OBROLAN NASI PECEL ALA SEBATIK

OBROLAN NASI PECEL ALA SEBATIK

Usai bersepeda bersama bocah, mampir ke Warung Pecel Madiun buat sarapan nasi pecel. Tidak menyangka, di Sebatik ternyata ada nasi pecel yang enak. Anakku juga suka.

Penjualnya ternyata orang Ponorogo. Namanya Pak Putut. Beranak tiga, semuanya masih tinggal di Jawa. Pak Putut bersama isterinya mencari nafkah, jualan nasi Pecel di Sei Nyamuk. Sudah empat tahun mereka di sini.

Dari jualan nasi pecel itu, 1 dari tiga puterinya telah berhasil menjadi sarjana dan bekerja di salah satu perusahaan di pulau Jawa. Yang lain masih sekolah, dititip sama tantenya.

Menurut cerita Pak Putut, beliau sering bolak balik Ponorogo-Madiun pada saat jadi sales plastik akhir tahun 90an. Biasa mampir ke KUK (toko bahan bangunan yang dikelola Gontor) untuk menawarkan kantong plastik dan selang jualannya. Perkirakan saya, pada saat itu, saya masih menjadi pengurus alias karyawan KUK. Bisa jadi kami pernah bertemu sebelumnya.

“Mas pernah ke Gontor lagi?” tanya Pak Putut tiba-tiba. Aku kaget. “Belum pak” jawabku senyum-senyum. “Insya Allah akan ke Gontor setelah anakku ini selesai” tambahku sambil melirik ke anak sulungku. “Dia ingin ke Gontor juga” beruntun kujelaskan sebelum diberondong pertanyaan lagi.

Dari obrolan nasi pecel, memoriku kembali ke tahun-tahun mengesankan itu. Kucari foto rekan-rekan seperjuangan, kutemukan beberapa. Ku upload beberapa di antaranya untuk mengulas memori dan mengobati rindu.

Ternyata dari potongan-potongan memori itu, aku identifikasi beberapa amanah yang pernah ku jalankan di sana :
1. Pernah jadi Ketua Panitia Perpulangan siswa asal Sulawesi, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur (SUMALIA)
2. Pernah dipercaya jadi ketua Pengurus Rayon S 3/3 menggantikan ustadz Faqih Jalaluddin yg didaulat ke Qismu Lughoh
4. Di tahun yang sama dipercaya jadi Ketua Konsulat SUMALIA
5. Kelas 6 dipercaya jadi proletar
6. Ketika pengabdian di Gontor, dipercaya jadi Pembina Santri asal Luar Negeri
7. Pernah ditunjuk ikut mengelola toko KUK. Dan dalam waktu bersamaan diberi tanggung jawab mengajar, kuliah dan membimbing konsulat.

Wah, kalau dicantumkan dalam CV, banyak juga. Mungkin bisa jadi modal buat daftar jadi komisioner KPK 

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar