SIASAT UNTUK MASLAHAT 2

SIASAT UNTUK MASLAHAT 2
Cerita tentang keterbatasan infrastruktur maupun sarana dan prasarana umum di wilayah perbatasan negara adalah fakta adanya dan bukan fiksi apalagi hoaks. Setidaknya kondisi tersebut saya rasakan pada saat bertugas di Kecamatan Perbatasan, Sebatik Tengah. Satu dari sekian banyak permasalahan yang banyak dikeluhkan warga adalah terbatasnya sinyal jaringan telekomunikasi. Tidak heran, mereka lebih banyak menggunakan no hp Malaysia. Pasalnya, sinyal Malaysia begitu kuat menginterusi dan mengiterupsi jaringan telekomunikasi yang memang terkesan lelet. Pada saat kami bertugas di wilayah Kec. Sebatik Tengah, hanya satu titik di salah satu desa dari empat desa yang ada terjangkau sinyal telekomunikasi. Itupun hanya jaringan 2 G. Untuk mengakses media online atau mencari dan mengirim informasi, harus kami lakukan di wilayah kecamatan tetangga. Oleh sebab itu, salah satu agenda utama kami pada saat itu adalah melakukan lobby untuk penambahan BTS (Base Transceiver Station). Kami banyak membangun komunikasi dengan salah perwakilan satu perusahaan operator telekomunikasi plat merah (BUMN) yang berkantor di Tarakan. Hampir setiap kunjungan mereka ke pulau Sebatik kami pantau, termasuk pada saat adanya rencana penambahan BTS di pulau Sebatik. Informasi terkait dengan rencana tersebut saya ikuti betul. Tidak hanya melakukan lobby dan menunggu, kami juga mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan daya dukung yang dapat meningkatkan daya tawar Kec. Sebatik Tengah untuk bisa "merebut" program itu nantinya. Kepada setiap Kepala Desa, kami minta untuk menyiapkan lahan hibah, minimal satu titik lokasi untuk setiap desa. Lahan-lahan yang akan disulkan tersebut saya minta diutamakan berada di sepanjang jalan utama. Karena di jalan tersebut dipastikan akan mendapat prioritas pemasangan jaringan listrik. Alhamdulillah, dalam waktu yang tidka terlalu lama, saya mendapat laporan bahwa setiap desa telah mempersiapkan titik-titik lokasi dimaksud. *** Waktu yang kami tunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Suatu waktu, di awal tahun 2015, saya menerima telepon dari perwakilan BUMN tersebut. Rencananya, mereka akan berkunjung ke pulau Sebatik bersama tim teknis dari Balikpapan. Mereka akan melakukan identifikasi titik koordinat yang cocok untuk kebutuhan pemasangan BTS. Saya diminta untuk menyiapkan dan mengsulkan dua titik. Saya jawab, "empat titik telah saya siapkan untuk Bapak". Kedatangan tim teknis tersebut saya sambut langsung. Bahkan mereka saya antar langsung ke titik-titik yang telah kami siapkan. Setiap kepala Desa saya minta untuk stand by di lokasi sekaligus memberikan support informasi yang meyakinkan. Meskipun hanya mendapat alokasi dua titik, tapi saya ngotot meminta mereka untuk mengambil semua titik koordinat lahan yang telah kami siapkan. Total lima titik yang kami ambil titik koordinatnya dan meliputi empat desa. "Siapa atau ada alokasi kecamatan lain yang tidak bisa dieksekusi, kami siap menampungnya", ujarku yang disambut tawa oleh Tim. Salah satu titik yang saya sodorkan, adalah lokasi yang berada di belakang kantor Desa Maspul. Kebetulan posisi Kantor Desa berdekatan dengan Kantor Kecamatan. Jika BTS dipasang di sekitar Kantor Desa, saya yakin Kantor Kecamatan akan ikut kecipratan sinyalnya. "Kami membutuhkan sinyal untuk bekerja. Demikian juga sekolah dan Kantor Desa yang ada di sekitar lokasi tersebut," kataku kepada Ketua Tim. "Apakah bapak bisa pastikan bahwa supply listrik PLN akan sampai di wilayah ini pak?", tanya ketua Tim. "Saya jamin insha Allah bisa pak!" Jawabku tegas. "Bapak lihat tidak, tiang-tiang listrik yang telah berdiri kokoh di sepanjang jalan utama yang kita lewati tadi? Pembangkit listriknya itu dibangun di wilayah kami pak. Masak kami tidak diprioritaskan?" tambahku berusaha meyakinkan Jujur, di hati kecil sebenarnya ragu. Karena dari sket rencana pengembangan jaringan listrik yang saya pernah diperlihatkan oleh pihak PLN, lokasi tersebut belum menjadi prioritas PLN. Pertimbangannya, jumlah pengguna di wilayah tersebut terbilang kecil dan jarak antar rumah berjauhan. Diperlukan banyak tiang listrik untuk sampai di Kecamatan dan Desa. Dan itu biayanya tidak kecil "Biaya operasional kami akan membengkak jika harus menggunakan mesin diesel sendiri untuk menghidupkan alat pemancar sinyal kami pak", kata salah satu anggota tim lainnya. "Kalau bukan karena perintah presiden, kami belum akan menambah BTS di wilayah ini pak. Kami anggap ini adalah CSR kami, karena sebenarnya proyek ini tidak menguntungkan secara bisnis bagi perusahaan kami", tambah Ketua Tim menambahkan. Saya hanya mengangguk-angguk. Saya dapat memahami jalan fikiran dan argumentasi mereka. Sebagai BUMN, mereka dituntut untuk mencari untung. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, mereka juga memiliki misi-misi sosial. Fikiran saya berputar. Saya tiba-tiba mendapat sebuah ide brilliant. "Yakinlah pak, wilayah ini pasti akan dijangkau dengan jaringan listrik. Saya akan memastikan hal tersebut terjadi," kataku kembali meyakinkan. *** Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebanyak 10 BTS berhasil dikirim ke pulau Sebatik. Empat di antaranya, akhirnya dipasang di Kecamatan Sebatik Tengah. Dua BTS dipasang di Desa Sei limau, masing-masing satu BTS lainnya diletakkan di Desa Aji Kuning dan Desa Maspul. Hanya satu desa yang belum mendapat jatah BTS, Desa Bukit Harapan. Mengingat dua desa lain (selain Desa Aji Kuning) belum teraliri listrik, maka untuk sementara, ketiga BTS yang ada di dua desa tersebut menggunakan mesin diesel. Selain pemasangan BTS yang akhirnya melebih ekspektasi ini, kami juga mendapat informasi yang menggembirakan. Seperti yang dilakukan di tempat lain, perusahaan operator tidak akan mengambil lahan secara cuma-cuma. Lahan itu akan disewa dan dikontrak sewa selama minimal 10 tahun. Jika pemilik lahan bersedia, mereka juga akan ditunjuk sebagai petugas jaga gardu dan BTS serta akan diberi gaji setiap bulan sesuai standar UMR. Masya Allah! Alangkah ajaibnya buah keikhlasan. Para pemilik lahan yang tadinya telah merelakan lahannya untuk hibah, mendapat dua bonus tambahan sekaligus. Selain tidak jadi kehilangan lahan, mereka menikmati biaya sewa lahan dan bahkan gaji sebagai penjaga gardu dan BTS. *** Setelah berbulan-bulan tidak berkomunikasi dengan perwakilan manajemen BUMN tersebut, suatu pagi, telepon seluler saya berdering. Dari balik telepon terdengar suara yang telah akrab di telinga. Rupanya panggilan dari salah satu manajer perusahaan operator yang ada di Tarakan dan pernah mendampingi tim teknis ketika mengambil titik koordinasi lokasi BTS beberapa bulan sebelumnya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar masing-masing, sang penelepon tiba-tiba berkata : "Pak Camat, kapan kira-kira jaringan listrik di Desa Maspul akan tersambung ya?" Tanyanya Saya terdiam. "Maaf pak. Biaya operasional yang harus kami keluarkan terlalu besar kalau BTS ini kami support dengan mesin diesel pak. Kami kuatir, keberadaan BTS itu tidak dapat kami pertahankan lebih lama pak", katanya lagi. Saya masih terdiam. Otak saya terus berputar untuk mencari jawaban dan alasan yang tepat. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat pak. Soalnya jaringan listrik di sepanjang jalan utama alhamdulilalh sudah tersambung" timpalku "Saya akan segera berkoordinasi dengan pihak PLN terkait hal ini pak. Progress informasinya akan segera saya sampaikan ke pihak Bapak", tambahku. *** "Assalamu alaikum. Pak, terima kasih ya karena PLN sudah memberikan pelayanan kelistrikan untuk warga kami yang ada di Desa Sei Limau" kataku dari balik telepon kepada Koordinator PLN pulau Sebatik. "Omong-omong, kapan kira-kira jaringan PLN menjangkau kantor kami pak?" Tanyaku. "Maaf pak Camat, kami belum bisa melayani wilayah bapak dalam waktu dekat karena selain konsumen ke arah sana tidak banyak, peralatan kami juga saat ini sudah habis pak", jawabnya. "Mohon izin menyampaikan pak. Tadi saya dihubungi oleh salah satu manajer yang mengelola BTS. Mereka mengancam untuk tidak mengaktifkan pemancar BTS jika masih harus menggunakan mesin diesel pak karena biaya operasional sudah melampaui budget" kataku sedikit membumbui "Jika itu terjadi, maka masyarakat pasti akan berteriak pak. Untuk itu, kita semua harus siap-siap untuk mendapat teguran dari pemerintah pusat pak. Karena program ini program pemerintah pusat pak. Bukan program pemerintah daerah", saya menambahkan. "Begitu pak ya? Baik, saya akan segera laporkan persoalan ini ke pimpinan Cabang kami di Berau pak," ujar Koordinator PLN Wilayah Sebatik itu sebelum mengakhiri pembicaraan. *** Tidak lama berselang, pemasangan jaringan listrik ke arah desa Maspul dilakukan. Tidak hanya BTS yang tersuplai listrik, Kantor Desa, Kantor Kecamatan dan Sekolah serta tentu saja rumah-rumah warga yang dilewati jaringan listrik kecipratan berkahnya. Kami tidak hanya berhasil membuat wilayah kami menjadi terang benderang, bahkan kami bisa berhubungan dan berselancar kedunia maya sekalipun, karena BTS akhirnya dapat bekerja maksimal. Terima kasih pak Kades Maspul dan Tim Kecamatan yang solid dan kompak. Kalian luar biasa.????????????

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar