SURAIDAH : BIDAN PENDIDIK YANG MENGABDI UNTUK ANAK-ANAK TKI

SURAIDAH : BIDAN PENDIDIK YANG MENGABDI UNTUK ANAK-ANAK TKI

Saya yakin, tidak pernah terbersit di benak Suraidah, dia akan diundang oleh salah satu Unit Kerja Presiden lalu didudukkan sebagai salah satu icon nasional di 2017. Sebagai salah satu icon nasional, Suraidah bersanding dan disejajarkan dengan 71 tokoh nasional yang memang telah memiliki nama dan pengakuan di bidangnya masing-masing.

Suraidah juga tidak pernah membayangkan bahwa dia akan diundang untuk menjadi salah satu nara sumber dalam talkshow inspiratif pada peringatan HUT ke-12 PT. Pertamina EP. Beliau dianggap sebagai “local hero” oleh anak perusahaan PT. Pertamina (Persero) tersebut. Bahkan perjuangan ibu satu anak ini dijadikan ilustrasi khusus Presiden Direktur PT. Pertamina EP dalam memotivasi jajaran pimpinan di lingkungan perusahaan untuk mengejar target produksi yang belum tercapai.

Suraidah juga tidak pernah mengira, jika para isteri jajaran tinggi di lingkungan PT. Pertamina EP akan rebutan ingin berfoto bersama dengan ibu berperawakan kecil tersebut. Jajaran staf PT. Pertamina EP saja mengaku “iri” melihat Suraidah didekati dan diajak foto oleh wanita-wanita hebat di balik pimpinan-pimpinan yang mereka segani itu. Suraidah sampai kebingungan melayani permintaan foto para tamu undangan lainnya, termasuk anak-anak sekolah yang hadir dalam gedung studio tersebut.

Suraidah lebih tidak pernah berkhayal akan pernah memiliki buku memoar perjalanan perjuangannya. Seperti halnya dia tidak membayangkan dirinya dan sekolahnya akan mendapat liputan khusus di majalah National Geographic edisi September 2017. Mendapat slot khusus di majalah seperti National Geographic adalah kesempatan yang langka. Melalui media itu perjuangan Suraidah dan Sekolah Tapal Batas akan menembus segmen2 pembaca yang mungkin tidak sempat mengakses isu-isu marginal seperti yang dikecimpungi Suraidah itu.

Melalui kegiatan dan aktifitasnya, Suraidah adalah gambaran filantropi sejati. Suraidah ibarat oase di padang tandus. Suraidah membangkitkan semangat dan harapan bahwa masih ada manusia yang mau memilih jalan berbeda dan tidak lazim. Pada saat manusia lain berbondong-bondonh ke kota dan mendekati pusat-pusat keramaian, Suraidah malah memilih lapangan pengabdian di tempat sepi dan terisolasi. Terbatas sinyal telekomunikasi dan bahkan tidak ada aliran listrik dan minim air bersih.

Pada saat manusia lain sibuk mengejar karir dan gaji yang lebih tinggi, dia menikmati lapangan perjuangan yang tidak menjanjikan materi maupun fasilitas. Dia tidak digaji, bahkan harta dan gajinya sebagai pensiunan dosen PNS, dibelanjakan untuk membiayai perjuangannya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejumlah apresiasi di atas adalah sejumput dampak yang Suraidah telah rasakan dan kita dapat saksikan sebagai buah dari keuletan, kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankan misi kemanusiaan, misi sosial dan dakwah yang telah dipilihnya. Mungkin tidak sebanding dengan apa yang telah disumbangkannya untuk bangsa dan negara, tapi paling tidak akan menjadi penguat baginya dan orang-orang yang berjuang bersamanya untuk semakin yakin dan tetap istiqamah meniti di atas jalan pengabdiannya.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar