MELIHAT KIPRAH PENDATANG BUGIS DI SABAH

MELIHAT KIPRAH PENDATANG BUGIS DI SABAH

Ilustrasi : Keluarga Bugis di perantauan

Menarik mendengarkan kiprah para perantau asal tanah Bugis di negara Bagian Sabah Malaysia. Bukan saja karena jumlah mereka yang cukup besar di wilayah ini, tapi peran-peran mereka di berbagai sektor semakin diperhitungkan di negeri bagian kedua terbesar di Malaysia tersebut.

Saat ini, mereka cukup diperhitungkan perannya dalam perekonomian di negeri di bawah bayu itu. Bukan lagi hanya sebagai pekerja kasar, tapi juga sebagai pemilik modal. Konon, satu-satunya "ancaman" ekonomi bagi warga keturunan Tionghoa di negeri ini adalah perantau asal Sulawesi Selatan tersebut.  (lihat : https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Bugis_di_Sabah)

Selama beberapa dekade, perekonomian di negara Bagian Sabah Malaysia memang terlihat dikuasai oleh keturunan Tionghua perantauan. Namun kini, terjadi pergeseran peran, Bugis perantau maupun keturunannya mulai memegang dominasi ekonomi (lihat : W. Shawaluddin W. Hasaan dkk "Dimensi Ekonomi-Politik Pendatang Asal Indonesia di Sabah" dalam Borneo Research Journal, Vol. 2, December 2008)

"Orang tempatan yang ingin berbisnis dan membutuhkan uang, lebih suka bertransaksi dengan orang Bugis, sebab mereka tidak seperti orang "C**a" yang suka tunda-tunda pembayaran, orang bugis berani bayar cash", ungkap salah satu informan yang saya temui.

Tidak heran sekarang bermunculan warganegara Malaysia suku Bugis atau keturunannya yang secara ekonomi mapan, bahkan tidak sedikit yang lebih mapan dari orang-orang Tionghoa yang selama ini dikenal menguasai ekonomi. Mereka masuk tidak hanya pada sektor perkebunan, tapi konon juga bermain hingga pada sektor jasa transportasi, bisnis properti, kontraktor, perhotelan dan lain-lain. Bahkan, tidak sedikit keturunan Bugis yang menempati posisi penting dalam bidang pendidikan maupun politik dan pemerintahan.

Salah satu kelebihan orang Bugis adalah kemampuannya beradaptasi dengan cepat dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan suku asli setempat (orang tempatan). Sebagai contoh, di salah satu pusat pemukiman terpencil yang kami lewati, konon satu-satunya pedagang yang dipercaya menyediakan kebutuhan warga setempat adalah orang Bugis. Pada hal, jika dicermati, perkampungan yang terdapat rumah panjang tersebut, terletak sangat jauh dari pusat kota bahkan jauh dari perkampungan lainnya. Diapit oleh kawasan hutan lindung yang terbentang sepanjang ratusan km dari Tawau hingga Ranau.

"Rumah panjang ini dibangun oleh pemerintah dan diberikan secara gratis kepada penduduk tempatan. Hampir 100% penduduk kampung adalah suku asli kecuali satu keluarga yang berprofesi sebagai pedagang, dan itu ternyata suku Bugis Bone", tambah kemenakan yang menjemput dan menyopiri kami.

Dari Tawau hingga Kota Kinabalu, orang Bugis sangat mudah ditemukan. Bukan saja karena mereka bekerja hampir di semua sektor, tapi dapat dikenali dari bahasa dan cara mereka bertutur hingga pada adat istiadat yang sebagian besar masih mereka pegang dan junjung tinggi.

Ketika saya tanya, apa kelebihan orang Bugis dibanding warga pendatang lainnya, sang kemenakan menjelaskan bahwa orang Bugis itu tipe pekerja keras. Tidak gengsian dan mau mengerjakan apa saja, mulai dari menjadi buruh bangunan maupun buruh di perkebunan, sopir taksi, bis dan sopir truk, nelayan tangguh hingga menjadi pedagang. Mereka banyak yang cukup sukses di bidang perdagangan. "Orang Bugis itu berani mengambil resiko dalam berdagang", tambahnya.

Sang kemenakan yang beristerikan warganegara setempat itu sendiri mengaku dirinya juga bekerja serabutan pada saat awal menginjakkan kaki ke Sabah. Namun berkat kesabaran, kerja keras dan ketekunannya, dirinya saat ini sudah mampu menjalankan bisnisnya sendiri. Dari bisnis tersebut, keluarganya sudah mampu memiliki rumah dan mobil sendiri.

Selain cerita sukses di atas, keberadaan suku Bugis, tidak jarang dikeluhkan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat. Orang Bugis juga konon menjadi residivis dominan di rumah-rumah tahanan yang ada di wilayah tersebut baik karena persoalan dokumen keimigrasian maupun karena tindakan kriminalitas yang mereka lakukan.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar