SURAIDAH, PEJUANG PENDIDIKAN DARI PERBATASAN

SURAIDAH, PEJUANG PENDIDIKAN DARI PERBATASAN

suraidah saat peliputan netTV

Bagi Pemerintah dan masyarakat setempat, Hj. Suraidah, SKM, M.NSc, atau yang akrab dikenal dengan sebutan Ibu Bidan, bukanlah nama asing di Kecamatan Sebatik Tengah. Meskipun baru sekitar 3 tahun menjadi bagian dari masyarakat Sebatik Tengah, namun wanita yang merupakan pensiunan dosen dari Universitas Hasanuddin Makassar ini telah menunjukkan kiprahnya dalam upaya memajukan pendidikan dan aktifitas sosial di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah, khususnya di Desa Sungai Limau. Suraidah dalam menjalankan kegiatan bernaung di bawah Yayasan ar-Rasyid Cabang Perbatasan. Induk dari Yayasan ini cukup sukses mengelola berbagai kegiatan pendidikan, kesehatan dan segudang aktifitas social di Pulau Nunukan.

Berbagai aktifitas pendidikan yang dirintis oleh Suraidah di pulau Sebatik tersebut, saat ini, telah melembaga menjadi Sekolah Tapal Batas, dan bahkan bisa dikatakan telah bermetamorfosis menjadi Gerakan Pendidikan Tapal Batas. Sekolah ini sendiri mewadahi pendidikan formal maupun non-formal yang meliputi : PAUD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasan Diniyah (MD), Pendidikan Kesetaraan Paket A, B dan C, Pendidikan Keaksaraan Fungsional (KF), baik dasar maupun mandiri. Beberapa program pendidikan yang dikoordinasikan oleh Suraidah juga ada yang dilaksanakan di wilayah Sebatik Malaysia. Suraidah memanfaatkan kader-kader dari TKI yang memenuhi syarat (kualifikasi pendidikan) untuk menjadi tenaga pengajar di salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada di wilayah itu. Sesekali, Suraidah masuk ke wilayah Sebatik Malaysia melalui “jalan-jalan tikus” untuk memantau dan melakukan pembinaan serta evaluasi kegiatan yang dilaksanakan di sana.

Di sela kesibukannya mengelola lembaga pendidikan Sekolah Tapal Batas, Suraidah masih disibukkan dengan sejumput aktifitas pelayanan bidang kesehatan, seperti posyandu dan pelayanan kesehatan dasar di Pos Kesehatan yang mengambil salah satu ruangan yang ada di Sekolah Tapal Batas yang sangat sederhana tersebut. Suraidah juga aktif membina kegiatan BKB integrative (Bina Keluarga Balita) dan BKB Berbasis Keluarga yang pesertanya lintas desa dan bahkan lintas kecamatan.

Bersamaan dengan kegiatan di atas, Suraidah juga aktif membina para Muallaf yang sebagian besar adalah TKI atau eks-TKI. Suraidah juga harus membagi waktunya untuk membina sebuah kelompok usaha pengolahan pisang yang telah menghasilkan berbagai jenis makanan olahan dari pisang. Sebatik Tengah, memang dikenal sebagai salah satu sentra pisang terbaik di wilayah utara Kalimantan. Hampir semua pisang tersebut dijual ke Malaysia dalam keadaan mentah.

Suraidah adalah paket komplit untuk seorang aktifis social. Dia tidak banyak bicara, dia senyap dalam kesibukannya untuk berbagi kepada sesamanya. Mungkin tidaklah berlebihan jika predikat Srikandi Perbatasan pantas dilekatkan pada dirinya.

Jiwanya sosialnya yang tinggi telah mendorong Suraidah untuk meninggalkan area nyaman (comfort zone) yang mungkin diimpikan oleh sebagian besar di sisa-sisa usia sepertinya yang tidak lagi muda. Dia rela menanggalkan profesinya sebagai dosen PNS, lalu hijrah ke Nunukan memulai segalanya dari nol. Sambil membuka praktek kebidanan yang memang menjadi keahliannya, Suraidah juga membuka Tempat Penitipan Anak dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) untuk anak-anak sekitar tempat tinggalnya. Saat ini menjadi kegiatan tadi bermetamorfosis menjadi PAUD, dan merupakan lembaga PAUD yang terkemuka di Kabupaten Nunukan.

Rupanya, area nyaman memang bukan tujuannya. Perkembangan pesat lembaga pendidikannya di Pulau Nunukan belum membuatnya puas. Dia masih resah melihat dan mendengar berbagai persoalan yang ada di sekitarnya, termasuk berbagai persoalan social yang ada di Sebatik. Suraidah kemudian memutuskan untuk hijrah ke pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut untuk memulai pengabdiannya dari nol lagi. Lembaga pendidikan yang ada di pulau Nunukan, diserahkan pengelolaannya kepada puteri semata wayangnya, Rahmah.

Di awal perjalanan pengabdian dan perjuangannya di Sebatik, Suraidah membuka praktek kebidanan di tempat kostnya. Di tempat praktiknya tersebut, Suraidah melayani pemeriksaan ibu hamil dan Keluarga Berencana (KB). Namun karena jauhnya pusat layanan masyarakat, masyarakat sekitar dan khususnya para TKI, sering kali mengkonsultasikan permasalahan-permasalahan kesehatan yang mereka alami. Suraidah yang mendapatkan master kesehatannya dari salah satu lembaga pendidikan terkemuka di Thailand ini juga aktif membantu pemerintah setempat dalam pengelolaan posyandu, GSI, Desa Siaga dan kampanye serta pembentukan dasa wisma untuk warga setempat.

Tempat tinggal Suraidah yang berlokasi tidak jauh dari Pasar perbatasan Desa Sungai Limau dan hanya beberapa ratus meter dari perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, memungkinkan Suraidah untu banyak berinteraksi dengan para TKI. Para TKI tersebut biasanya keluar Desa terdekat di perbatasan pada hari-hari pasar. Di hari-hari pasar ini pulalah praktek Suraidah banyak dikunjungi pasien.

Rupanya Suraidah tidak hanya menjadi tempat konsultasi kesehatan untuk para TKI. Suraidah juga menjadi tempat luahan dan konsultasi berbagai persoalan yang mereka hadapi di tempat kerjanya di Sebatik Malaysia terutama terkait dengan masa depan pendidikan anak-anak mereka. Hubungan Suraidah dengan sebagian besar pasiennya, tidak lagi terbatas pada hubungan bidan dan pasien. Muncul solidaritas yang digerakkan kesadaran kolektif sebagai sesama perantau. Dalam kondisi seperti ini, hubungan sesama perantau tidak ubahnya hubungan kekerabatan.

 

Suraidah menjadi penasaran untuk melihat dan mengetahui langsung tempat tinggal dan permasalahan yang diceritakan oleh para TKI-TKI itu. Pada suatu waktu, Suraidah bersama salah seorang tetangga dekatnya masuk ke salah satu kongsi (base camp) para TKI yang bekerja di salah satu perusahaan terbesar yang ada di perbatasan Sebatik Malaysia. Mereka masuk melalui salah satu “jalan tikus” yang sering dilewati para TKI jika ke Sebatik Indonesia.

Temuan Suraidah selama berada di salah satu kongsi tersebut mengagetkannya. Fakta-fakta yang didengar langsung dan dilihat oleh mata kepalanya sendiri, ternyata lebih memprihatinkan dari apa yang pernah dibayangkannya. Selain menemukan banyak anak-anak usia sekolah yang belum mengenal bangku sekolah, tidak sedikit pula yang berhenti dari bangku sekolah dan membantu para orang tuanya bekerja di perkebunan majikannya. Banyak alasan yang diberikan; ada yang beralasan tidak ada sekolah yang disiapkan oleh perusahaan maupun pemerintah Malaysia untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak mereka; ada pula yang tidak tega melihat anak-anaknya berjalan berkilo-kilo meter setiap harinya untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terdekat di perbatasan Sebatik Indonesia; dan ada pula yang merasa anaknya telah mendapat pendidikan yang cukup karena sudah bisa baca tulis. Bagi mereka, sekolah hanyalah tempat untuk belajar baca tulis, tidak lebih. Toh pada akhirnya, pekerjaan yang disiapkan Pemerintah Indonesia bagi anak-anak terdidik tidak memadai dan tidak cukup mengakomodasi bagi anak-anak mereka yang terdidik sekalipun. Bagi mereka, Malaysia adalah masa depan bagi keturunannya. Di Malaysia, pekerjaan cukup tersedia, bahkan untuk anak-anak di bawah umur sekalipun.

Suraidah juga menemukan kasus-kasus pernikahan di bawah umur. Bagi sebagian orang tua yang pendidikannya tidak seberapa itu, bahkan beberapa di antaranya tidak berpendidikan sama sekali, menikahkan anaknya adalah salah satu cara untuk mengurangi tanggungjawab dan bebannya. Selain itu, karena minimnya pengetahuan dan informasi terkait kesehatan reproduksi, kelahiran di kamp-kamp TKI tersebut menjadi tidak terkontrol. Tidak sedikit yang di antaranya yang beranak pinak, meskipun dengan penghasilan yang tidak memadai.

Kehidupan para TKI tersebut, di mata Suraidah, jauh untuk dikatakan sejahtera. Mereka ditempatkan di kongsi-kongsi yang secara standar kesehatan kurang layak. Satu pintu dengan ukuran 4 X 5, ditempati lebih dari satu kepala keluarga.

Mereka juga mengeluhkan rendahnya daya tawar mereka dengan perusahaan. Jika buah tandan sawit tidak memadai, mereka dirumahkan tanpa kompensasi atau bahkan di PHK sepihak tanpa bisa berbuat apa--apa. Itulah sebabnya, penghasilan mereka sering kali tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Hutang mereka tidak pernah habis di koperasi perusahaan di mana mereka diwajibkan berbelanja setiap bulannya dengan nominal minimal tertentu.

Sering kali antara nominal gaji yang ditandatangani dan yang diterima berbeda. Gaji mereka mengalami pemotongan dengan berbagai alasan yang mereka sendiri tidak mengerti. Perusahaan juga mengenakan potongan administrasi keimigrasian yang juga mereka tidak fahami, setiap bulannya. Potongan itu diberlakukan baik kepada TKI illegal maupun legal.

Fakta juga menunjukkan bahwa sebagian TKI yang bekerja di Sebatik Malaysia merupakan TKI illegal. Meskipun ada di antara mereka yang telah tinggal dan menetap dua hingga tiga generasi di wilayah itu, sebagian besar isteri dan anak-anak TKI itu tidak memiliki dokumen keimigrasian. Bahkan tidak sedikit di antaranya tidak identitas kependudukan (KTP dan KK) sama sekali. Tidak heran, jika ada operasi yustisi (sweeping), para TKI illegal dan keluarganya itu umumnya mengungsi atau bersembunyi di wilayah perbatasan Indonesia yang memang tidak begitu jauh dari tempat yang disiapkan perusahaan untuk mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menetap atau menyewa di rumah-rumah warga yang ada di sepanjang perbatasan Indonesia. Pada saat situasi, normal barulah mereka kembali ketempat kerjanya masing-masing di wilayah Sebatik Malaysia.

Selain banyak di antara TKI tersebut tidak memiliki identitas kependudukan, tidak sedikit di antara mereka yang menikah di bawah tangan sehingga tidak memiliki Surat Nikah. Konsekwensinya, anak-anak mereka yang lahir dari buah pernikahan di bawah tangan tersebut tidak dapat diterbitka akte kelahirannya. Implikasi dari tidak adanya identitas kependudukan dan akte kelahiran tersebut akan terasa pada anak-anak mereka memasuki bangku sekolah. Akte kelahiran menjadi salah satu syarat yang harus diserahkan ke pihak sekolah. Akte kelahiran adalah dokumen pendukung untuk klaim usulan pembiayaan sekolah melalui program bantuan dana BOS dan bantuan-bantuan lainnya.

Suraidah juga dititipi beberap pesan oleh para TKI untuk disampaikan kepada pemerintah setempat. Salah satunya, mereka mengharapkan agar pemerintah dapat menyiapkan angkutan sekolah, dari perbatasan negara ke sekolah-sekolah terdekat mereka di perbatasan untuk anak-anak mereka. Selama ini, anak-anak TKI yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah terdekat di sepanjang perbatasan pulau Sebatik Indonesia harus berjalan kaki ke sekolah. Rata-rata jarak yang harus mereka tempuh antara 4 s.d 5 km. Perjalanan tersebut mereka tempuh antara 1,5 s.d 2 jam sekali jalan atau 3 hingga 4 jam pulang pergi. Pada kondisi cuaca yang tidak mendukung, kebanyakan anak-anak TKI tersebut bahkan tidak pergi kesekolah. Selain jarak, medan yang mereka harus lewati juga sangat berat, berbelok dan berbukit serta licin. Setidaknya, menurut mereka, dengan adanya angkutan sekolah tersebut, maka jarak yang harus ditempuh anak-anak berjalan kaki akan berkurang dan anak-anak akan lebih cepat tiba di sekolah. Dengan adanya angkutan sekolah itu nantinya, persoalan cuaca tidak akan mempengaruhi tingkat kehadiran anak-anak mereka ke sekolah.

Apa yang ditemukan Suraidah, dengan cepat dilaporkannya ke Pemerintah setempat. Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa, menjadi lebih memahami kompleksitas permasalahan para TKI yang bekerja di sepanjang perbatasan negara itu. Selama ini, Sebatik Tengah menjadi pintu keluar masuk TKI dari dan ke Sebatik Malaysia, namun keberadaan mereka di Sebatik Malaysia tidak banyak terungkap. Hal tersebut dapat difahami mengingat secara hukum, wilayah kerja kecamatan dan desa memang berada dalam wilayah yuridiksi negara Indonesia. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan TKI dengan segala permasalahan tersebut mempengaruhi kehidupan social, pemerintahan dan ketentraman dan ketertiban wilayah kecamatan terluar tersebut. Dinamika penduduk dengan segala dampaknya menjadi sulit dikendalikan.

Pemerintah Kecamatan dan Desa bersama Suraidah kemudian mendiskusikan temuan-temuan tersebut dan merancang langkah tindak lanjut. Data dan informasi tersebut juga dijadikan bahan laporan oleh Pemerintah Kecamatan kepada Bupati dan kementerian/lembaga terkait.

Sebagai tindak lanjut dari temuan dan identifikasi masalah tersebut, maka melalui dukungan penuh dari pemerintah desa dan kecamatan setempat, Suraidah kemudian membuka kegiatan Pendidikan Anak Usia Dinai (PAUD). Tutornya direkrut dari relawan-relawan yang banyak membantu Suraidah dalam mengidentifikasi masalah. PAUD tersebut menempati ruang berukuran 4 X 4 yang dipinjamkan oleh salah satu warga yang bersimpati dengan gerakannya.

Selanjutnya, Suraidah juga mengidentifikasi masih tingginya angka buta huruf di lingkungan desa tempat tinggalnya. Bersama dengan PKK Desa dan Kecamatan, tidak lama berselang, Suraidah melaksanakan program keaksaraan fungsional untuk melakukan pemberantasan buta huruf. Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan. Kegiatan yang terbagi atas 16 kelompok ini diikuti oleh sekitar 160 warga. Gerakan ini mampu menurunkan angka buta huruf di Desa Sungai Limau secara signifikan. Desa Maspul melalui gerakan ini, bahkan mampu menurunkan angka buta huruf diwilayahnya hingga menjadi nol persen. Pada tahun 2015, program KF tersebut juga menyentuh Desa Aji Kuning. Saat ini, Desa Aji Kuning juga tercatat telah mengikuti jejak Desa Maspul dan Sei Limau. Angka Buta huruf di Desa yang terkenal dengan Patok Tiganya juga tercatat 0%.

Setelah sukses dengan KF-nya, Suraidah kemudian diminta untuk melanjutkan program KF ke program Keaksaraan Mandiri. Selanjutnya, Suraidah diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional, untuk membantu menyelenggarakan gerakan Desa Vokasi. Suraidah kemudian membentuk satu keompok yang semuanya adalah ibu rumah tangga. Kelompok ini kemudian dilatih untuk mengolah bahan baku yang ada disekitarnya menjadi bahan makanan olahan yang memiliki nilai tambah ekonomi. Mengingat komoditas bahan baku yang mudah ditemui di Desa Sungai Limau dan sekitarnya adalah buah pisang, maka kelompok ini kemudian dilatih untuk mengolah pisang ini menjadi berbagai produk olahan. Beberapa hasil olahan kelompok ini yang cukup diminati pengunjung antara lain : nasi pisang, tepung pisang, kripik pisang berbagai rasa, kripik kulit pisang, dan kripik jantung pisang.

Semangat, Jiwa Pengorbanan, Keikhlasan Terpancar di wajahnya.

Sebagai manusia biasa, Suraidah pernah hampir putus asa. Hal itu diakuinya sendiri. Namun berkat perenungan dan kemampuan motivasi dirinya sendiri, dia kembali dapat bangkit untuk tidak terjerembab pada keputusasaan. Dukungan moril dari masyarakat yang bersimpati, khususnya TKI yang membutuhkan kehadirannya, perhatian Pemerintah Desa dan Kecamatan, serta kehadiran Dompet Duafa yang banyak membantu program dan berbagai kegiatannya, diakuinya menjadi alasan penguat untuk dia terap bertahan ditengah keterbatasannya hingga saat ini.

Kesederhanaan adalah gaya hidupnya. Bagi pensiunan dosen tersebut, harta baginya adalah alat perjuangan dan pengabdian untuk jalan Allah. Rumah yang dia bangun di Makassar, tempat kelahirannya, hasil jerih payahnya sebagai dosen bertahun-tahun lamanya, bahkan pernah rencana dijual untuk membiayai kegiatannya. Kita juga tidak tahu, mungkin saja asset-aset yang tidak seberapa yang berhasil dikumpulkan selama menjadi Dosen di tanah kelahirannya, Sulawesia Selatan, telah dijual ataupun digadai untuk membiayai perjuangannya. Untuk yang terakhir ini, Suraidah cukup tertutup. Mungkin dia tidak mau pahala keikhlasannya akan berkurang hanya karena bercerita kepada orang lain apa saja yang telah dikorbankannya. Yang dapat dibaca dari ekspresi wajah dan gerak tubuhnya, dia menemukan lapangan pengabdian yang sesungguhnya. Mungkin itu yang disebut kepuasan bathin. Bukan lagi pada tataran konsep dan teori seperti yang selama ini dia ajarkan di Unhas. Apa yang dilakukannya sudah lebih subtantif meskipun mungkin fisiknya lelah, hartanya satu persatu terkuras. Namun pancaran jiwa dan semangatnya menggambarkan, jiwanya tidak pernah lelah. Semangat dan asanya tetap membara, meskipun tidak jarang kristal air mata terlihat di kelopak mata ketika dia menceritakan pencapaian-pencapaian perjuangannya.

Benih air mata muncul kala dia bercerita tentang kesyukurannnya karena apa yang dia lakukan mungkin mendapat apresiasi dari beberapa lembaga dan individu yang bersimpati. Meskipun apresiasi dan pujian bukan tujuannya, tapi hal tersebut dijadikkannya barometer untuk mengukur bahwa apa yang dilakukan nyabersama para kadernya dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitarnya.

Suraidah sesekali mengepresikan kebahagiaannya karena anak-anak didiknya mengalami progress atau melampaui apa yang dia harapkan; bahagia karena dia mendengar janji dari seorang atau beberapa pejabat bahwa gedungnya akan segera dibangun; karena dia diberi perpanjangan waktu untuk bisa menempati ruangan pinjamannya; atau mungkin hal-hal sederhana dan kecil bagi kita yang berjiwa kerdil, tapi besar artinya baginya.

Kadang butir air mata juga bisa terlihat dari matanya tatkala dia bercerita tentang beberapa target atau rencana yang belum berjalan sesuai harapannya. Tatkala timbuk kekhawatiran bahwa gedung PAUDnya akan diminta sewaktu-waktu oleh pemiliknya, khawatir tidak bisa membayar honor para guru dan tutor-tutornya tepat waktu; khawatir tanah hibah akan diambil kembali oleh pemilikinya apabila tidak segera dibangun atau mungkin karena hal lainnya yang mungkin sangat berat untuk dipikulnya. Tapi air mata itu tidak pernah sampai jatuh. Hanya sampai dikelopak mata. Dia tahan, dia sembunyikan. Dia berusaha tegar lagi. Dia tidak mau kelihatan lemah. Dia mau tangannya di atas, dalam memberi ilmu dan pengabdian. Dia melakukan itu, bukan karena dia tidak punya pekerjaan. Dia melakukan itu, karena di situlah kepuasan bathinnya. Dia belum puas dengan apa yang telah dilakukannya, dia masih ingin berbagi.

Jauh dilubuk hatinya, Suraidah punya mimpi untuk memiliki lembaga pendidikan sejenis pesantren dengan system asrama (Islamic Boarding School). Suraidah berpendapat bahwa model boarding school sangat sesuai untuk menangani pendidikan anak-anak TKI di perbatasan. Suraidah berpendapat bahwa anak didik tidak hanya memerlukan pengetahuan, tapi juga pendidikan karakter. Pesantren diyakini Suraidah sangat tepat untuk pendidikan karakter anak didik.

Memaknai Kebutuhan Prioritas

Kebutuhan paling mendesak yang dirasakan saat ini adalah sarana gedung baik untuk gedung belajar mengajar maupun gedung penyelenggaraan administrasi dan sekaligus tempat tinggal penyelenggara. Bagi Suraidah jika tidak satu gedung, setengah gedung pun jadi, yang jelas dapat dimanfaatkan untuk dia berteduh mengelola kegiatan dan aktifitasnya. Gedung pinjaman yang saat ini ditempati mengelola berbagai aktifitas sosialnya sudah berjalan dua tahun dari tujuh tahun perjanjian dengan pemiliknya. Oleh sebab it disamping harus berkonsentrasi melakukan pembinaan, pendidikan dan aktifitas sosialnya yang lain, Suraidah juga tidak hentinya mencari tempat alternative untuk berlangsungnya kegiatan ajar mengajar yang lebih representative kedepannya.

Sebenarnya, Sekolah Tapal pernah mendapatkan hibah lahan seluas 1 Ha dari salah satu warga. Di atas lahan tersebut rencananya segala kegiatan dan aktifitas pendidikan baik formal maupun non-formal akan dipusatkan. Namun karena lembaga pendidikan yang dicita-citakan Suraidah tidak kunjung dibangun, maka lahan tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.

Apa yang dilakukan oleh Suraidah, perlahan mulai mendapat simpati dan dukungan dari berbagai pihak. Dompet Dhuafa adalah salah satu lembaga yang konsisten mendukung dan mendampingi pengembangan Sekolah Tapal Batas hingga kini. Karena kehadiran Dompet Dhuafa pula, Suraidah mampu menggratiskan semua biaya pendidikan dan biaya hidup siswa yang dititipkan di Sekolah Tapal Batas.

Apa yang dilakukan oleh Suraidah dan prestasi-prestasi yang ditunjukkan oleh Sekolah Tapal Batas, kini mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah, terlebih setelah kisah Sekolah Tapal Batas diangkat dalam film documenter di salah satu televisi swasta dan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu film favorite pilihan dewan juri. Kementerian Agama misalnya, tahun 2016 ini akan membantu pembangunan ruang belajar bagi siswa MI dan MD di lahan hibah seluas 2 Ha yang terletak di perbatasan. Secara bertahap, Kementerian Agama berkomitmen untuk membantu pembangunan dan pengembangan Sekolah Tapal Batas sehingga menjadi sekolah model dan unggulan di perbatasan.

Pemerintah Daerah, di tahun sebelumnya (2015) juga telah membangun dua local kelas untuk PAUD-nya. Diperkirakan, pembangunan PAUD tersebut akan rampung di tahun 2016 ini. Rencananya, siswa-siswa PAUD yang terdiri dari dua kelas dan saat ini berbagi ruangan dengan siswa MI dan MD di Sekolah Tapal Batas akan dipindahkan di tempat yang baru.

Bidan Suraidah, mungkin tidak pernah membayangkan, bahwa apa yang dia lakukan bersama kader-kadernya akan menggaung sedemikian rupa. Tapi jika mencermati sekilas perjalanan hidup, perjuangan, kesabaran dan keikhlasannya dalam memperjuangkan nilai-nilai yang dianggapnya benar, hal itu tidak diperolehnya gratis. Mungkin inilah yang dimaksud dengan frase dari orang bijak “MAN JADDA WA JADA” (Siapa bersungguh-sungguh, maka pasti dia dapat alias berhasil).

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar