WISATA TUKAR FIKIRAN

WISATA TUKAR FIKIRAN

Tidak seperti biasa, kalau ke Sebatik, diamnya di rumah bercengkrama dengan anak-anak. Siang hari ini menjelang sore (Minggu), saya menemui keluarga dan beberapa teman lama di Kec. Sebatik Tengah. Ada beberapa informasi ingin saya gali, dan beberapa rumor yang ingin saya konfirmasi.

***

Mengemudi mobil innova yang saya pinjam, saya dan kedua anak laki-laki saya serta seorang rekannnya, meninggalkan rumah. Segera setelah kami menunaikan solat fardhu zuhur. Kali ini, puteri saya, Alika, tidak ikut ke Sebatik. Katanya, dia takut mengarungi selat yang membelah pulau Nunukan dan Sebatik. Bulan Agustus, gelombang memang lebih besar dari biasanya.

Tujuan pertama, saya menuju kediaman Bapak Suparman di Desa Aji Kuning. Sayangnya yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah. Sedang berada di kebun, kata anaknya.

Saya lanjutkan ke Rumah Pak Sunardin. Alhamdulillah pria yang biasa dipanggil Pak Sunar itu sedang berada di kediamannya.

Baru saja saya duduk, buah rambutan segar yang masih lengkap dengan tangkainya dihidangkan di atas meja. Di Sebatik memang lagi sedang musim buah sekarang, khususnya buah durian. Tapi buah-buah lain juga ada. Seperti buah rambutan yang berada di hadapan saya siang ini.

Kepada Pak Sunar, saya konfirmasi kabar burung terkait dihentikannya lalu lintas barang dan orang dari dan ke Sebatik Malaysia. Sebagai orang perdagangan, saya perlu tahu hal-gal seperti ini.

Menurut Pak Sunar, aktifitas lintas batas di wilayahnya berlangsung seperti biasa. Menurutnya, memang ada beberapa penyesuaian, mengingat petugas pengamanan perbatasan baru saja berganti. Tetapi secara umum masih berlanjut.

Saya juga meminta informasi lokasi pasar yang akan dibangun Pemerintah Malaysia di wilayah Sebatik Malaysia. Pak Sunar tidak bisa menunjukan pasti. Tapi seperti yang saya juga dengar dari pembicaraan warga, lokasinya, menurut pak Sunar, ada di wilayah Kg. Melayu. Wilayah dimaksud berbatasan langsung dengan Desa Seberang di Kec. Sebatik Utara.

Kepada pak Sunar, saya ingin memastikan apakah betul harga durian tahun ini anjlok. Menurutnya, harganya memang tidak seperti tahun sebelumnya. Hal tersebut terjadi karena di Tawau Sabah juga sedang musim buah. Implikasinya, durian asal Sebatik menjadi pilihan berikutnya.

Orang kedua yang saya sambangi adalah Kepala Desa Maspul, Bapak Agussalim. Kepadanya, saya lontarkan pertanyaan yang hampir sama.

Berikut beberapa informasi fakta dan fenomena yang saya serap dari pak Agus.

1. Sebagai strategi promosi dan pemasaran terhadap potensi buah-buah yang dihasilkan warganya, pihaknya telah menggelar Gebyar Buah Perbatasan yang dihadiri oleh pejabat-pejabat dari Nunukan. Kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa, baik dari warga masyarakat umum, dan terlebih-lebih petani buah. Buah yang mereka jual, ludes habis. Karena itu, kegiatan serupa akan menjadi agenda tahunan di desanya.

2. Musim buah di Sebatik kali ini bersamaan dengan musim buah di Tawau maupun di pulau Nunukan. Kualitas buah juga tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Sebab itulah, dirinya dapat memahami jika harga buah durian tahun ini tidak seperti yang diharapkan.

3. Pak Agus sepakat bahwa memang dibutuhkan kreatifitas agar buah-buahan yang ada di wilayahnya dapat bersaing dan memberi nilai tambah ekonomi bagi warganya. Apalagi dengan munculnya pesaing.

4. BUMDes Desa Maspul, kini mengembangkan usaha burung walet. Selain itu, juga memberi pelayanan Simpan Pinjam (SPP)

Kepada Pak Sunar dan Pak Agus, saya sampaikan beberapa usul saran sebagai berikut :

1. Mengingat adanya perkembangan regulasi dan kebijakan, khususnya yang terkait perdagangan lintas batas yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia maupun Malaysia, maka saya sarankan agar warga dapat didorong dan diberi edukasi terkait dengan bidang usaha non tradisional dan tidak ilegal. Tidak ada salahnya misalnya, pengusaha yang menggeluti perdagangan tradisional saat ini, juga didorong untuk membentuk badan usaha. Contoh, mendirikan usaha perdagangan bidang eksport/import. Jadi ketika jalur tradisional dibatasi nantinya, ada alternatif pilihan lain.

2. Budidaya durian juga sudah ditekuni oleh masyarakat pulau Nunukan. Demikian juga masyarakat Nunukan yang ada di daratan pulau Kalimantan. Ini menandakan buah durian sebatik telah memiliki kompetitor. Implikasinya, warga dari luar pulau Sebatik yang datang hanya untuk menikmati buah durian, tidak akan signifikan lagi. Sebab, buah serupa juga mudah ditemukan di wilayahnya masing-masing.

Kualitas dan harganya juga bersaing. Bahkan kadang-kadang lebih murah. Jika ada daya tarik lain yang bisa disajikan bersama buah durian, pasti akan lebih baik.

Saya sarankan agar festival buah atau semacamnya dapat dilanjutkan. Kalau boleh, sepanjang musim buah berlangsung. Dapat berbentuk kontes buah durian, lomba pengolahan makanan berbahan dasar durian, bazar makanan berbahan durian atau kreatifitas lainnya.

Agar tidak monoton, selain variasi kegiatan, tempat penyelenggaraan juga sebaiknya dilakukan bergiliran (dibuat kalender kegiatan) dari satu desa ke desa lainnya. Kegiatannya, saya kira, dapat dianggarkan melalui DD.

Kalau ide itu bisa diterima tahun ini, kegiatannya dapat dimasukkan dalam Renja Desa di tahun depan. Jika kegiatan seperti ini mampu menghadirkan banyak wisatawan, mungkin tidak susah untuk menggaet dukungan sponsorship dari perusahaan atau perbankan.

Saya juga sarankan agar Desa-Desa (melalui DDnya) dapat memberikan dukungan pengembangan usaha industri pengolahan makanan (home industry) berbahan dasar durian. Misal : dempok atau keripik durian. Seingat saya, pada saat menjabat Camat, hal seperti ini sudah pernah dilakukan di Desa Maspul. Hasilnya, mendapat pujian dari banyak tamu-tamu yang berkunjung.

Sayangnya, saya tidak lagi melihat kelanjutannya. Dengan digelarnya ragam kegiatan yang membutuhkan bahan dasar durian, maka permintaan terhadap buah durian Sebatik akan tetap baik. Dengan sendirinya, akan berimplikasi pada perbaikan harga di tingkat petani. Selain itu, produk turunan durian juga akan dapat dinikmati dalam waktu yang lebih lama, bahkan hingga beberapa bulan setelah musim durian berakhir.

Kelebihan lainnya, dalam keadaan kualitas buah durian tidak terlalu maksimal (seperti yang saya lihat saat ini), buah durian yang tidak berkualitas baik, tidak seluruhnya dibuang. Isi durian yang bagus, dapat dipilah dan diselamatkan untuk selanjutnya diolah menjadi aneka produk turunan berbahan baku durian yang bernilai ekonomis.

3. Terkait dengan BUMDes. Saya ikut senang mendengar BUMDes Maspul sudah memiliki bisnis yang jelas. Lebih dari itu, saya juga menyarankan agar BUMDes yang ada tidak hanya latah dengan bisnis yang lagi sedang tren.

Menurut hemat saya, selain orientasi bisnis alias profit, seperti halnya BUMN atau BUMD, BUMDes juga seharusnya memiliki misi sosial dan pemberdayaan. Mengapa tidak coba menggarap bisnis yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat?

Saya berikan ilustrasi bisnis rumput laut. Pada saat pengusaha rumput laut semakin banyak (termasuk eksportir) memasuki bisnis ini, harga rumput laut mengalami perbaikan yang signifikan. Saya yakin, jika BUMDes misalnya, bisa terjun di pemasaran buah pisang, saya pastikan harga pisang akan lebih stabil dan semakin membaik. Karena dengan misi sosial dan pemberdayaannya, BUMDes dapat menyerap pisang petani dengan harga yang lebih kompetitif sesuai harga pasar yang sebenarnya. Jika itu terjadi, maka pengumpul lain pasti akan melakukan penyesuaian harga. Dengan adanya hal-hal seperti ini, maka yang diuntungkan bukan saja BUMDes, tapi juga masyarakat luas.

4. Pak Agus juga menceritakan terkait rencana pembangunan pasar oleh Pemerintah Malaysia di perbatasannya, lengkap dengan petugas dan fasilitas CIQSnya. 

Menurutnya, sepertinya Malaysia serius dengan rencananya tersebut. Mereka berharap, orang-orang Indonesia akan ramai-ramai berbelanja di wilayahnya.

Terkait informasi ini, saya katakan bahwa itulah politik pemerintah Malaysia. Mereka tiba-tiba saja mau bangun pasar di perbatasannya. Dan itu, tidak pernah dibicarakan dengan Indonesia. Pada hal setahu saya, kaitannya dengan perdagangan perbatasan, harus melalui kesepakatan dua negara. Masalahnya ini menyangkut hal, salah satunya menyangkut tempat perlintasan (CIQS).

Menurut saya, "inovasi"  yang mereka sebut sebagai "one stop market" tersebut tidak perlu ditandingi dengan inovasi serupa. Apa yang mereka tiba-tiba mau lakukan itu, menurut saya, adalah reaksi terhadap pembangunan jor-joran yang dilakukan pemerintah Indonesia di Pulau Sebatik. Ini pertanda baik terhadap posisi tawar Indonesia di mata negara tersebut.

Sebatik tidak perlu ikut-ikutan untuk membangun pasar fisik seperti yang dibangun Malaysia. Posisi geografis, potensi alam, etos kerja penduduknya, kekayaan sosial dan budaya dan potensi lainnya merupaka  kekuatan yang sebaiknya dikemas menjadi pasar besar.

Kata kunci selanjutnya ada di tangan desa-desa dan kecamatan-kecamatan yang ada di Pulau Sebatik. Bagaimana potensi-potensi tersebut diaktualkan dalam bentuk atraksi dan destinasi menarik dan menawan. Jika gerakan ini didukung dengan tatalaksana lintas batas yang lebih "smooth", mungkin saja warga Malaysia yang datang berbelanja atau berwisata ke Sebatik Indonesia.

Kenapa Desa? Karena desa yang memiliki penduduk dan wilayah, dan lebih mengenali kebutuhan pengembanhan wilayah dan warganya. Desa juga memiliki anggaran (Dana Desa) Dana desa memang diperuntukan untuk membangun dan mengembangkan potensi desa sesuai karakteristik desa, aspirasi dan kebutuhan warganya. Jika itu terjadi, maka saya yakin akan terjadi arus transaksi barang dan jasa yang dapat mensejahterakan penduduk di wilayah Sebatik. Bukankah substansi pasar itu ada pada transaksi dan pertukarannya?

***

Saya kurang tahu, apakah ide-ide liar saya ini masuk di akal pak Agus. Yang saya lihat, pak Agus banyak mengangguk. Hanya saja, saya tidak bisa pastikan, apakah anggukan setuju atau sebaliknya. ????????????

Selamat berfikir pak Agus. Semoga Tuhan meridhoi apa yang Bapak fikirkan.???????????? Buah fikiran sudah saya tuangkan. Sekarang saya mau memikirkan yang lain lagi????????????

 

Nunukan, 4 Agustus 2019

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar