan komentar terkait langkah yang telah diambil oleh Pemerintah Kecamatan tersebut.

Rupanya, selain bersurat ke Pemerintah pusat, Pariman juga aktif bergerilya mendekati tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh, termasuk ke DPRD Kab. Nunukan. Selain itu, Pariman juga aktif mendekati media sehingga berita tentang dirinya terus menjadi berita utama. Berita heroik Pariman sang Pahlawan yang “dizalimi” ini tidak saja mengundang simpatik, tapi juga berhasil menambah bobot ketokohan Pariman. Sepertinya, para pengikut dan simpatisannya yang bermukim di perbatasan negara berertambah yakin bahwa apa yang dilakukan Pariman ini memang berdasar adanya. Warga Sebatik Indonesia yang tadinya menggarap lahan di pinggir perbatasan, dikabarkan mulai merengsek masuk ke utara melewati batas negara yang sementara disepakati kedua negara di Pulau Sebatik. Hal tersebut, tidak urung mulai mendapat protes keras dari warga Sebatik Malaysia yang merasa lahannya digarap oleh warga Sebatik Indonesia.

Tersiar kabar jika aktifitas Pariman juga mulai dipantau oleh otoritas Malaysia. Menurut informasi, satuan kepolisian setempat bahkan mulai siap siaga menunggu perintah dari kerajaan Malaysia dalam menyikapi “pencerobohan” Pariman dan kawan-kawan. Sebagian warga Sebatik pun mulai khawatir jika ulah Pariman ini akan merusak hubungan kedua belah pihak yang selama ini berlangsung baik. Dampaknya dikawatirkan akan berpengaruh pada pemenuhan barang-barang kebutuhan pokok warga Sebatik Indonesia dari Malaysia maupun pemasaran komoditas pertanian dan perikanan warga Sebatik Indonesia ke Tawau Sabah Malaysia.

Mencermati aktifitas Pariman yang menguat kembali pasca pengibaran bendera merah putih di patok krucut, Pemerintah Kecamatan dan unsur Muspika serta perwakilan kelompok masyarakat setempat bersepakat bahwa aktifitas Pariman harus bisa dikendalikan dan diambil langkah-langkah tegas namun terukur. Selain itu, pusat kegiatan Pariman yang berlokasi di wilayah Sebatik Malaysia juga dilihat akan membahayakan posisi Pariman dan pengikutnya jika tertangkap oleh otoritas Malaysia. Bagaimana pun ulahnya, Pariman adalah warga negara Indonesia yang wajib dilindungi keamanan dan keselamatannya oleh negara. Pemerintah setempat tidak ingin Pariman ditangkap dan diproses menurut hukum negara tetangga.

Hasil rapat memutuskan bahwa tindakan yang akan diambil terhadap Pariman dan pengikutnya haruslah mendahulukan pendekatan persuasif. Rapat menyimpulkan bahwa pelanggaran nyata yang dilakukan Pariman saat ini adalah pelanggaran peraturan bidang kependudukan, mengingat Pariman hingga saat itu masih berstatus sebagai penduduk Bojonegoro, pada hal Pariman telah hampir satu tahun berdomisili di wilayah Sebatik. Disadari bahwa upaya Pemerintah Kecamatan tidak akan mudah, pemberitaan media dan pembelaan dari beberapa tokoh yang selama ini menyudutkan pemerintah setempat akan menjadi tantangan yang juga harus diperhitungkan. Namun untuk kepentingan masyarakat luas dan wibawa negara di perbatasan, Pemerintah Kecamatan dan Unsur Muspika akhirnya memutuskan untuk tetap menindaklanjuti hasil keputusan rapat dan siap menghadapi resiko kritik dan cemoohan dari para pengikut dan simpatisan Pariman.

Rupanya, pendekatan tersebut dilihat Pariman sebagai upaya pengusiran. Dengan modal jaringan yang dimilikinya, aparat pemerintah kembali dipojokkan oleh beberapa tokoh yang mendapat informasi sepihak dari Pariman. Kondisi ini diperburuk lagi dengan headline berita yang terkesan provokatif dan memihak kepada Pariman. Ketua KNPI Prop. Kaltara bahkan meminta agar Camat Sebatik Utara yang memimpin kegiatan tersebut dicopot jabatannya. Seorang yang mengaku staf ahli dari salah seorang anggota DPD RI perwakilan Kalimantan Timur/Utara, juga disinyalir turut menghujat kebijakan Camat Sebatik Utara tersebut. Mereka semua bersimpati kepada Pariman sang “penemu” patok krucut yang tidak dihargai sebagaimana mestinya (http://kaltara.prokal.co/read/news/2634-miris-perjuangkan-patok-perbatasan-warga-diusir-dari-tanah-sebatik.html.) 

Patok Krucut dan Penemunya.

Patok Krucut adalah patok yang bentuknya segi empat dan di atasnya dipayungi plat besi baja berbentuk krucut. Patok ini berada sekitar 2 s.d 3 km dari patok perbatasan yang ada di sebatik saat ini, setidaknya demikian pengakuan Pariman di media. Oleh Pariman, patok ini diklaim sebagai patok perbatasan yang sebenarnya. Apa yang diyakininya tersebut berdasarkan informasi yang menurutnya diperoleh dari Raja Bulungan. Bahkan, menurut Pariman, Raja Bulungan mendukung apa yang dilakukannya di Sebatik.

Sebenarnya, informasi terkait patok tersebut sudah diketahui oleh masyarakat Sebatik Tengah, jauh sebelum Pariman berdomisili di Sebatik. Tokoh masyarakat setempat di Aji Kuning seperti Anton Diaz, Sunardin, Suparman, Mardin, Makka dan Abdul Hamid dan beberapa lainnya mengaku sudah pernah sampai di tempat tersebut. Danramil Sebatik, Kapten Sudirman, bahkan mengaku telah menemukan patok krucut tersebut sejak awal tahun 2000-an ketika bertugas pertama kali di pulau Sebatik. Camat Sebatik Tengah, Harman, S.IP, beserta Tim Garda Batas Sebatik Tengah juga mengaku telah mendokumentasikan 2 patok krucut yang ditemukannya pada bulan November 2012 yang lalu. Temuan dan dokumentasinya pun telah dilaporkan Harman ke Pemerintah Daerah, BNPP dan TNI dan pihak terkait lainnya.

Jika dicermati informasi yang disampaikan Pariman melalui media, posisi patok krucut berkisar antara 2 s.d 3 km dari patok perbatasan yang ada sekarang. Hal tersebut diamini oleh Camat Sebatik Tengah dan Danramil Sebatik. Dengan asumsi bahwa jarak patok krucut, rata-rata berjarak 2 km dari patok perbatasan yang ada sekarang saja, maka akan diperoleh luasan lahan + 2500 Ha. Jika merujuk pada keterangan Danramil Sebatik bahwa untuk titik koordinat 4'10" di patok 3, hanya berjarak lebih kurang 150 s.d 200 meter dari patok perbatasan yang ada sekarang. Jika diakumulasi penyimpangan patok dari titik koordinat yang disepakati oleh kedua bekas penjajah, maka diperkirakan Indonesia berpotensi dirugikan sekitar 120 Ha (ada yang mengatakan 80 Ha). Perbedaan angka ini saja sudah cukup mengindikasikan bahwa patok krucut tersebut kemungkinan besar bukanlah patok perbatasan yang diwariskan oleh Belanda dan Inggris sebagaimana diyakini Pariman dan pengikutnya.

Melihat jarak patok krucut dari patok perbatasan yang begitu jauh, diperkirakan bahwa patok tersebut adalah patok referensi/rujukan yang digunakan oleh negara tetangga untuk memantau dan mengetahui posisi patok perbatasan negara yang diakui sementara saat ini. Itulah sebabnya, kenapa penjagaan patok perbatasan di Sebatik Malaysia tidak seketat pengamanan patok di Sebatik Indonesia. Jarang sekali ditemukan adanya satuan pengamanan perbatasan Malaysia yang berpatroli mengecek patok perbatasan yang ada di Sebatik saat ini. Adapun catatan yang tercetak warna putih dibalik besi baja model krucut, tertulis tahun 1979 dan 1991 (http://www.bursamusik.org/watch?v=Ya0ZC3oRT4Y), diperkirakan merupakan catatan tahun pembuatan atau tahun pengecekan patok yang dilakukan oleh otoritas Malaysia.

Wallahu a’lam

 

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar