JAGUNG REBUS PUNYA CERITA

JAGUNG REBUS PUNYA CERITA

Lelah mengendarai si hitam dari Sebatik, mataku sesekali menyisir kiri kanan jalan sei jepun…. Tiba-tiba aku melihat panci hitam dipanggang di atas tungku… Ku pandangi di sekitarnya, berserakan kulit jagung muda. “Wah, ini pasti jagung rebus,” pikirku… Segera ku injak dan kutekan rem bersamaan…

Motor lawas kesayanganku berhenti persis di depan gubug sederhana itu… Dari tempatku berhenti, aku masih sempat memandangi atap kantor Bupati yang terbilang megah itu… Ku duduk di ujung lantai gubug sambil menjuntaikan kedua kakiku ke tanah…aliran darah terasa perlahan mulai mengalir normal hingga ke ujung jari-jari kakiku..

Benar saja, itu jagung rebus… Selain bekas-bekas daunnya yang masih tersisa di beberapa sudut gubug, asap berhawa panas yang membawa bau yang khas, pada saat tutup panci dibuka, semakin memperjelas dugaanku…Segera ku minta dihidangkan beberapa buah…

Ku gigit buah pertama tuk mengganjal perut yang mulai kosong setelah terguncang di atas roda dua dan perahu domfeng hampir dua jam… “wuih…lembut, manis, dan renyah,” w.

Tidak cukup satu, ku ambil buah jagung kedua. Sesekali kuseka dengan air garam di atas bulir-bulirnya yang menguning..Hmmm…. Kukunyah dan kunikmati gigitan demi gigitan sambil sesekali memejamkan mata… mmmmm… Tidak terasa, butir demi butir terpisah dari tongkolnya….”buk!”, bunyi tongkol kedua menghantam tong sampah di sebelahku.

Kembali ku kupas kulit jagung ketiga… setelah kubersihkan “rambut-rambut pirangnya” yang terselip di antara bulirnya, tanpa ampun kembali kugigit hingga hampir ludes…

Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang berubah. Kupegangi bibirku yang tiba-tiba terasa panas dan seolah berubah ukuran… “wuh…wuh…wuh, pedas!” aku membatin sendiri. Sambil menahan pedas, seolah tanpa jera, kembali kulanjutkan gigitan-gigitanku pada bulir-bulir jagung yang mulai terlihat menancap di permukaan tongkol secara tidak beraturan… meski belum terlalu bersih, tongkol ketiga segera melayang ke tong sampah “buk!”

 

Tidak ingin rugi, kuminta dibungkuskan beberapa buah jagung yang sudah terlanjur tersaji di sampingku… “sekalian buat oleh-oleh untuk orang di rumah,” pikirku. Kebetulan, ibuku juga menitip sekantong buah tomat dan cabai segar yang dipetik dari kebunnya tadi pagi untuk orang di rumah. Jadi sekalian kugabungkan supaya kelihatan banyak…hehe…

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar