MAHATHIR-ANWAR : DARI LAWAN TANDING JADI KAWAN SANDING

MAHATHIR-ANWAR : DARI LAWAN TANDING JADI KAWAN SANDING

Sumber Foto Ilustrasi : Internet

Mungkin tidak banyak yang memperkirakan sebelumnya, jika koalisi partai besar berkuasa puluhan tahun di Malaysia, Barisan Nasional (BN), pada akhirnya harus tumbang dan mengakui keunggulan koalisi partai oposisi Pakatan Harapan (PH). Dibentuk pada tahun 1973 oleh Tun Abdul Razak Husin, ayahanda, PM Malaysia Muhammad Najib, BN kalah telak pada pemilu yang digelar pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2018 kemarin. Ironisnya, partai tersebut tumbang di tangan orang yang telah membesarkannya, Datuk Dr. Mahathir Muhammad.

Namun satu hal yang menggembirakan dan patut diacungi jempol bahwa proses pemilihan umum hingga peralihan kekuasaan dari BN ke PH, berjalan dengan mulus dan tanpa gejolak yang berarti. Hal tersebut ditandai dengan telah diambilnya sumpah Perdana Menteri (PM) dan Wakil Perdana Menteri (Deputi PM) Malaysia oleh Yang dipertuan Agung di Raja Malaysia, pada hari Kamis tanggal 10 Mei 2018 yang lalu.

Ada satu fenomena menarik dari duet kepemimpinan baru di Malaysia kali ini. Pasangan PM dan Wakil PM Malaysia merupakan politikus yang sebelumnya merupakan lawan seteru. Wan Azizah Wan Ismail yang kini menjadi Deputi PM, merupakan isteri dari lawan politik Mahathir. Wan Azizah merupakan pendiri dan pemimpin partai oposisi Partai Keadilan Rakyat/People Justice Party (PKR), partai utama dalam koalisi Pakatan Harapan yang juga digagasnya. Wan Azizah dikenal getol memperjuangkan hak-hak asasi suaminya, Anwar Ibrahim, sejak dipecat dari jabatan Wakil Perdana Menteri oleh Perdana Menteri Mahathir Mohammad tahun 1998 yang lalu. Tidak hanya dipecat, Anwar juga dibuih atas tuduhan pelanggaran hukum dan asusila. Adapun Mahathir Mohammad yang menjabat PM, merupakan mantan atasan dan mentor suaminya. Mahathir inilah yang selama ini diduga kuat menjadi "master mind" di balik penjeblosan Anwar Ibrahim kedalam penjara pada tahun 1999 yang lalu.

Di balik semua itu, sebagai sebuah proses dan gerakan politik, koalisi yang dibentuk PH dalam pemilu Malaysia ini tidak mampu menyembunyikan realitas-realitas transaksional kekuasaan yang kental. Pemilu Malaysia ke-14 tersebut, semakin menegaskan kebenaran adagium politik yang populer bahwa "dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, melainkan kepentingan". Dipersatukan oleh kepentingan yang sama dengan Anwar, Mahathir yang bergabung dalam koalisi PH belakangan namun kemudian diganjar dengan jabatan kursi PM menyadari sepenuhnya bahwa di balik kelapangan dada Anwar dan isterinya, ada harga yang harus dia bayar. Sebagai politisi gaek, Mahathir memahami bahwa di dunia ini, apalagi dalam politik"tidak ada makan siang gratis (No Free Lunch)".

***
Jika saja Anwar menahan diri untuk tidak mengkritisi dan bahkan melawan kebijakan-kebijakan Mahathir yang dianggapnya mulai banyak menyimpang di akhir pemerintahannya, estafet kepemimpinan hampir dipastikan telah diserahkan kepada Anwar. Manuver-manuver Anwar telah membuat gerah Mahathir dan Barisan Nasional. Manuver dan perlawanan inilah kemudian yang diduga kuat menjadi salah satu penyebab dijebloskannya Anwar ke penjara pada tahun 1999 atas tuduhan korupsi dan perilaku seksual menyimpang yang tidak pernah diakuinya.

Penjara telah membuat perlawanan Anwar kepada pemerintahan di bawah BN, semakin menjadi-jadi. Sekalipun kepemimpinan pemerintahan dan partai terbesar itu telah berganti dari Mahathir Mohammad lalu ke Ahmad Badawi dan terakhir kepada Najib Tun Razak, namun kegarangan Anwar yang didukung penuh oleh keluarganya tidak pernah surut. Pernah menguasai mayoritas suara Parlemen bersama koalisi oposisi yang dikendalikannya, hasil pemilu tahun 2013 tidak dengan sendirinya berhasil mengantarkan oposisi yang dipimpin Anwar untuk dapat membentuk pemerintahan.

Melihat pamor dan pengaruh Anwar yang terus menguat pasca mengakhiri masa hukumannya , tuduhan-tuduhan pelanggaran hukum terus menjadi batu ganjalan dalam karir politiknya hingga membuatnya mendekam di penjara hingga kini.

***
Dapat dibayangkan betapa sakit fisik dan psikis Anwar dan keluarga besarnya ketika mantan Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan di era Mahathir Muhammad itu dipenjara karena tuduhan-tuduhan yang tidak pernah diakuinya hingga hari ini. Sempat bebas lalu didakwa bersalah lagi atas tuduhan yang lebih kurang sama pada tahun 2008. Anwar dapat sedikit bernafas lega ketika pengadilan tinggi Kuala Lumpur memvonisnya tidak bersalah pada tahun 2012.

Malangnya, Anwar kembali diputuskan bersalah oleh putusan pengadilan tinggi tanggal 7 Maret 2014 atas tuduhan sodomi. Rangkaian proses hukum yang dijalaninya tersebut menghalanginya untuk dapat mengikuti beberapa kali pemilu untuk memilih perwakilan partai ke parlemen.

Sekalipun sempat menempuh jalur banding untuk melawan putusan tersebut, namun vonis tersebut kemudian kembali diperkuat oleh keputusan pengadilan federal pada tanggal 10 Februari 2015. Anwar dijatuhi vonis 5 tahun penjara yang dijalaninya hingga sekarang.

Akibat sakit luar dan dalam itulah, akhirnya Anwar dan isterinya, Wan Azizah Wan Ismail, melakukan perlawanan habis-habisan untuk menumbangkan partai koalisi yang memerintah. Hebatnya, bentuk perlawanan yang dipilihnya, tetap dalam jalur konstitusional. Dari tempat yang berbeda -Anwar di dalam penjara dan isterinya di luar-, keduanya membentuk wadah perjuangan dalam berupa partai politik yang mereka namakan "Parti Keadilan Rakyat (People Justice Party").

PKR yang terbentuk secara resmi pada tanggal 3 Agustus 2003 ini merupakan gabungan dua partai yang tadinya bernama Parti Keadilan Nasional dan Parti Rakyat Malaysia. PKR ini kemudian berhasil mengkonsolidasikan beberapa partai oposisi Pemerintah dalam suatu koalisi partai yang mereka namakan "Pakatan Rakyat" di mana Wan Azizah dipercayakan sebagai presidennya. Pakatan Rakyat terdiri atas tiga partai utama : PKR, DAP (Democratic Action Party) dan PAS (Parti Islam se-Malaysia). Seiring dengan keluarnya PAS dari koalisi akibat berkonflik dengan DAP terkait wacana pemberlakuan syariat Islam, pada tanggal 22 September 2015, Pakatan Rakyat (PR) berubah nama menjadi Pakatan Harapan (PH).

Jika mencermati garis perjuangan politik Anwar, terdapat benang merah yang masih melihatkan konsistensi pemikiran dan gerakannya. Isu yang konsisten diusungnya menyangkut perwujudan pemerintahan yang bersih.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa isu kronisme yang mendera keluarga dekat Mahathir adalah isu yang merenggangkan hubungan keduanya di akhir pemerintahan Perdana Menteri terlama di eranya itu. Isu korupsi 1Malaysia Development Berhard (1MDB) yang diduga dilakukan oleh Najib, menjadi salah satu pemantik gerakan perlawanannya kemudian. Isu terakhir inilah yang kemudian yang justeru mempersatukannya dengan Mahathir Muhammad, bekas teman dan sekaligus musuh bebuyutannya tersebut, saat ini.

Mantan murid dan mentor yang pernah bersitegang dan berseberangan itu, kemudian sadar bahwa Najib yang berlindung di balik partai koalisi besar dan mapan, BN, masih merupakan lawan yang tangguh dan tentu akan sangat sulit ditumbangkan melalui perlawanan partai-partai oposisi secara sendiri-sendiri. Perlu menggalang persatuan dalam bentuk koalisi besar. Karena itu, PH di bawah kepemimpinan Wan Aziziah akhirnya sepakat menerima penggabungan PPBM yang dipimpin oleh Mahathir Muhammad kedalam barisan koalisi.

Di usianya yang telah sepuh, Mahathir mengaku terpanggil untuk turun tangan menyelamatkan Malaysia. Sebagai PM terlama yang telah membawa Malaysia pada posisi yang diperhitungkan seperti sekarang, Mahathir geram dengan skandal-skandal dan arah politik Najib yang dianggap melenceng dari paltform dasar BN. Saking geramnya, Mahathir mendirikan wadah perjuangan untuk melawan partai koalisi BN yang telah dibesarkan dan membesarkannya. Seperti yang dilakukan Anwar, Mahathir membentuk partai perlawanan baru, Parti Pribumi Bersatu Malaysia/PPBM (Malaysian United Indigenous Party Malaysia). Selain Mahathir, pendiri PPBM sebagian besar merupakan mantan pengurus partai UMNO (United Malays National Organisation), partai yang pernah digawangi oleh Mahathir dan merupakan partai mayoritas dalam BN. Pada tangal 14 Maret 2017, PPBM resmi diterima sebagai bagian dari koalisi PH dalam rangka menghadapi pemilu 2018.

Jika koalisi Pakatan Harapan itu berhasil memenangkan pemilu, koalisi bersepakat bahwa Mahathir yang akan dinominasikan menjadi PM. Sebagai kompensasi, Anwar dan isterinya mengajukan sedikitnya tiga syarat :
1. Wan Azizah disepakati untuk menjadi Wakil Perdana Menteri mendampingi Mahathir
2. Mahathir diminta untuk menjamin akan berusaha membebaskan dan memintakan pengampunan hukum kepada Anwar.
3. Jika Anwar telah bebas, maka Mahathir bersedia menyerahkan kursi PM kepada Anwar.

Entah apa yang ada dalam benak Mahathir. Mahathir ternyata menyetujui semua-semua syarat-syarat yang diajukan pihak Anwar tersebut. Jika tidak ada skenario lain di baliknya, mungkinkah pengorbanan Mahathir sebagai bentuk "pembersih dosa" atas apa yang pernah dilakukannya terhadap Anwar?

Dan seperti yang kita lihat bersama, Pakatan Harapan telah berhasil memenangkan pemilu Malaysia dengan menumbangkan partai terlama yang pernah memerintah Malaysia, BN. Sesuai konstitusi Malaysia yang menganut sistem Parlementer, partai yang memperoleh kursi terbanyak di parlemen, secara otomatis diberikan mandat untuk membentuk kabibet Pemerintahan.

Seperti yang kita saksikan dilayar kaca dan diulas diberbagai media cetak serta online berskala nasional maupun internasional, Mahathir akhirnya resmi dilantik sebagai PM Malaysia menggantikan Najib pada tanggal 11 Mei 2018 lalu. Dengan usia menjelang 93 tahun, saat ini, Mahathir sekaligus tercatat sebagai pemimpin negara tertua di dunia.

***
Andai saja karir politik Anwar tidak terganjal masalah hukum yang membelit dirinya hingga belasan tahun lamanya, arah politik Malaysia kemungkinan tidak akan seperti hari ini. Dengan demikian, Najib pun belum tentu akan mendapatkan kursi panas PM yang juga akan sekaligus memperkecil peluangnya untuk terjerumus dalam skandal korupsi terbesar sepanjang sejarah Malaysia yang dituduhkan kepadanya itu.

Tapi rencana Tuhan memang yang pada akhirnya terjadi. Tuhan memperlihatkan bahwa kekuasaan dapat membuat segalanya menjadi berbeda dan berubah. Kekuasaan dapat membuat orang lupa diri -seperti yang diduga dialami Najib-, atau melupakan sejenak penderitaan lahir dan bathinnya -seperti yang dirasakan Anwar dan keluarganya-, untuk kepentingan yang lebih besar.

Kita tinggal menunggu Mahathir untuk menunaikan janji-janjinya kepada rakyat Malaysia dan terutama janjinya kepada Anwar Ibrahim. Semoga tidak ada perbedaan kepentingan yang mendasar yang akan merubah skenario yang telah disepakati. Yang tidak kalah pentingnya, kita patut mengucapkan selamat kepada pemimpin dan rakyat Malaysia karena telah mampu melakukan transisi pergantian pemerintahan dengan damai dan tanpa pertumpahan darah sediktipun.

Bagi masyarakat perbatasan yang bertetangga langsung dengan Malaysia, tentu kita berharap agar ekonomi Malaysia di bawah PM. Mahathir dapat pulih kembali sehingga barang-barang kebutuhan pokok yang selama ini turut dinikmati oleh warga perbatasan Indonesia lebih mudah dan murah.

Sebatik, 13 Mei 2018

Referensi :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/05/12/p8kqap440-mahathir-dari-pengampunan-anwar-hingga-perang-lawan-korupsi

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Anwar_Ibrahim

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Pakatan_Harapan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wan_Azizah_Wan_Ismail

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Barisan_Nasional

https://dunia.tempo.co/read/1088086/eksklusif-najib-razak-minta-maaf-putri-anwar-ibrahim-bilang?utm_source=dable

https://dunia.tempo.co/read/1087442/mahathir-jadi-pm-malaysia-wan-azizah-jadi-wakilnya?utm_source=dable

https://www.rappler.com/indonesia/141614-5-hal-soal-perdana-menteri-najib-razak

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44036558

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar