Perspektif Etis Dalam Falsafah Tellu Cappa

Perspektif Etis Dalam Falsafah Tellu Cappa

Dari pak Alfred, seorang guide pariwisata, hari ini saya belajar dan mendapat pengayaan perspektif terkait falsafah Tellu Cappa' (Tiga Ujung) yang dipegang oleh suku Bugis Makassar. Tellu Cappa' dimaksud terdiri dari : Cappa' Lila (Ujung Lidah/Komunikasi Verbal), Cappa' Laso (Ujung Kemaluan/Komunikasi Non Verbal), dan Cappa' Piso (Ujung Badik). Kesuksesan seorang Bugis Makassar, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kelihaian atau kemampuannya menggunakan falsafah Tellu Cappa' secara tepat.

Menurut Alfred lagi, dalam mencapai tujuannya, seorang manusia Bugis akan mengedepankan pendekatan komunikasi (ujung lidah). Jika pendekatan komunikasi tidak berjalan efektif, maka tahap selanjutnya dilakukan melalui upaya menghubungkan tali kekerabatan melalui pernikahan. Pendekatan pernikahan inilah yang disimbolkan dengan Cappa' Laso (ujung kemaluan). Tapi jika pun kedua pendekatan tidak berhasil, maka barulah dapat digunakan pendekatan coercive alias kekerasan/paksaan/perang (Cappa' Piso).

Pak Alfred membantu saya memahami falsafah Tellu Cappa' tidak berhenti sebagai sebuah falsafah dan unsur diplomasi yang operasional. Lebih dari itu, pendekatan secara sekuensial menunjukkan bahwa falsafah tellu cappa', tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai etika dan moral.

Selain penjelasannya yang memberi saya perspektif baru terkait falsafah ini, yang saya kagumi dari seorang Alfred adalah pemahamannya terhadap falsafah ini melebihi pemahaman saya sebagai seorang manusia Bugis. Pada hal, Alfred berasal dari Tana Toraja, salah satu dari enam suku utama (suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Luwu dan Enrekang) yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.

Terima kasih Pak Alfred...

Makassar, 3 Juli 2019

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar