WISDOM TERKUBUR BERSAMANYA

WISDOM TERKUBUR BERSAMANYA

Di Makam Paman

  1. Sore ini, seperti biasa, aku menyetir mobil avanza hitam pinjaman pemerintah daerah dari kantor Bupati menuju ketempat kediamanku di kota. Sementara berada di balik setir mobil dinas itu, tiba-tiba saja terlintas dibenakku konsep wisdom (kebijaksanaan). Orang yang memiliki sifat ini, lazim disebut orang bijak/bijaksana. Entah kenapa, aku pribadi melihat bahwa konsep ini tampaknya akan semakin jauh dari bumi. Orang-orang bijak pun sepertinya hanya bisa ditemui di dalam sejarah atau cerita-cerita rakyat di negeri utopia. Kesimpulan sementaraku, manusia bijak semakin sangat langka.

Tidak terasa, aku telah berada di dekat Kantor Gadis II (Gabungan Dinas-Dinas), kira-kira sepertiga perjalanan, aku sudah akan tiba di rumah. Tiba-tiba, aku merasa perlu sowan kepada seseorang yang pernah mencontohkan bentuk dan praktik kebijaksanaan. Sayangnya, tidak akan terjadi dialog seperti dulu, tapi biarlah monolog saja.

Mobil hitam itu kubelokkan ke arah kiri, tepat dijalan semenisasi di depan salah satu kantor yang paling megah di salah satu kompleks perkantoran Pemerintah Daerah itu, mendekat ke kompleks lain, kompleks pemakaman umum.

Kusisir sisi utara pemakaman itu untuk mencari satu nama. Langkahku tiba-tiba terhenti di dekat salah satu tumpukan tanah berbentuk kotak persegi panjang yang dibungkus tehel berwarna hijau. Kembali ku cari penanda itu, dan berhasil kutemukan nama yang tidak asing itu. Tertulis dengan tinta berwarna emas, di atas tehel berwarna hitam pekat, A. Damis Petta Watang, Wafat : 27-02-2014

Segera kududuk bersimpuh di tepi makam itu. Kucabuti rerumputan yang tumbuh di sekitar batu nisan yang mulai meninggi, petanda jika beberapa purnama makam ini tidak ada yang mengunjungi. Lalu kubaca bait-bait doa yang kuingat sebagai hadiah dari seorang anak untuk orang tuanya yang terasa begitu dekat.

Dengan segala kekurangannya sebagai manusia biasa, adik bungsu dari ayahku ini begitu besar jasanya kepadaku. Selain pernah mencontohkan dengan apa yang aku sebut sebagai sebuah model kebijaksanaan, omku inilah yang berjasa sehingga aku berada di pulau ini. Orang inilah yang pernah “memaksaku” sehingga aku menjadi bagian dari anggota korps pegawai negeri ini. Sementara aku masih berhayal tentang cita-cita yang lain, almarhum terus menghubungiku agar aku ikut mencoba keberuntungan di pendaftaran PNS yang segera akan dibuka saat itu, di pulau yang begitu jauh, pulau Nunukan.

Menjelang akhir hayatnya, almarhum berbeda pandangan dengan salah satu teman akrabnya. Aku menyimpulkan sebagai teman akrab, dari cara dia menggambarkan pertemanannya dengan salah satu tokoh masyarakat setempat itu. Perbedaan itu terjadi pun karena almarhum memperjuangkan nasib salah satu teman dekatnya yang lainnya. Hebatnya, tidak sekalipun almarhum mempengaruhi keluarga dekatnya untuk masuk dalam lingkaran “perseteruan” itu. Pujian almarhum kepada teman yang beralih menjadi lawan politiknya itu, tidak berubah. Dia masih selalu menceritakan kelebihan-kelebihan dan sifat mulia mantan temannya itu.

Suatu ketika, aku bertanya “Ta, kenapa kita sampai tega berbeda pilihan dengan teman dekat ta’? “Saya juga tidak menyangka, kalau Aji (Pak Haji) tidak memilih dia menjadi calon,” jawabnya datar. “Saya sudah komitmen untuk membantunya (teman yang satunya) dan komitmen tidak mungkin saya hianati,” raut wajahnya mulai serius. “ada pesannya kakekmu yang selalu saya ingat yang begini bunyinya ‘adae-mi tu tau’ (kata-kata menunjukkan siapa kita)”, tuturnya dengan sedikit tekanan pada kata-katanya. “Keduanya teman dan orang baek, tapi saya harus membuat pilihan berada di antara salah satunya dan tidak mungkin saya memilih keduanya karena itu laki-laki tidak punya prinsip namanya,” tambahnya agak serius. “Tapi saya berbeda pandangan saja, soal silaturrahmi tidak boleh putus, apalagi kita sama-sama perantau; dan saya sudah minta izin untuk kali ini berbeda pilihan, dan saya janji dalam hati bahwa pada hal-hal lain, akan tetap membantunya,” nada suaranya kembali datar.

Setauku, sampai akhir hayatnya, almarhum tidak sempat bekerjasama lagi dengan temannya itu. Selain kondisi kesehatan almarhum yang menurun tajam pasca kebakaran yang menghanguskan rumah tempat tinggalnya bersama puluhan rumah lain di Sei Bolong, beliau juga kelihatannya tidak ingin dicap kutu loncat. Namun satu keistimewaannya, pada suatu saat ketika mantan temannya seperjuangannya itu dirawat di Rumah Sakit, almarhum masih menyempatkan diri untuk menjenguknya.

Ini sebuah contoh wisdom dari seorang yang pernah aku kenal, yang tidak banyak orang yang bisa mempraktekkannya. Dan aku berharap untuk masih dapat menyaksikan praktik-praktik wisdom semisalnya dari para orang tua dan bahkan pemimpin kita di negeri tercinta ini. Sebab, orang bijak tidak akan mudah iri, hasad, dengki dan bahkan tiada dendam dalam kamus hidupnya. Kita butuh ruang kosong untuk menjauh dari itu semua, sebab itu sumber segala penyakit baik penyakit rohani maupun jasmani.

Alfatihah buatmu Pamandaku Andi Damis Petta Watang. Semoga kuburmu dilapangkan, dosa-dosamu diampuni, kebaikan-kebaikanmu diganjar dengan pahala, ridho Allah dan surgaNya. Dan semoga aku dapat memanfaatkan wadah pengabdian yang telah engkau “bukakan pintunya” untuk menjadi manusia dan abdi yang bermanfaat, syukur-syukur bisa mewarisi wisdom seperti yang telah engkau contohkan itu. Aaamiiin.

Dipost Oleh Harman

Menulis untuk mengabadikan diri...

Post Terkait

Tinggalkan Komentar