MENEMUKAN PAKCIK YANG “HILANG”

MENEMUKAN PAKCIK YANG “HILANG”

Bersama Pakcik dan Makcil beserta sebagian Kecil Anak dan Cucunya

By : Harman

Manusia yang merencanakan dan Tuhan yang pada akhirnya menentukan adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pertemuan kami dengan keluarga besar Pakcik. Pakcik adalah sebutan untuk istilah Paman atau Om di Malaysia. Bertemu dengan Pakcik, menyisakan kesan dan kenangan tersendiri.

Paman dari isteri saya ini telah bermukim hampir setengah abad di Sabah Malaysia. Pakcik mulai merantau ke Balikpapan pada tahun 60-an dan tiba di Sabah Malaysia pada awal tahun 70-an. Bertemu dengan pujaan hati yang merupakan wanita keturunan Brunei berkewarganegaraan Malaysia beberapa tahun kemudian, Pakcik memilih beralih kewarganegaraan Malaysia. Kini Pakcik dan Makcik (isteri Pakcik) tersebut telah dikaruniai 9 orang putera dan puteri. Sebagian besar putera dan puterinya telah bekerja, kecuali satu orang yang masih menempuh pendidikan keguruan di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Semenanjung Malaysia.

Pakcik dan Makcik kini menikmati hari tuanya di Papar (lebih kurang 30 km dari ibu kota negara bagian Sabah, Kota Kinabalu). Sehari-hari Pakcik dan Makcik menjalani kesehariannya dengan mengunjungi putera dan puteri yang telah berkeluarga atau bermain dengan para cucu-cucunya. Mensyukuri akan nikmat Tuhan yang diberikan kepada keluarganya, Pakcik mengaku lebih religius.

 ***

Pakcik adalah sosok keluarga yang pernah dianggap telah tiada. Selama lebih 40 tahun, keluarga kehilangan jejaknya. Begitu pula Pakcik, lama di perantauan, dia pun kesulitan melacak keluarganya. Pakcik tidak tahu lagi kemana dia dapat mencari tahu jejak anggota keluarganya. Pakcik pernah merasa pesimis untuk dapat bertemu dengan keluarganya di kampung setelah puluhan tahun di perantauan. Pakcik percaya bahwa orang-orang yang masih mengenali dirinya, pastilah sebagian besar telah tiada ada lagi, atau paling tidak telah berusia lanjut.

Hinggalah suatu waktu, Pakcik berkenalan dengan seorang perantau asal Sulawesi Selatan. Usut punya usut, sang kenalan ternyata berasal dari daerah kelahiran Pakcik. Yang lebih mengejutkan lagi, kenalan tersebut mengenali orang-orang yang disebutkan Pakcik; bahkan mengaku bahwa beberapa nama yang disebutkan Pakcik masih hidup hingga saat ini.

Semangat Pakcik untuk dapat bertemu keluarganya kembali muncul. Betapa tidak, Pakcik merasa dirinya selama ini seperti orang asing di dunia. Pakcik seperti orang yang tidak memiliki kampung halaman dan handai taulan. Pada hal di hati kecilnya, Pakcik ingin pula memberi kebanggaan kepada anak cucu dan isterinya bahwa mereka juga punya keluarga besar dari pihaknya.

Pakcik pun menitip surat melalui kenalannya tersebut untuk diteruskan kepada keluarga di kampung. Inti dari suratnya, Pakcik mengabarkan keberadaan dirinya. Untuk meyakinkan keluarga di kampungnya, bersama suratnya, Pakcik melampirkan foto dirinya dan keluarga besarnya di rantau.

Konon keluarga di kampung pun sontak kaget. Selanjutnya terjadilah komunikasi yang intens antara Pakcik dan keluarganya. Satu waktu, Pakcik memboyong isteri dan anak-anaknya ke kampung untuk bertemu dan bersilaturrahmi dengan keluarga besarnya. Di sana, dia memperkenalkan keluarga dan sudut-sudut bersejarah di kampung halamannya, baik kepada isteri maupun kepada anak-anak yang menyertainya dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Melalui keluarga di kampung pula Pakcik mengetahui alamat dan keberadaan Hj. Siti Nurbaya (ibu mertua penulis), sosok yang banyak berjasa kepada dirinya. Siti Nurbaya dikabarkan saat itu menetap di Kabupaten Nunukan, sebuah daerah yang berbatasan dengan Sabah Malaysia -tidak jauh dari tempat menetap Pakcik. Siti Nurbaya inilah yang membimbing dan mengarahkan dirinya sehingga hidupnya lebih terarah. Sebab Pakcik mengaku bahwa dia termasuk anak yang bandel di masa mudanya. Karena kebandelannyalah sehingga dia tidak menamatkan pendidikan dasarnya. Karena tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai itulah akhirnya Pakcik merantau untuk memperbaiki nasibnya.

Berbekal informasi dan alamat yang dia peroleh di kampung, Pakcik dihantar oleh anaknya ke Pulau Nunukan. Kemunculannya yang tiba-tiba cukup mengejutkan Hj. Siti Nurbaya sekeluarga. Dia tidak percaya bahwa yang datang kepadanya adalah sosok yang pernah dikenalnya dengan baik. Siti Nurbaya termasuk yang mempercayai bahwa Pakcik telah tiada.

Beberapa hari di Nunukan, Pakcik dan Hj. Siti Nurbaya tidak henti-hentinya bernostalgia. Berbagai masa lalu dikenang kembali. Kami yang sesekali menguping pun mendapatkan informasi dan pengetahuan baru terkait hal-hal yang tidak terungkap, pada masa lalu keduanya.

***

Tanggal 28 Desember 2017, saya beserta isteri beserta ketiga anak kami (Arkan, Alika dan Ardan) berangkat ke Tawau Sabah Malaysia melalui Pelabuhan Tunon Taka Kab. Nunukan. Perjalanan ke Tawau dari Pulau Nunukan hanya ditempuh kurang dari 1 jam. Biasanya kami ke Tawau jika ada acara keluarga atau sekedar berbelanja kebutuhan yang tidak ada di Nunukan.

Keberangkatan kami ke Sabah kali ini adalah untuk menghabiskan liburan akhir tahun. Ini adalah liburan saya dan isteri yang ketiga kalinya di negeri bagian yang bergelar negeri di bawah bayu tersebut. Kami memilih Sabah dengan pertimbangan kedekatan secara geografis, aneka pilihan destinasi wisata yang tersedia, dan pertimbangan biaya yang kami kalkulasi lebih hemat dibanding berlibur ke pulau Jawa atau pulau Sulawesi.

Liburan yang kami lakukan kali ini sebenarnya tidak direncanakan dengan baik. Keputusan untuk menghabiskan sisa liburan akhir tahun ini kami ambil sekitar dua hari sebelum berangkat. Itupun setelah ditagih oleh anak-anak. Kebetulan anak sulung kami, Arkan, baru saja menjalani khitan (sunat). Dia mengajukan syarat, sanggup menjalani prosesi khitan dengan kompensasi dibawa berlibur ke Kota Kinabalu (KK). Kami tidak ada pilihan lain, sebab tenaga medis yang akan melakukan "eksekusi" telah berada di rumah, permintaan kami terima tanpa syarat.

Menyadari waktu libur akan berakhir, segera setelah luka sunatan terlihat telah mengering, kami pun segera mengepak barang seadanya. Empat hari sebelum tahun 2017 berakhir, saya, isteri dan ketiga putera dan puteri kami berangkat menuju Tawau untuk selanjutnya ke Kota Kinabalu. Kami berharap dapat menyaksikan detik-detik pergantian tahun di ibukota negara bagian Sabah tersebut. Sembari menunggu hari dan detik-detik pergantian tahun tersebut, rencananya anak-anak akan kami bawa untuk mengunjungi tempat-tempat wisata maupun tempat-tempat menarik lainnya yang ada di sekitar kota yang dulunya bernama Jesselton tersebut. Oleh sebab itu, sejak dari Nunukan lagi, saya berusaha mencari tempat penginapan yang strategis dan dapat dijangkau dari tempat-tempat incaran kami itu. Teknologi informasi yang ada saat ini tidak menyulitkan saya untuk menemukan tempat strategis dengan harga yang dapat kami sesuaikan dengan budget yang kami persiapkan.

Tiba di pelabuhan Fery Tawau, kemenakan (dari pihka isteri) bersama isterinya telah menunggu. Dengan mengendarai mobil Toyota Hilux double cabin berwarna putih miliknya, perjalanan darat kami mulai. Perjalanan yang diperkirakan akan menempuh jarak lebih kurang 500 km itu akan kami bagi menjadi dua tahap. Tahap pertama sepanjang 380 km akan kami tempuh hari itu juga. Dalam waktu enam jam, diperkirakan kami sudah akan sampai di Keningau, tempat kediaman anak kemenakan yang menjemput kami itu berada. Sebagai penghargaan atas jerih payahnya, kami menerima tawarannya untuk menginap barang semalam di rumahnya. Perjalanan sejauh 122 km sisanya, menuju Kota Kinabalu, akan kami lanjutkan keesokan harinya.

Hamparan perkebunan kelapa sawit menjadi pemandangan yang mewarnai perjalanan 100 km pertama kami. Selanjutnya, di 200 km paruh perjalanan berikutnya, kami lebih banyak menyaksikan hutan belantara di sisi kiri dan kanan jalan. Saya menjadi sadar, selama ini, rupanya saya terkecoh. Ternyata, perkebunan kelapa sawit yang marak dikembangkan di Sabah lebih banyak dipusatkan di sekitar pesisir wilayah Sabah, sedangkan di tengah-tengah daratannya, hutan-hutan lebat nan perawan masih terjaga dengan baik. Bukannya berkurang, Pemerintah Negeri Sabah bahkan berkomitmen untuk terus menambah luasan hutan simpan (hutan lindung) hingga mencapai di atas 30 persen dari luas daratan negeri Sabah. Saat ini, luasannya telah mencapai di atas 20 persen. O ya, saya akan menulis secara khusus terkait dengan gerakan konservasi dan hutan simpan ini di tulisan lainnya.

Dalam perjalanan dari Tawau, kami mampir di dua tempat yang berbeda. Di perhentian pertama, kami makan siang dan sekaligus melaksanakan sholat. Di perhentian kedua, kami lakukan untuk sekedar meluruskan persendian dan sekaligus ngopi di salah satu warung yang berada di pinggir jalan di antara lebatnya hutan simpan Maliau Basin yang terkenal itu. Menjelang Sholat Isya, akhirnya kami memasuki daerah Keningau.

Menjelang memasuki wilayah Keningau, Arkan tiba-tiba mengeluh kedinginan. Awalnya, saya menganggap dia mengalami kedinginan biasa seperti yang kami rasakan. Pasalnya, selain hawa dingin AC (pendingin udara) yang keluar dari AC mobil, di sepanjang jalan diguyur hujan lebat. Penutup AC saya tutup untuk mengurangi hawa dingin langsung menerpa tubuh Arkan. Namun Arkan yang saya pangku dan peluk sepanjang jalan masih saja mengeluh kedinginan. Saya dapat merasakan gemetar sekujur tubuhnya sepanjang jalan. Saya mulai was-was bahwa putera sulung kami ini mengalami sesuatu yang di luar kelaziman.

Sesampainya di kediaman kemenakan di Keningau, isteri saya segera memeriksa kondisi Arkan. Arkan masih saja mengeluh kedinginan. Pada hal, badannya telah kami balut dengan pakaian dan selimut tebal. Perlahan, suhu badannya mulai meningkat, Arkan demam.

Rupanya, bekas luka sayatan di sekitar alat vitalnya mengalami iritasi. Menurut isteri saya yang juga berprofesi sebagai tenaga medis, iritasi memang dapat mengakibatkan demam. Jadilah kami sepanjang malam diliputi cemas. Arkan harus segera dibawa ke dokter, itu yang ada di benak kami saat itu.

Benar saja, keesokan harinya, dokter yang memeriksa Arkan menyarankan agar Arkan istirahat. Jika tidak mengalami perubahan setelah dilakukan pengobatan, maka Arkan disarankan untuk dibawa ke klinik dan diperiksa kembali.

Di perjalanan pulang ke rumah, kami putuskan bahwa perjalanan lanjutan harus kami tunda. Paling tidak hingga Arkan lebih baik. Kemenakan kami menyarankan untuk melanjutkan perjalanan pada tanggal 1 Januari 2018 saja, setelah tahun baru. Sebab selain Arkan harus beristirahat, kemenakan kami yang juga berprofesi sebagai pedagang tersebut mengaku ingin memanfaatkan hari-hari menjelang pergantian tahun tersebut untuk berjualan. Menurutnya, menjelang pergantian tahun, permintaan kebutuhan pokok meningkat dan ini peluang berharga baginya.  

Kemenakan dan isterinya juga menawarkan bahwa jika kondisi kesehata Arkan membaik, maka pada hari Sabtu  sore (tanggal 30 Desember 2017) hingga malam, mereka punya waktu untuk membawa kami bersilaturrahmi dengan keluarga di Papar, lebih kurang satu jam perjalanan dari tempat kami. Kami mengamini tawaran itu. Kami memang perlu memastikan Arkan telah pulih sebelum memutuskan aktifitas lain.

Setelah mengkonsumsi obat yang diberikan dokter, suhu tubuh Arkan berangsur norma. Tapi Arkan tiba-tiba mrngeluh gangguan lain, dia mengalami diare. Sepanjang hari dan malam, saya dan ibunya tidak bisa tidur nyenyak. Arkan selalu minta ditemani ke toilet. Penyakit diare ini berlanjut hingga di hari berikutnya. Dengan demikian, rencana silaturrahmi ke rumah keluarga lagi-lagi kami batalkan. Jadilah kami menghabiskan liburan akhir tahun itu di rumah. Menjelang pergantian tahun baru, relatif kami tidak melakukan aktifitas di luar, kecuali sesekali ke bandar untuk mencari pesanan yang diminta Arkan dan adik-adiknya.

***

Tanggal 1 Januari 2018, usai melaksanakan sholat subuh, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Kinabalu. Untuk menggantikan hari-hari kami yang terlewatkan, kemenakan menawarkan beberapa destinasi wisata yang ada di sepanjang jalan yang akan kami lewati.

Kunjungan pertama, kami lakukan ke Perkebunan Teh di Ranau (Ranau Tea Farm). Namun sebelumnya, kami sempat singgah di pasar Tamu (pasar mingguan) yang ada di daerah yang terkenal dengan destinasi wisata alamnya itu. Setelah itu, kami mampir di sungai yang tidak jauh dari lokasi perkebunan teh untuk mencoba merasakan sensasi "massage" ikan Tagal. Selanjutnya kami menuju Kundasang, orang setempat menyebutnya miniatur New Zealand, di mana terdapat peternakan sapi perah. Poring Hot Spring dan Arnab Village yang sebelumnya kami agendakan untuk dikunjungi, urung kami datangi karena pertimbangan waktu yang tidak memadai.

Setelah sholat Zuhur, perjalanan kami lanjutkan ke Kota Kinabalu dengan agenda tentatif mengunjungi rumah terbalik di Tamparuli dan Cowboy Village di Tuaran, itupun jika waktu memungkinkan. Kedua tempat ini berada di pinggir Kota Kinabalu. Kami hanya sempat mengunjungi Rumah Terbalik di Tamparuli. Kebetulan, destinasi favorite ini buka hingga pukul 19.00 malam waktu setempat. Sedangkan Cowboy Village di Tuaran tidak sempat kami kunjungi mengingat waktu buka tempat tersebut hanya sampai pukul 17.00 sore.

Rumah Terbalik merupakan miniatur dari rumah panggung ala suku Bajau yang dibangun terbalik. Di dalam rumah terbalik tersebut, pengunjung dilarang mengambil foto. Alasannya, warga suku Bajau yang rumahnya dijadikan miniatur tersebut ingin menjadikan model rumah, struktur bangunan maupun perlengkapan interiornya menjadi hak eksklusifnya dan tidak ditiru oleh orang lain. Berada di dalam rumah, kami sempat puyeng. Perabotan dan strukur rumah yang terbalik membuat perasaan kami tidak stabil.

Kami hanya berada di dalam rumah terbalik tidak lebih dari setengah jam. Setelah membelikan anak-anak beberapa souvenir dan membayar foto jepretan fotografer khusus, yang diambil menjelang masuk ke lokasi rumah terbalik, kami pun segera keluar dari halaman rumah tersebut.

Pada saat menuju kendaraan, sebuah kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Arkan tiba-tiba meringis dan menangis sambil memegang bagian alat vitalnya. Rupanya adik bungsunya, Ardan, gemas dan iseng. Tiba-tiba saja Ardan memukul dan terkena bagian alat vital Arkan.

Kami kaget, alat vital Arkan kembali mengalami pendarahan. Ibu Arkan meminta kemenakan untuk mencari Rumah Sakit terdekat. Sang kemenakan terlihat panik dan berfikir keras. Dia mengaku tidak terlalu mengenal situasi rumah sakit di Kota Kinabalu. Bahkan menurut pengalamannya, pasien yang bukan warga negara biasanya akan menjalani prosedur yang cukup panjang apabila akan menggunakan fasilitas kesehatan di negara tersebut, terlebih jika seorang pasien tidak mengenal orang dalam. Sambil menyetir mobil, dia menawarkan dua alternatif pilihan.

Pilihan pertama; kami meneruskan perjalanan ke dalam kota untuk selanjutnya menuju ke Hospital Queen Elizabeth yang terletak di pusat kota Kota Kinabalu. Namun dipastikan, perjalanan akan memakan waktu yang lebih lama. Sebab jalan dipastikan macet mengingat kondisi arus balik warga setelah cuti berakhir hari itu. Alternatif kedua, kami mencari Rumah Sakit terdekat dari lokasi kami berada. Dia menyarankan kami ke Papar saja. Di sana ada keluarga, yang mempunyai dua orang puteri yang bekerja di Rumah Sakit Papar. Dengan pertimbangan resiko yang paling kecil dan penanganan yang lebih cepat, kami akhirnya memilih saran kedua. Sang Kemenakan pun terlihat memencet-mencet tombol telepon kemudian tampak berbicara dengan seseorang yang dipanggilnya Pakcik.

***

Kami tiba di kediaman Pakcik, menjelang sholat isya. Kedatangan kami disambut oleh salah seorang putera Pakcik, Awang namanya. Awang ini alumni Australia dan berprofesi sebagai guru. Awang kini telah memiliki dua orang anak. Pada saat pernikahan Awang tiga tahun yang lalu, saya dan isteri tidak sempat bergabung bersama keluarga yang lain, baik yang datang dari Makassar, Palu dan Nunukan untuk menghadiri pernikahan Awang. Pada saat itu, kami sedang mempersiapkan kelahiran anak kami yang ketiga. Disamping Awang adalah ibunya yang kami panggil Makcik. Makcik adalah sebutan untuk “tante” di Indonesia. Dari cara bicaranya, logat Brunei keduanya cukup kental.

Pakcik sedang tidak ada di rumah pada saat kami tiba di rumah. Pakcik sedang keluar menyongsong kami di jalan utama. Rupanya Pakcik resah menunggu kami yang tidak muncul-muncul. Dia berfikir, kemungkinan kami tersesat, demikian keterangan Awang. Awang pun segera menekan beberapa nomor di tombol teleponnya. Rupanya dia menelepon Pakcik untuk mengabarkan bahwa kami telah berada di rumah. Sambil menunggu Pakcik, Awang dan Makcik bergantian menyapa kami.

Beberapa menit kemudian, Pakcik datang. Lelaki berperawakan kecil tersebut terlihat tersengal-sengal. Meskipun demikian, lelaki penggemar bola tersebut masih terlihat lincah.

Meskipun terengah-engah, namun begitu melihat kami, kegembiraan sangat jelas terlihat di wajah Pakcik. Sambil sesekali menghirup udara, Pakcik bercerita bahwa selama perjalanan dari rumah ke jalan utama, dia mengamati jalan dan tidak melihat kendaraan yang kami tumpangi. Karena itu, dia yakin kami belum sampai di rumah. Menurut Pakcik, jika tadinya berhasil menemui kami di jalan, dia bermaksud menjamu kami untuk makan malam di salah satu restoran langganannya.

Sambil memberikan kode kepada Makcik, Pakcik kemudian bertanya kabar kami dan keluarga di Nunukan. Dia juga menyesalkan mengapa kami tidak menginformasikan jika kami akan berlibur ke Kota Kinabalu sehingga dapat melakukan sesuatu untuk kami. Kami hanya tersenyum. Justeru ini yang kami hindari sehingga perjalanan kami kali ini tidak kami buka kepada keluarga-keluarga yang ada di Sabah. Selain tidak ingin merepotkan, waktu kami tidak cukup memadai untuk dapat mengunjungi keluarga satu persatu di lokasi yang berjauhan. Rengekan anak-anak yang tidak sabar untuk sampai di Kota Kinabalu, membuat konsentrasi bertemu dengan handai taulan akan menjadi tidak maksimal, fikir kami.

Sambil bersenda gurau, Pakcik terlihat sibuk menekan dan sesekali menerima panggilan telepon teleponnya. Tidak lama kemudian, satu persatu anak, menantu dan cucu-cucu Pakcik berdatangan dan menyalami kami. Pakcik terlihat senang dan bangga memperkenalkan kami dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Kami pun merasa senang akhirnya dapat berkenalan dengan anak-anak Pakcik.

Rumah menjadi riuh rendah dengan kehadiran kami. Anak-anakpun terlihat cepat akrab dengan cucu-cucu Pakcik. Sesekali isteri saya, yang tidak memahami logat Malaysia atau Brunei melihat saya dan bertanya beberapa kalimat. Saya yang menghabiskan waktu kecil di Malaysia dan sering berinteraksi dengan orang suku asli, termasuk warga Malaysia keturunan Brunei, berusaha menjelaskan kalimat-kalimat yang kami tahu. Selebihnya, kami hanya tersenyum maupun mengangguk.

Setelah makan malam, kami diantar Pakcik ke Praktek Dokter Umum. Itu pun atas saran salah satu puteri Pakcik yang berprofesi sebagai perawat. Kami dibawa ke klinik seorang dokter keturunan India. Dia kabarnya pernah bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Papar, namun kemudian mengundurkan diri untuk selanjutnya membuka praktek sendiri. Logat Melayu Sabah yang sesekali bercampur dengan istilah Bahasa Inggris khas Malaysia, kurang kami fahami. Meskipun demikian, kami berusaha untuk menjawab berbagai pertanyaannya. Sebab jawaban yang benar akan menentukan ketepatan diagnosa. Kami tidak mau anak kami mengalami hal-hal yang tidak diinginkan karena kesalahan diagnosa yang disebabkan oleh ketidaktepatan informasi yang kami berikan.

Setelah membayar tagihan jasa dan obat, kami segera meninggalkan klinik dokter tersebut. Sambil berjalan, isteri saya berbisik bahwa obat yang diberikan kandungannya sama saja dengan yang kami terima dari dokter sebelumnya. Isteri saya sepertinya berharap bahwa dokter akan mengambil tindakan pemeriksaan lebih dari yang diberikan dokter sebelumnya. Sebab kondisi anak kami tidak mengalami perubahan signifikan meskipun telah menghabiskan obat-obat yang diberikan dokter sebelumnya.

Kami mulai mempertimbangkan alternatif berikutnya. Kami harus ke Kota Kinabalu malam itu juga sehingga jika tidak ada perubahan yang signifikan, kami dapat membawa Arkan ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan dokter spesialis, lebih awal besok pagi. Hal tersebut kemudian kami utarakan dengan Pakcik. Pakcik kelihatan sangat berharap agar kami dapat menginap di rumahnya malam itu. Syukurnya, dengan penjelasan yang kami berikan, Pakcik akhirnya dapat mengerti. Bahkan Pakcik memberitahu kami bahwa jika kami membutuhkan sebarang bantuan, dapat menghubungi puterinya yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Kinabalu. Mendapatkan informasi itu, kami merasa lega.

Sebelum kembali ke rumah Pakcik guns mempersiapkan keberangkatan kami ke Kota Kinabalu, Pakcik membawa kami ke Rumah Sakit Papar. Tidak lama kemudian, seorang wanita muda datang mendekati mobil yang kami tumpangi. Pakcik memperkenalkan wanita berkerudung itu sebagai anaknya. Pakcik sengaja mempertemukan kami  agar dapat lebih mengenal satu sama lain. Pakcik menginformasikan kepada puterinya bahwa kami akan berangkat ke Kota Kinabalu malam itu juga dan meminta puterinya untuk ikut bergabung di rumah agar dapat ikut melepas keberangkatan kami.

Rumah Pakcik semakin riuh rendah dengan kedatangan kami dari klinik yang kemudian diikuti dengan kedatangan puterinya yang baru saja selesai tugas jaga di Rumah Sakit. Mengetahui bahwa kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke KK malam itu juga, wajah-wajah mereka terlihat berubah. Sesekali mereka merayu agar kami menunda perjalanan kami hingga keesokan hari. Kami hanya tersenyum dan berterima kasih. Di waktu yang bersamaan, kami juga mendapat bisikan secara bergantian dari ketiga putera puteri. Mereka sudah tidak sabar untuk dapat segera tiba di KK.

***

Menjelang tengah malam, perjalanan dari Papar ke Kota Kinabalu kami lanjutkan dengan menumpangi salah satu kendaraan anak Pakcik. Salah seorang anak menantu Pakcik menawarkan diri untuk menyopiri mobil double cabin triton berwarna hitam itu. Pakcik sendiri ikut mendampingi menantunya dan sekaligus menghantarkan kami ke Kota Kinabalu. Tadinya, Makcik juga ingin turut mengahantarkan kami bersama Pakcik. Namun karena cucu dari anak menantunya yang menyopiri kami harus menunggu kedatangan ayahnya pulang dari KK, maka Makcik memutuskan untuk menemani puterinya menjaga cucunya itu.

Selama di perjalanan, Pakcik tidak hentinya bercerita tentang tentang berbagai hal, khususnya terkait perjalanan hidupnya di rantau. Menurut Pakcik, dirinya tidak memiliki apapun ketika menikah dengan Makcik. Untungnya, Makcik mau menerimanya dengan segala kekurangannya. Untuk menghidupi keluarganya, Pakcik mengerjakan apa saja yang penting halal. Apalagi setelah kelahiran anak-anaknya Pakcil merasa tanggungjawab untuk keluarganya semakin bertambah.

Tidak jarang Pakcik dan Makcik mendengar sindiran-sindiran dari beberapa kenalan dan tetangga. Mereka mencibir Pakcik dan Makcik yang memiliki anak yang banyak, tapi tidak punya pekerjaan yang tetap. Cibiran tersebut tidak dibalas oleh Pakcik dan Makcik. Justeru Pakcik semakin menggandakan kerja kerasnya. Tidak jarang Pakcik meningglkan keluarganya hanya untuk bekerja di tempat yang jauh, baik sebagai buruh bangunan atau berbagai pekerjaan halal lainnya. Sementara Pakcik bekerja, Makcik dengan sabar merawat dan mendidik anak-anaknya.

Pakcik merasa sangat beruntung, Makcik sangat trampil mengelola keuangan keluarga. Penghasilan Pakcik yang tidak seberapa, dikelolanya sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan minimal keluarga. Agar anak-anaknya dapat memakai baju baru pada saat hari lebaran tiba misalnya, tidak jarang Makcik menjahit sendiri pakaian lebaran untuk anak-anaknya. “Karena kami tidak mampu beli mesin jahit dan tidak mampu bayar biaya tempaan (ongkos jahit), Makcik menjahit tangan semua baju anak-anak”, cerita Pakcik dengan suara yang agak bergetar.

Pakcik dan Makcik percaya pada kekuatan pendidikan. Oleh sebab itu, meskipun kehidupannya pas-pasan, dan bahkan untuk makan sering kali tidak cukup, tapi Pakcik dan Makcik memastikan semua anak-anaknya tetap bersekolah dan mendapat pendidikan yang memadai. “Alhamdu lillah, semua anak-anak Pakcik bersekolah dan sebagian besar telah bekerja, kecuali satu orang yang masih menuntut ilmu di perguruan tinggi”, ungkapnya dengan nada bangga. Bahkan mereka yang tadinya memandang remeh keluarganya, tidak semua mampu memberikan pendidikan tinggi untuk anak-anak mereka seperti yang dilakukannya, aku Pakcik.

Tidak terasa, perjalanan satu jam dari Papar ke Kota Kinabalu kami lalui. Kami pun mulai mencari tempat penginapan yang telah saya tandai di google map sebelumnya. Lokasi yang kami pilih adalah apartemen yang terletak di jantung kota. Lokasi apartemen ini sangat dekat dari tempat-tempat menarik yang ada di Kota Kinabalu, dan yang lebih penting lagi, apartemen ini pun terletak sangat dekat dari salah satu rumah sakit swasta bertaraf internasional di mana salah satu puteri Pakcik bekerja. “Nak, kalau ada waktumu pegi jumpa kakamu di hotel ya”, terdengar suara Pakcik mengarahkan puterinya melalui telepon. Rupanya, puteri Pakcik tersebut sedang bertugas jaga malam.

Setelah Pakcik dan menantunya mengantar kami masuk ke Lobby penginapan, tiba waktunya kami harus berpisah. “Kalau ada apa-apa hal dengan ananda Arkan, contact saja adikmu di Hospital ya. Pakcik sudah bagi tau kalau kalian ada di sini”, ujar Pakcik sambil berjalan menuju kendaraan yang diparkir di depan penginapan. “Sampai jumpa dan jangan lupa telepon Pakcik jika perlu sebarang bantuan”, ujar Pakcik lagi sambil berjalan menuruni tangga lobby.

Perlahan mobil yang ditumpangi Pakcik menghilang di balik keremangan malam. Meski tidak terlalu jelas, namun hingga mobil hilang dari pandangan, kami seolah dapat merasakan bahwa Pakcik tidak henti-hentinya menoleh dan mengamati kami.

Terselip rasa sedih harus berpisah dengan orang baik, enerjik dan perhatian seperti Pakcik. Bersamaan, terucap pula ungkapan syukur dan bangga karena dapat mendengar langsung cerita-cerita inspiratif perjuangan Pakcik dalam menghidupi keluarganya di perantauan. Yang lebih membanggakan lagi, Pakcik justeru datang mencari keluarga besar dan kampung halamannya justeru setelah kehidupannya relatif mapan. Pakcik adalah sosok perantau bugis yang tidak pernah lupa pada akarnya. Justeru dia bangga menceritakan kampung dan keluarga besarnya kepada anak-anak dan keluarga besar dari pihak isterinya, meskipun dia telah tercatat sebagai warga negara Malaysia.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar