OBP SEBATIK : BUAH SIMALAKAMA

OBP SEBATIK : BUAH SIMALAKAMA

OBP SEBATIK : BUAH SIMALAKAMA

Aksi "heroik" Pariman dan pengikutnya yang memasang bendera merah putih di beberapa titik patok baja berbentuk kerucut beberapa waktu yang lalu, tidak urung mengagetkan banyak pihak, khususnya masyarakat Sebatik. Betapa tidak, bendera tersebut terpasang lebih kurang 1 - 2 km di sisi utara patok perbatasan negara yang dijaga secara rutin oleh TNI (http://m.kaltara.prokal.co/…/2428-ini-dia-penampakan-patok-…). Isu permasalahan perbatasan Indonesia dengan Malaysia di pulau Sebatik rupanya turut dipantau proses dan perkembangannya oleh Pariman dan pengikutnya. Kemiripan patok tersebut dengan patok-patok perbatasan di segmen lain di Kabupaten Nunukan dan Kalimantan, menambah keyakinan Pariman dkk bahwa patok krucut yang ditemukannya di pulau Sebatik tersebut adalah patok asli yang dipasang oleh Belanda-Inggris pasca kesepakatan untuk membagi pulau Sebatik menjadi dua melalui London Convention 1891 atau dikenal juga dengan Traktrat 1891 itu. Dalam perjanjian tersebut kedua pihak sepakat membagi dan memisahkan wilayah kekuasaan masing-masing di titik koordinat 4'10" LU, tegak lurus dari timur ke barat pulau Sebatik, Belanda menguasai wilayah bagian selatan, sementara Inggris diberikan hak penguasaan untuk bagian sebelah utara pulau Sebatik.

Pasca hengkangnya kedua penguasa kolonial dari wilayah jajahannya, masing-masing eks jajahan kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya masing-masing yang menandai terbentuknya negara Indonesia dan negara Malaysia yang dikenal saat ini. Kedua negara baru tersebut kemudian dengan sendirinya mewarisi eks wilayah kekuasaan kedua bekas penjajah. Hal tersebut sesuai dengan prinsip uti possidetis juris, di mana menurut prinsip ini (dalam konteks perbatasan negara), perbatasan suatu negara mengikuti batas-batas asli dari wilayah kolonial lama.

Pada awal kemerdekaan kedua negara, permasalahan perbatasan, belum menjadi isu yang hangat dibicarakan. Barulah pada tahun 1978, isu perbatasan ini mencuat ketika Pemerintah Indonesia meminta agar MoU terkait dengan perbatasan Indonesia Malaysia di sektor barat (Tj. Datu, Kalimantan Barat) dilakukan perubahan. Hal ini terjadi setelah tim Indonesia menyadari kekeliruannya dalam menyepakati titik perbatasan dengan Malaysia. Dalam penentuan titik perbatasan, kedua tim teknis ternyata mengabaikan peta tua (asli) dan lebih menggunakan watershed (tanda alam) untuk menentukan garis perbatasan kedua negara di wilayah tersebut sehingga posisi dalam peta menjorok ke wilayah Indonesia. Jika mengacu pada MoU tersebut, maka Indonesia berpotensi kehilangan lebih dari 80 Ha (http://ahmad-rifai-uin.blogspot.co.id/2013/04/kasus-sengketa-indonesia-malaysia.html).

Pelaksanaan survey bersama wilayah Kalimantan, sejatinya telah mulai dilakukan pada tahun 1975 dan berhasil mengidentifikasi garis perbatasan sepanjang 2004 km. Hasi survey ini bahkan telah didelineasi di atas peta dan foto udara. Namun karena pertimbangan tertentu, Pemerintah Malaysia telah meminta untuk mengkaji ulang di beberapa titik perbatasan (baca : http://www.wilayahperbatasan.com/wilayah-perbatasan-penanganan-obp-outstanding-boundary-problems-ri-malaysia-belum-ada-kemajuan/).

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pulau Sebatik adalah salah satu dari 10 segmen perbatasan yang masih dipersengketakan (Outstanding Boundary Problems/OBP) antara Indonesia-Malaysia di Pulau Kalimantan. (baca : http://kaltim.tribunnews.com/…/sudah-40-kali-berunding-soal…). OBP lain di Kabupaten Nunukan, berada di sungai Sumantipal dan Sungai Sinapad serta di titik B.2700-B.3100 dan Titik C.500-C.600 yang terletak di wilayah yang dikenal sebagai Kecamatan Lumbis Ogong saat ini. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah sempat dikagetkan dengan adanya isu eksodus penduduk di beberapa desa di wilayah perbatasan tersebut ke Malaysia (baca : http://www.korankaltim.com/tni-benarkan-warga-nunukan-eksodus/ dan http://jakartagreater.com/tiga-desa-dicaplok-malaysia/).

Perbedaan pendapat dan belum adanya titik temu kesepakatan antara dua belah pihak, lebih pada perbedaan penafsiran terhadap isi perjanjian 1891. Tim perunding Indonesia menginginkan agar patok-patok perbatasan di pulau Sebatik yang tertanam tidak persis pada di titik koordinat yang disepakati tersebut, dikembalikan ke titik koordinat 4'10" seperti kesepakatan eks-penjajah kedua negara sebelumnya. Betapa tidak, dengan posisi patok yang menjorok ke wilayah Indonesia seperti yang terjadi saat ini, Indonesia berpotensi dirugikan hampir 100 Ha di pulau yang dikelola oleh dua negara ini. (http://kaltim.tribunnews.com/tag/malaysia/…).

Sebaliknya Malaysia berpendapat bahwa traktat 1891 tidak berdiri sendiri. Hasil kesepakatan pemasangan patok di sisi timur dan sisi barat pulau Sebatik tahun 1912 yang dilanjutkan dengan demarkasi bersama (perwakilan Inggris dan Belanda) melalui pemasangan patok yang selesai tahun 1915, juga harus dilihat sebagai bagian integral dari kesepakatan kedua belah pihak pada waktu itu. Hingga selesainya pemasangan patok yang diwarisi oleh masing-masing negara jajahan hingga hari ini, tidak terdapat catatan sejarah bahwa kedua belah pihak (Inggris dan Belanda) pernah mempermasalahkan perbedaan antara titik delimitasi dan proses demarkasi yang dihasilkan oleh perwakilan kedua belah pihak pada waktu itu. Berdasarkan pandangan tersebut, Malaysia berpendapat bahwa patok yang ada di pulau Sebatik, dalam konteks perjanjian dan hasil pemasangannya tidak perlu dipermasalahkan.

Terkait dengan OBP, pihak Malaysia menginginkan agar pembahasan mengenai segmen-segmen sengketa, dilakukan secara parsial. Permintaan tersebut belum dapat dipenuhi oleh tim perunding Indonesia mengingat dalam segmen OBP yang lain, terjadi kondisi sebaliknya. Beberapa titik koordinat yang pernah disepakati Belanda-Inggris, bergeser memasuki wilayah Malaysia. Wilayah yang disinyalir sebagai wilayah Malaysia tersebut bahkan telah terbentuk menjadi perkampungan-perkampungan yang dihuhi oleh warga Indonesia sehingga berpotensi merugikan Malaysia, dan jika itu diklaim dan dimenangkan Malaysia, diperkirakan ribuan hektar akan lepas dari Indonesia (http://kaltim.tribunnews.com/tag/perbatasan/…).

Memecahkan masalah perbatasan negara ternyata tidak lebih sederhana dibanding penyelesaian sengketa batas lahan atau sengketa tanah warisan keluarga. Banyak faktor yang dihitung dan dipertimbangkan mengingat permasalahan tersebut terkait dengan kedaulatan dan kepentingan nasional. Tidak ada otoritas yang memiliki kewenangan untuk menterjemahkan kepentingan nasional ini, kecuali negara. Oleh sebab itu, perundingan penyelesaian batas kedua negara hanya dapat dilakukan oleh negara melalui otoritas pemerintahan masing-masing. Dan langkah apapun yang diputuskan nantinya, diharapkan tidak memperburuk hubungan kedua negara dan tidak pula merugikan masyarakat perbatasan, khususnya masyarakat yang ada di perbatasan kedua negara yang selama ini hidup berdampingan secara damai dan memiliki saling ketergantungan yang cukup tinggi.

Sebagai negara hukum dan menghormati prinsip hidup berdampingan secara damai, mari hargai proses diplomasi dan penyelesaian masalah secara damai yang sedang dilakukan oleh otoritas pemerintahan kedua belah negara dan tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang tidak hanya mengetahui dan memahami aturan hukum tapi juga menghormati penegakannya (baca : http://kaltim.tribunnews.com/tag/perbatasan/…).

Sumber : Page Kecamatan Sebatik Tengah (https://www.facebook.com/kecamatansebatiktengah/posts/1051330231603930) dengan beberapa penambahan.

By : Harman

Baca juga :

http://kaltim.tribunnews.com/…/rapat-dengan-kemendagri-heti…

 
 
Sanusi mengaku telah melaporkan persoalan ini kepada Komisi II DPR RI,

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar