KERJA ADALAH POLITIK TERTINGGI

KERJA ADALAH POLITIK TERTINGGI

Tidak akan lama lagi, siswa akhir -baik di jenjang SLTP maupun SLTA dan yang sederajat- akan memasuki Ujian Akhir Nasional. Suatu momen yang ditunggu, tapi juga momen yang mendebarkan bagi sebagian siswa lainnya. Karena di sini, nasib pendidikan siswa selanjutnya akan ditentukan. Tulisan ini, tidak untuk ikut-ikut menggugat UAN, karena itu jauh dari kompetensi penulis. Hanya saja ide tulisan ini muncul satu tahun yang lalu -pada saat hangt-hangatnya kontroversi UAN-, muncul sebuah status di media sosial dengan judul “Pendidikan (Masih) Politik Tertinggi”. Status tersebut ditulis dan diunggah oleh Dr. Nasrullah Zarkasyi, MA, putera dari salah seorang pendiri Pondok Modern Darussalah Gontor Ponorogo dan salah seorang dosen pada Universitas Islam Darussalam (UNIDA).

Apa yang unik dari tulisan tersebut, menurut penulis, adalah judulnya. Judul tulisan di atas mengawinkan dua konsep/istilah, yang sebagian kita melihatnya saling bertolak belakang, yakni ‘Pendidikan’ dan ‘Politik’. Ibarat warna, politik adalah warna yang diidentikkan dengan warna hitam dan pendidikan adalah warna putih. Dalam drama dan film action, kita tentu familiar dengan istilah “golongan hitam” dan “golongan putih”. Golongan hitam adalah kelompok orang yang selalu diidentikkan dengan perbuatan onar dan kejahatan (antagonis). Golongan putih sebaliknya diidentikkan dengan kelompok yang datang untuk membasmi kejahatan (protagonis). Dalam konteks ilmu, kita juga mengenal istilah ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam adalah ilmu yang identik dengan ajaran mistis, santet, perdukunan dan lainnya. Sementara ilmu putih adalah ilmu yang identik dengan ajaran kebaikan, kebajikan dan moral. Demikianlah pandangan sebagian kita terhadap politik praktis saat ini, dan sekaligus gambaran begitu besar harapan kita pada pendidikan.

Menurut Nasrullah Zarkasyi, pendidikan adalah Politik Tertinggi dalam hal pencarian pengaruh dan kekuasaan, namun dengan tujuan mulia, dan dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan. Pendidikan seperti halnya politik kekuasaan juga berupaya untuk dapat mempengaruhi sebanyak mungkin orang atau peserta didik agar nilai-nilai kebaikan dan ilmu yang diajarkan itu sendiri dapat disebarkan sehingga memberi manfaat yang setinggi-tingginya bagi sebanyak-banyaknya umat manusia. Dengan demikian, diharapkan manfaat pendidikan itu tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tapi juga kembali kepada sang pendidik sendiri. Manfaatnya dapat berupa bertambahnya ilmu dan pengetahuan, pengalaman, kewibawaan, kepuasan bathin dan bahkan menjadi amal ibadah. Pendidikan dalam kacamata politik tertinggi melihat materi bukan sebagai tujuan, tapi sebagai akibat.

Aristoteles sendiri mendefiniskan politik dari perspektif yang positif. Menurutnya, politik adalah usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Namun pemikir dan pakar bidang politik lainnya berpendapat bahwa politik sejatinya adalah konsep sekaligus model praksis yang bersifat netral. Mengacu pada perspektif kedua tersebut, penulis mengibaratkan politik sebagai pisau. Pisau memberi manfaat jika digunakan sesuai peruntukan dan fungsi sebenarnya, misal untuk memotong sayur, ikan, daging atau memotong dan membelah kayu. Namun, pisau juga dapat menimbulkan mudharat jika digunakan untuk mengancam dan menikam orang lain. Manfaat atau mudharat politik dan pisau sebagai alat tunduk pada keinginan user-nya, bukan pada politik atau pisau itu sendiri. Namun realitas praktik politik yang lekat dengan praktek meluaskan kekuasaan dan pengaruh dengan menghalalkan berbagai cara dan intrik, seolah menjustifikasi bahwa politik memiliki makna tunggal, seperti yang tergambar dari representasi praktik politik pada umumnya dewasa ini. Alternatif politik dengan makna yang lebih netral dan bahkan positif, terkubur dan seolah tidak ada.

Penulis sendiri mencoba menggunakan analogi politik tertinggi dalam dalam konteks kerja. Menurut hemat penulis, kerja adalah juga politik tertinggi. Tentunya dalam hal pencarian pengaruh dan mungkin juga kekuasaan untuk tujuan mulia yang dilandasi cinta dan keikhlasan pula. Siapapun yang bekerja, pasti berkeinginan agar pekerjaannya berlangsung secara efektif dan membuahkan hasil yang terbaik. Cara dan tujuan itu akan mudah dicapai jika seorang pekerja memiliki pengaruh atau bahkan kekuasaan. Pengaruh dan atau kekuasaan itu akan memberi nilai tambah pada pekerjaannya. Bagi mereka yang bekerja dalam berbagai profesi mulia dengan cara terbaik yang mereka bisa lakukan untuk suatu tujuan mulia dan dilandasi cinta dan keikhlasan, maka sesungguhnya mereka berpolitik dalam tataran politik tertinggi.

Bagi seorang pekerja dengan paradigma politik tertinggi, tugas pokok dan kewenangan dijadikan alat untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri itu dikejawantahkan dalam bentuk pemberian pelayanan, bantuan, fasilitasi dan kemudahan bagi orang lain. Bagi seorang pekerja dengan paradigma politik tertinggi, dia membesarkan dan menjaga wibawa organisasi, atasan, dan koleganya dengan cara kerja dan hasil kerja terbaik. Bagi seorang pekerja dengan paradigma politik tertinggi, tidak ada pekerjaan baik dan halal yang hina.

Bagi seorang pekerja dengan paradigma politik tertinggi, dia tidak akan mengejar kekuasaan dan pengaruh dengan cara-cara yang tidak elegan. Bagi seorang pekerja dengan paradigma politik tertinggi, tidak dikenal istilah menghalakan segala cara untuk mendapatkan kedudukan. Karena itu, seorang pekerja dengan paradigm politik tertinggi tidak akan tega “menyikut” orang lain, mengambil hak-hak orang laing, mengkhianati rekan kerja, mem-by-pass atasan langsungnya, atau “menjilat” kepada atasan untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dalam suatu struktur organisasi. Kedudukan dan jabatan organisasi menurut pekerja dengan paradigm tertinggi adalah salah satu media untuk berbuat kebaikan dan menyebar kebajikan. Media lain masih ada dan terbuka, karena kebaikan tidak dibatasi ruang, bahkan waktu sekalipun.

Bagi pekerja dengan paradigm politik tertinggi, tidak ada yang lebih penting baginya kecuali kepercayaan. Karena kepercayaan adalah alat untuk dapat bertahan dalam “kekuasaan dan pengaruh”, kekuasaan dan pengaruh untuk dapat mengabdi dan berbakti kepada negaranya serta memberi manfaat kepada orang lain dengan cara membantu, memfasilitasi, dan memberikan pelayanan terbaik. Karena itu, dia akan memaksimalkan upayanya dengan cara-cara yang baik dan benar untuk menjaga setiap kepercayaan yang diberikan. Karena kehilangan kepercayaan baginya, ibarat kehilangan mahkota berharganya.

Kepercayaan bagi pekerja dengan paradigma politik tertinggi tidak hanya diperlukan dari atasan an sich, tapi juga dari rekan kerja, mitra kerja, dan yang lebih penting lagi adalah dari pelanggan/masyarakat yang menggunakan jasanya. Semakin banyak orang dan pihak yang menaruh kepercayaan kepadanya, maka semakin besar potensi manfaat yang dapat dia berikan. Dengan mengharmonisasikan ini semua, maka bagi mereka yang memandang bekerja adalah media aktualisasi politik tertinggi, tidak hanya mendapatkan materi (gaji dan tunjangan), tapi juga mendapatkan kepuasan, kebahagiaan dan bahkan menjadi amal ibadah baginya. Sekali bekerja, maka pekerja dengan model politik tertinggi, mendapatkan dua hingga tiga manfaat sekaligus. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang saat ini bekerja dalam berbagai jenis profesi, posisi, kedudukan dan jabatan yang diemban, memiliki peluang terbaik untuk dapat menebar kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Tentunya yang diharapkan adalah kerja yang tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban, tapi juga kerja yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh (keras), mengikuti kaidah keilmuan dan aturan (cerdas), tidak setengah-setengah (tuntas), dan dengan niat yang tulus (ikhlas). Bagi yang bekerja dengan cara ini, maka pekerjaan baginya adalah hiburan dan istirahat. Tidak bekerja baginya justeru menjadi beban dan mudharat.

*Penulis adalah alumni KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, dan berdomisili di Sebatik.

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar