PETANI PISANG TAWAU MULAI PANEN, HARGA PISANG SEBATIK TURUN DRASTIS

PETANI PISANG TAWAU MULAI PANEN, HARGA PISANG SEBATIK TURUN DRASTIS

Petani pisang di pulau Sebatik belakangan ini mengeluhkan semakin rendahnya permintaan pisang di pulau tersebut. Jika sebelumnya, puluhan ton pisang setiap harinya diberangkatkan dengan perahu jongkong oleh para pengepul ke Tawau, kini para pengepul hanya dijatah sekali seminggu oleh rekanan mereka yang ada di Tawau Sabah Malaysia. Lacancu, salah satu pengepul pisang menuturkan bahwa tadinya dia sendiri minimal tiga kali membawa pisang ke Tawau. “Sekali jalan, saya membawa enam ton pisang pak, tapi sekarang saya hanya dijatah untuk membawa pisang dengan volume maksimal 3 ton,” ungkap Lacancu.

Lacancu dan beberapa pengepul lainnya biasanya diminta untuk menyediakan pasokan bagi satu kontainer yang berisi maksimal 30 ton. “Dalam kondisi normal, saya dan dua rekan saya yang lainnya, rata-rata berangkat tiga kali dalam satu minggu ke Tawau untuk mengisi satu kontainer yang menjadi jatah kami,” ujar Lacancu lagi. Tapi sekarang, Lacancu hanya diminta untuk memasok pisang, maksimal sekali dalam seminggu.

Di Sebatik Tengah sendiri, sekurang-kurangnya terdapat lebih kurang tujuh atau delapan pengepul seperti Lacancu. Menurut Lacancu, rendahnya permintaan pisang Sebatik disebabkan mulai berproduksinya pisang-pisang yang dibudidayakan oleh petani yang ada di wilayah bagian selatan negara bagian Sabah tersebut. “Pisang-pisang di sana sudah mulai berbuah pak, jadi pisang kita sudah tidak terlalu dibutuhkan,” tambah Lacancu lagi.

Selain itu, maraknya deportasi Tenaga Kerja Ilegal yang dilakukan otoritas terkait negara tersebut juga ditengarai menjadi penyebab semakin rendahnya permintaan dan konsumsi pisang di wilayah itu. “Yang belanja pisang kan sebagian TKI kita juga, tapi sudah banyak yang dideportasi, jadi konsumennya berkurang,” Lacancu kembali menambahkan.

Biasanya untuk membedakan antara pisang yang akan diekspor atau untuk dijual di pasar lokal dilihat apakah pisang itu dikirim bertandan atau bersisir. "Kalau kami jual bertandan, umumnya kami bawa ke kontainer untuk ekspor, tapi kalau dijual bersisir, kami langsung drop ke pengepul untuk langsung dijual di pasar," Lacancu menambahkan.

Camat Sebatik Tengah, Harman, yang dikonfirmasi tentang hal tersebut mengakui telah mendapat laporan terkait kondisi tersebut. Namun diakui Harman, petani dan pengusaha Sebatik memang tidak dapat berbuat banyak karena pasar produk pertanian asal Sebatik, khususnya pisang, sebagian besar masih dipasarkan di Tawau dalam bentuk baku.

Menurut Harman lagi, persoalan ini sudah diprediksikan olehnya beberapa waktu yang lalu ketika berhembus kabar tentang adanya pengusaha asal Sebatik yang memasok bibit pisang ke Tawau. “Tahun lalu, memang berhembus kabar jika petani pisang kita juga menjual bibit pisang ke Tawau melalui seorang pengusaha,” ungkap Harman. Pihaknya pada waktu itu memang sempat menghimbau agar praktek itu dihentikan karena akan merugikan petani. “Saya sempat berkoordinasi dengan Babinsa waktu itu agar Dermaga Aji Kuning tidak digunakan untuk menghantar bibit pisang ke sana karena itu pasti akan mematikan petani pisang kita nantinya,” tutur Harman. Namun banyaknya jalan tikus di pulau Sebatik, diakui Harman, memang menyulitkan petugas untuk melakukan pengawasan sehingga ribuan bibit kabarnya berhasil lolos di beberapa dermaga yang ada di luar kecamatannya.

Harman masih mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan langsung informasi ini kepada Bupati Nunukan sehingga dapat diupayakan suatu solusi. Pasalnya, selama ini perekonomian masyarakat Sebatik digerakkan dari perdagangan lintas batas tradisional, salah satunya perdagangan komoditas pisang. Jika pasar pisang terganggu, maka akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Sebatik secara luas. Salah satu alternatif solusi terhadap masalah ini, menurut Harman, adalah dengan memperbaiki sarana dan prasarana serta meningkatkan status pelabuhan Nunukan atau Sebatik sehingga menjadi pelabuhan ekspor. Dengan diberikannya kewenangan ekspor untuk Nunukan, maka pengusaha Sebatik atau Nunukan dapat mengirim langsung komoditas pertaniannya ke negara-negara terdekat yang membutuhkan. “akan lebih efektif dan efisien kalau kita dapat mengekspor langsung komoditas atau produk kita ketimbang mengandalkan pasar dalam negeri, mengingat persoalan jarak dan sarana serta prasarana yang tidak mendukung sehingga akan berpengaruh pada faktor biaya produksi,” ujar Harman.

Selain itu, ditambahkan Harman, pelabuhan Nunukan juga belum memiliki kontainer yang mampu mempertahankan kualitas pisang agar tetap segar selama dalam proses pengiriman. “Alternatif lainnya, harus ada industri pengolahan untuk produk turunan pisang yang dibangun di Pulau Sebatik atau Pulau Nunukan sehingga dapat menyerap hasil pertanian para petani kita secara langsung,” pungkas Harman

Baca juga :

http://sebatiktengah.nunukankab.go.id/detailpost/dukung-visi-agribisnis-kabag-ekonomi-gandeng-pt-sago-bantu-kelompok-olahan-pisang-al-barakah

http://sebatiktengah.nunukankab.go.id/detailpost/menkopolhukam-kepincut-makanan-ringan-serba-pisang-sebatik-tengah

http://sebatiktengah.nunukankab.go.id/detailpost/pertahankan-budi-daya-pisang-desa-bukit-harapan-gelar-lomba-olahan-serba-pisang

Sumber : sebatiktengah.nunukankab.go.id (Sept, 4 2016)

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar