MASYARAKAT ASEAN : BAGAIMANA AGAR TIDAK BUNTUNG

MASYARAKAT ASEAN : BAGAIMANA AGAR TIDAK BUNTUNG

Setelah saya hitung, dokter yang ada di Kab. Nunukan, puluhan jumlahnya. Bagi saya, puluhan itu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi jika dikonversikan ke rupiah biaya pendidikan yang mereka habiskan untuk menggapai titel itu. Itu belum saya hitung dokter spesialis yang belasan jumlahnya. Wow Nunukan memiliki tenaga-tenaga fungsional langka yang tidak hanya dibutuhkan Nunukan atau Indonesia, tapi saya yakin juga langka dan sangat dibutuhkan oleh negara tetangga kita, Malaysia.

Saya masih ingat jelas, pada saat saya kuliah di Universitas Hasanuddin di akhir tahun 90-an hingga awal tahun 2000an, saya sering berpapasan dengan mahasiswa kedokteran yang gaya berpakaiannya khas dan logat melayunya kental. Mereka adalah mahasiswa asal Malaysia yang menempuh pendidikan atau dikirim secara khusus oleh Pemerintah Malaysia untuk menimba ilmu di Indonesia, khususnya ilmu kedokteran. Jika demikian, dapat saya simpulkan bahwa ilmu kedokteran di negara kita adalah sesuatu banget bagi negara tetangga itu.

Saya tertarik mengamati progres masyarakat asean ( asean community) yang salah satu pilarnya adalah masyarakat ekonomi asean yang katanya sekarang telah berlangsung. Pilar yang lain adalah masyarakat Sosial-Budaya Asean, selain tentu saja masyarakat keamanan asean.

Apa yang terjadi setelah tahapan demi tahapan masyarakat asean itu berjalan? Rasanya saya tidak melihat sesuatu yang signifikan yang menguntungkan pihak kita (Indonesia). Apa yang saya rasakan, yang terjadi malah sebaliknya, interaksi antar negara asean semakin ketat. Pengamanan di perbatasan antar negara semakin meningkatnya. Setidaknya itu saya tangkap di perbatasan negara yang saya tinggali.

Masyarakat Nunukan sebagai contoh, kini mengeluhkan semakin ketatnya kebijakan Pemerintah Malaysia terhadap arus barang dan manusia ke negara itu. Pada hal, bayangan awam, mereka pernah membayangkan sebaliknya. Implikasinya, karena dijalur resmi semakin ketat dan bertele-tele, tidak sedikit yang menjadikan alasan untuk memanfaatkan jalur tidak resmi (illegal). Atas pertimbangan kemanusiaan dan kebutuhan dasar, otoritas yang ada pun seakan meng-aminkan alasan itu.

Ilustrasi lain, skema kerjasama perdagangan di perbatasan antar negara, cenderung tidak fair. Tawau Malaysia sangat tidak akomodatif terhadap komoditas olahan dari Nunukan dan wilayah lainnya. Tapi untuk komoditas bahan baku, tidak terjadi kebijakan serupa. Komoditas apapun dengan mudahnya dapat masuk ke Tawau tanpa memandang apakah dengan cara legal atau sebaliknya. Salah satu masalahnya, terletak pada perjanjian Border Trade yang disepakati antar dua negara di tahun 70an yang memang tidak adil dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan kekinian. Celakanya, Malaysia selalu menolak untuk merenegoisasi ulang kesepakatan usang tersebut. Kenapa? Karena itu sangat menguntungkan mereka. Implikasinya, Nunukan dan bahkan Kaltara secara luas mengalami defisit perdagangan dengan Tawau Malaysia yang sangat lebar.

Saya belum sampai pada poin yang ingin saya sampaikan…
To be continued…

Foto : srbagian kecil dokter yang tergabung dslam IDI Nunukan.FB_IMG_1502975680372

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar