MEMANCING IDE DI JEMBATAN BATU

MEMANCING IDE DI JEMBATAN BATU

Saya kira memancing ringgit, ternyata mereka lagi sedang memancing ikan. Ikannya kecil-kecil lagi. Kalau dijual dapatnya uang kecil juga, tidak dapat menutup harga kebutuhan bahan pokok yang sedang membumbung tinggi karena dipicu oleh nilai tukar ringgit yang lagi tinggi.

Bagi pedagang yang berdagang ke Malaysia, harga jual barang hanya menyesuaikan harga beli; harga beli tinggi, harga jual juga diangkat. Konsumen tidak berdaya, mereka juga tidak punya tradisi demo. Hanya pasrah dengan keadaan sebab memang demikianlah adanya dari sejak lama.

Selain masyarakat kecil, yang paling merasakan pengaruh fluktuasi nilai tukar ringgit ini adalah pegawai pemerintahan (PNS/Honoror dan petugas pengamanan lainnya). Sebab mereka bergaji rupiah yang belum mengalami kenaikan gaji sejak presiden Jokowi memegang kepemimpinan tampuk pemerintahan. Sementara, mereka harus tunduk pada keperkasaan ringgit yang menjadi alat tukar sebagian kebutuhan bahan pokok yang mereka konsumsi. Untuk survive, mereka dituntut bijak dalam mengatur pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan konsumsi. Kalau tadinya bisa ngopi pagi sore, sekarang tinggal pilih salah satunya, pagi saja atau sore saja. Kopi dan terlebih gula Malaysia, mahal. Tadinya terbiasa makan menu ikan setiap hari, diatur menjadi tiga atau dua kali dalam seminggu saja atau kurang dari itu. Sebab bagi suku Bugis yang merupakan penduduk mayoritas pulau Sebatik, tradisi makan ikan tidak perlu dikampanyekan, mereka konsumen fanatik menu ikan atau hasil laut lainnya sejak dari nenek moyang mereka lagi.

Sayangnya harga ikan juga menjadi lebih mahal. Ikan-ikan terbaik dikirim ke Tawau, demikian juga ikan dan hasil laut lainnya. Dari Tawau, konon ikan-ikan ber"size" diekspor ke negara lain. Ikan yang tidak layak ekspor, dipasarkan di pasar lokal (Tawau) dan yang tidak layak jual dan atau tidak layak konsumsi, diolah menjadi pakan ternak maupun produk turunan lainnya yang bernilai ekonomi. Inilah salah satu keunggulan pasar negara tetangga tersebut.

Daripada merenungkan nasib, saya diskusi singkat saja dengan dua orang pemuda yang juga lagi sedang bersepeda. Arahnya pada ide-ide yang kalau diterapkan dapat mengangkat pendapatan dan perekonomian masyarakat setempat.

Kami menatap jembatan-jembatan yang menjorok ke laut, termasuk jembatan batu yang sedang kami tongkrongi sore itu. Kami sepakat bahwa pasti akan menjadi sesuatu jika di beberapa sisi jembatan batu atau Posal (Pos Angkatan Laut) itu dibuat Cafe untuk tempat kongkow-kongkow para pemuda atau masyarakat Sebatik dan sekitarnya. Kebetulan mereka lagi sedang demam ngopi di Cafe.

Cafenya dibuat menghadap Tawau dan disiapkan menu-menu nusantara. Kami yakin, akan ada alasan penguat untuk orang luar datang ke pulau ini, mungkin termasuk orang Tawau, mereka pasti ingin tahu seperti apa kampung mereka dilihat dari luar.

Kami juga sepakat bahwa tumpukan batu penahan ombak dan abrasi yang beberapa waktu lalu dibuat itu menjadi kurang optimal manfaatnya. Abrasi tetap saja terjadi, dan batunya tidak bertambah, malah berkurang. Entah kemana.

Kalau saja penahan ombak itu dibuat di sepanjang sisi laut bagian timur pulau Sebatik -dari Sei Taiwan ke Sei Nyamuk-, lalu di atasnya diaspal atau dibeton, pasti akan ada multiplier effect. Penahan ombak yang bertujuan menghambat abrasi, dapat menjadi lokasi jogging track baru di atasnya. Bagian sisi dalamnya juga dapat disulap menjadi wahana wisata air yang tidak terpengaruh pasang surut air, sekaligus dapat menjadi cikal bakal water front city pulau Sebatik yang memang menjadi salah satu opsi pengembangan Kotamadya Sebatik.

Terakhir, kami sama-sama mengutarakan keprihatinan dengan masa depan generasi muda pulau Sebatik. Sebab narkoba semakin merajalela dan salah satu pintu utamanya, pulau Sebatik. Untuk isu ini, kami bubar dengan tanpa menghasilkan suatu kesimpulan dan kesepakatan terkait bagaimana mengatasi dan menghentikannya. Dan fikiran itu terus menggelayut dibenakku hingga ban sepeda menyentuh bagian depan teras rumahku. Rupanya aku sudah sampai di rumah.

Tulisan diadaptasi kembali dari Facebook

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar