SIASAT UNTUK MASLAHAT 1

SIASAT UNTUK MASLAHAT 1
Sehari sebelum tanggal hari ini (5 Februari) di tahun 2016 yang lalu, cerita ini menemui klimaksnya. Di siang bolong yang terik, saya menelepon dan meminta kepada salah satu staf Bagian Humas dan Protokol untuk memasukkan saya dalam jadwal yang akan menghadap kepada pimpinan. "Ada hal penting yang harus saya laoprkan segera! Dalihku agar mendapat prioritas. Keesokan harinya, di tanggal ini, Wakil Bupati menerima saya. Didampingi oleh salah seorang pejabat Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Nunukan yang saya kenal baik, saya melaporkan suasan "genting" yang sedang dihadapi Kecamatan. Warga sedang menyusun rencana untuk menggelar unjuk rasa ke kantor P** dan Kantor Bupati. Lebih kurang demikian informasi yang saya dapat dari Kepala Desa Sei Limau. Wajah Wakil Bupati terlihat serius mendengarkan. Beliau kemudian bertanya apa gerangan masalahnya sehingga muncul rencana seperti itu? Saya ceritakan latar belakang perkaranya. Beliau mendengarkan dengan saksama. Wakil Bupati terlihat menelepon seseorang. Dari balik telepon, sepintas terdengar suara seorang laki-laki menerima panggil orang nomor 2 tersebut. Wakil Bupati kemudian menceritakan laporan yang dia terima seraya meminta pihak P** untuk mengambil langkah-langkah cepat agar rencana aksi unjuk rasa itu tidak perlu terjadi. Sang pejabat P** yang ada di Berau itu berjanji untuk segera menindaklanjuti. Kepada saya sang Wakil Bupati berkomitmen untuk mengawal agar pihak P** segera menunaikan janjinya. Kepada saya, wakil Bupati berpesan untuk membantu memastikan agar warga dapat menahan diri. Saya timpali dengan jawaban "Siap Ibu!". *** Pada pertengahan tahun 2012, program perbatasan terang benderang dideklarasikan di pulau Sebatik. Tidak tanggung-tanggung, launching program ini dilakukan dalam Gereja yang berlokasi di Loudres. Loudres merupakan nama sebuah tempat atau perkampungan yang berlokasi di ketinggian Desa Sei Limau Kec. Sebatik Tengah, pulau Sebatik Indonesia. Sekitar 1 km dari perbatasan Indonesia Malaysia di pulau itu. Mayoritas penghuni perkampungan ini adalah warga migran asal NTT. Sebagian besar pernah merasakan menjadi BMI di Malaysia. Purna tugas di Malaysia, mereka melabuhkan nasib mereka di perbatasan kedua negara. Puluhan tahun menghuni perkampungan tersebut, mereka belum pernah merasakan yang namanya penerangan listrik P**. Sementara itu, wilayah perbatasan negara tetangga, Tawau Sabah, yang jelas terpampang di depan perkampungan mereka, begitu gemerlap. Listrik dinikmati warganya hingga pelosok terjauh di perbatasan. Bahkan terkesan berlebihan. Tidak heran, pada saat, program ini akan diluncurkan, warga Loudres menyambutnya antusias. Ketika kampung mereka ditunjuk untuk menjadi tempat pelaksanaan Launching, mereka memilih tempat suci agama mereka sebagai pusat kegiatan. Tidak hanya itu, untuk menghargai tamu yang datang, sengaja diupacarakan menurut adat istiadat kebesaran mereka. Satu sisipan cerita lucu dibalik ritual adat tersebut. Pada saat akan memasuki gerbang perkampungan, rombongan kami disambut dengan suatu upacara adat. Beberapa tokoh adat tampak berdiri dan berbaris menyambut kami. Salah saorang yang paling tua memegang sebuah wadah yang tampak seperti terbuat dari potongan bambu. Dari dalam wdah bambu, tercium aroma tuak yang cukup terasa. Setelah beberapa mantra selesai dibacakan, sang tetua adat kemudian menyerahkan wadah bambu tersebut kepada pimpinan rombongan kami. Sang pemimpin rombongan terlihat kaget. Meskipun sempat terlihat ragu, namun untuk menghormati sajian tuan rumah, sang ketua rombongan akhirnya mengambil wadah tersebut lalu meneguk sedikit tuak yang ada di dalamnya. Matanya terlihat dipejamkan ketika tuak itu melewati kerongkongannya. Sejumlah pejabat lainnya yang tidak ingin mengecewakan tuan rumah, ikut melakukan hal yang sama. Pada saat bejana yang terbuat dari bambu disodorkan kepada saya, refleks jari telunjuk saya tempelkan di mulut bejana lalu saya tarik lagi. Dengan cepat jari lainnya saya tempelkan ke lidah. Selesai. Bejana segera beralih ke anggota rombongan yang lain. Tamu lain yang dari tadi tampak resah, akhirnya menirukan cara saya. Selamatlah kami dari mencicipi tuak pahit yang memang tidak diperbolehkan dalam agama dan keyakinan yang kami anut. Syukurnya, tuan rumah tetap merasa dihargai. Baca : https://kaltim-tribunnews-com.cdn.ampproject.org/v/kaltim.tribunnews.com/amp/2012/05/21/camat-di-sebatik-apresiasi-program-perbatasan-terang-2012? *** Salah satu program unggulan yang dijanjikan pemerintahan Jokowi-JK pada saat kampanye Pilpres, adalah proyek ketenagalistrikan 35000 mw. Untuk wilayah perbatasan, Jokowi-JK juga berjanji untuk memprioritaskan pembangunan kawasan perbatasan negara yang tergambar dalam salah satu nawacitanya. Sebagai aparatur dan sekaligus warga perbatasan, program tersebut memberi harapan besar. Karena itu, selepas saja Jokowi-JK dipastikam unggul pada Pilpres 2014, saya segera memutar otak untuk menangkap program-program yang telah lama dinantikan warga tersebut. Salah satu program yang kami incar adalah kelistrikan Kami (Camat dan Staf) dan Kades Sei Limau akhirnya mengatur siasat. Kami minta Kades untuk mencari dan menyiapkan lahan. Untuk membangun pembangkit listrik, saya yakin ketersediaan lahan akan menjadi salah satu faktor kunci. Kami ingin agar pembangkit listrik itu dapat dibangun di wilayah kami. Kami percaya bahwa jika pembangunan pembangkit listrik dapat diarahkan ke daerah kami, maka pemasangan jaringan dan penyambungan listrik ke rumah warga tentu akan menjadi prioritas P**. Sebatik Tengah diuntungkan, sebagai kecamatan yang relatif baru berkembang, lahan masih tersedia. Jika tidak mendapat lahan hibah dari warga, kami memiliki lahan cadangan di sepanjang perbatasan negara. Sebidang lahan berhasil kami siapkan di perbatasan. Sekiranya akan dibangun pembangkit tambahan, lahan tersebut rencananya akan dihibahkan kepada Kementerian terkait. Dengan catatan, tidak ada regulasi yang dilanggar. Betul saja. Pemerintah Pusat rupanya sudah cukup jengah dengan pernyataan-pernyataan sinis masyarakat dan pemerintah setempat. Setiap berkunjung, janji-janji yang belum terealisasi terus ditagih. Satu ketika, Kabid Ketenagalistrikan pada Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Nunukan menghubungi saya. Dia memastikan bahwa usulan untuk menerangi perbatasan nampaknya akan segera terwujud. Kementerian telah memastikan akan membangun pembangkit listrik di pulau Sebatik, melengkapi pembangkit yang telah ada. Saya menyampaikan hahwa pihak kami siap membantu dan mensukseskan program ini jika memang diperlukan. Saya bahkan menginformasikan bahwa pihak kecamatan dan desa akan mempersiapkan lahan jika memang nanti dibutuhkan. Dengan beberapa dinamika, akhirnya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dibangun di lahan yang telah kami siapkan. Bersamaan, pembangkit listrik tenaga surya, juga dibangun di sebelahnya (PLTS). Rencananya, PLTS tersebut akan diserahkan ke P** untuk selanjutnya dihybrid dengan PLTD. Pembangkit ini diperkirakan mampu menjawab kebutuhan listrik warga yang ada pulau Sebatik dan pulau Nunukan. Baca : https://kaltim.antaranews.com/berita/25515/harkitnas-momen-kebangkitan-pembangunan-infrastruktur-kaltim Baca juga : http://sebatiktengah.nunukankab.go.id/detailpost/plts-sei-limau-resmi-dikelola-pln Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pembangunan pembangkit listrik secara fisik telah selesai. Tidak berselang lama, uji coba pun lalu dilakukan. Melihat dan mendengar suara deru mesin saja, sudah membuat kami aparatur yang terlibat merasa senang. Bayangan kami, desa dan kecamatan kami akan segera erang benderang. Beberapa bulan dilakukan uji coba, jaringan listrik tidak juga disambungkan ke rumah-rumah warga. Pada hal, sebagian besar warga sekitar telah memasang instalasi listrik ke rumah masing-masing dengan biaya yang tidak sedikit. Beberapa kali ditanyakan kepada pihak P**, petugas selalu menyatakan bahwa mesin masih sedang diuji coba. Dalam waktu bersamaan tersiar kabar jika daya listrik yang diproduksi PLTD Sei Limau telah lama dinikmati oleh masyarakat Nunukan dan Sei Nyamuk dan sekitarnya. Hal tersebut membuat berang warga Kec. Sebatik Tengah, khususnya yang berdomisili di sekitar mesin PLTD. Mereka mengaku tidak terima. Mereka yang berkorban, orang lain yang menikmati hasilnya. Demikian gerutu warga. Suatu hari, saya mendapat laporan dari Kades. Menurut Kades, sebagian warganys telah hilang kesabaran. Mereka memprotes kebijakan P**. Sejumlah warga bahkan sedang menggalang dukungan untul melakukan unjuk rasa ke Kantor P** dan Kantor Bupati. Kepada Kades saya katakan. "Jujur saya juga hampir hilang kesabaran atas tidak ditunaikannya janji P** untuk menjadikan Perbatasan Sebatik Tengah terang benderang setelah adanya PLTD dan PLTS ini". Tapi saya minta Kades akan menyalurkan kejengkelan tersebut dengan cara cerdas. Kepada Kades saya berpesan agar dapat mengendalikan warganya. Jika memang sudah bulat akan melakukan demonstrasi, ya cukup ke P** saja. Untuk yang akan mendemo Bupati, agar diurungkan. Tapi jika ngotot juga, arahkan saja unjuk rasanya di Kantor Camat Sebatik Tengah. Saya siap menerima. Bahkan akan saya jadikan aksi tersebut sebagai alat negosiasi untuk meminta pihak P** agar kembali pada komitmen awal. Apa yang saya tunggu ternyata tidak terjadi. Unjuk rasa warga tidak kunjung dilakukan. Saya kembali memutar otak. Saya tidak ingin kehilangan momentum. Jika masuk angin dan momentum lewat, saya tidak punya "amunisi" yang bisa dijadikan nilai tawar untuk membuat kecamatan yang saya pimpin segera bercahaya. Saya putuskan. Saya akan menghadap sendiri kepada pimpinan. Informasi awal ini akan menjadi bahan laporan saya. Pasalnya, jika dibiarkan dan pihak P** tidak mengambil langkah-langkah yang diharapkan, saya kuatir aksi unjuk tersebut benar-benar terealisasi dan sulit dikendalikan. *** Siasat Laporan berjalan efektif. Tidak lama berselang, Dua desa yang tadinya gelap gulita, berubah menjadi terang benderang. Ke mana-maan pergi, saya melihat wajah-wajah sumringah. Karena sistem kelistrikan antara pulau telah terintegrasi, cahaya PLTD dan PLTS tidak hanya dinikmati warga desa setempat. Seperti yang digambarkan di atas, cahaya kedua pembangkit listrik tersebut telah terlebih dahulu dinikmati oleh desa-desa lain di pulau Sebatik dan bahkan seluruh kelurahan dan desa yang ada di pulau Nunukan. Alhamdulillah. Habis Gelap Terbitlah Terang. Apresiasi untuk Bapak Yosua Batara Payangan, pak Kades dan Tim Kecamatan yang solid dan kompak.????????????

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar